Hadirnya 'Orang Ketiga' di Antara Kita
Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak ada manusia yang sempurna. Manusia tempatnya salah dan lupa. Dalam pandangan manusia, suatu saat akan datang era, ketika kesempurnaan itu milik “orang ketiga” yang hadir dalam kehidupan kita.
Dalam sebuah keluarga, khususnya pasangan suami istri, sumber munculnya konflik, pertengkaran bahkan perpecahan, kerap dialamatkan pada hadirnya orang ketiga. Orang ketiga ini diposisikan sebagai tersangka. Sehingga, kondanglah istilah pelakor, perebut laki orang. Juga tentunya pebinor, perebut bini orang, meskipun ini tidak populer.
Tetapi tidak bagi Darris Maxie dan Shelly, suami istri asal Amerika Serikat. “Orang Ketiga” yang harus diketik dengan tanda kutip, justru diakui sebagai penyelamat. Dia bernama Camila. Jelas, bukan Camilla Parker Bowles, orang ketiga yang kerap disudutkan atas terjadinya kegagalan penikahan Pangeran Charles dan Lady Diana.
Camila ini bukan pelakor. Ia adalah robot humanoid. Manusia palsu, berjenis kelamin perempuan dengan kulit sintetis. Dukungan artificial intelligence memberinya kemampuan menciptakan perilakunya sendiri. Sehingga ia diajak mandi, ke kantor dan diajak tidur bertiga. Yang bikin tercengang, dia dinilai oleh pasangan tersebut "Dia mampu diajak ngobrol. Dia juga memahami perasaan manusia”
Kepercayaan saya bahwa robot selamanya hanyalah makhluk yang bertingkah mekanis dan rasional, mau tidak mau menjadi sedikit goyah. Diam-diam terbuka pikiran, kemungkinan-kemungkinan “orang ketiga” ini hadir dalam kehidupan manusia, hadir nyata dalam keluarga dalam wujud yang sempurna.
Generasi TVRI mungkin masih ingat serial Small Wonder. Robot android berupa seorang gadis 10 tahun, bernama Vicky. Mulanya diciptakan oleh Ted Lawson untuk membantu anak-anak cacat, lalu “proyek kantor” tersebut dibawa pulang untuk terus disempurnakan sehingga bisa “matang” dalam lingkungan keluarga. Untuk menghindari kecurigaan tetangga dan para tamunya, Vicki diakui sebagai gadis yatim yang diadopsi sebagai putri mereka.
Itu kali pertama kali, saya mendapatkan imajinasi sebuah keluarga yang mengadopsi robot untuk hadir dalam keluarga mereka. Seringkali timbul kekonyolan dan bahkan dukungan kehangatan yang mirip atau sama dengan manusia.
Mesin dan robot dicipta manusia karena dipercaya dan terbukti lebih cepat, akurat, tidak mengeluh, lebih presisi, lebih kuat, tahan dari rasa lelah. Manusia percaya, ke depan kemungkinan robot-robot akan semakin sama dengan manusia, bukan hanya teknis dan rasional melainkan berkemampuan emosinonal. Manusia sedang sibuk membuktikannya.
Camila adalah salah satu contoh kepercayaan manusia dan kemungkinan yang mengarah itu ada. Humanoid yang mampu mendengarkan curhat manusia. Misalnya, mampu berkomunikasi dengan aksen sesuai dengan setting yang dikehendaki. Dalam komunikasi ia bisa diprogram sesuai kehendak kita. Contoh nya berbahasa Sunda, jika saya menginginkannya, meskipun saya Jawa medok. Bahkan bersimpati meneteskan air mata, tatkala lawannya bercerita tentang tragedi hidupnya.
Teknologi dalam bentuk mesin dan robot-robot cerdas membawa konsekuensi tumbuhnya manusia yang tidak percaya pada diri sendiri. Lalu, muncul manusia yang kemudian gagal percaya pada sesamanya.
Pada level kecil, sudah pasti lebih percaya kecepatan laju motor dibandingkan kecepatan lari kita. Fenomena jomblo yang “menikah” dengan dengan robot seks perempuan, misalnya. Adalah bukti ekstrem manusia tidak percaya kepada kemampuan dirinya menjalin relasi dengan orang lain. Manusia sakit yang percaya pada "manusia sakti".
Sulitnya, tingkat kepercayaan yang berbeda-beda tersebut akan menimbulkan konflik. Mungkin saja, konflik antar manusia yang melibatkan robot, justru robot-robot itulah yang dipercaya, sedangkan antar manusia justru saling curiga. Sebab "orang ketiga" ini dianggap sumber kebenaran.
Sebuah kasus kecil. Saya pernah melihat pertengkaran hadirnya robot android berupa aplikasi presensi di tempat kerja saya. Saat pegawai dipaksa melakukan presensi melalui aplikasi android. Salah seorang pegawai, merasa tidak pernah terlambat hadir satu kalipun. Ia merasa hadir sebelum 07.30, sesuai standar prosedur kantor. Pada akhir bulan ketika rekap kehadiran ditampilkan, proteslah dia pada sang rekannya sebagai petugas operator. "Kenapa saya tercatat beberapa hari, terlambat?" Petugas yang merasa tidak bersalah berkata, “Lho, saya salah apa ? Saya cuma merekap langsung dari data-data. Tidak ada yang direkayasa.”
Perdebatan berlanjut, “Tapi teknologi dan mesin bisa saja salah”. Kemudian dibantah lagi, "Bukannya manusia juga tempatnya salah dan lupa?". Toh akhirnya mereka berdua, menyerahkan kebenaran itu pada hasil teknologi presensi.
Lalu, bagaimana jadinya jika manusia-manusia telah bersepakat untuk menghadirkan robot dalam segala bentuk dan tempat aktivitas. Buktinya, kisah tentang uji coba sebuah mobil tanpa sopir yang akhirnya mengalami kecelakaan kecil dalam sebuah pemberhentian lampu merah. Belajar dari sudut pandang Yuval Noah Harari, kita percaya bahwa jika saja semua mobil di dunia ini dikendarai oleh robot, kita dapat memprogramkan semua mobil agar berjalan dengan jalur, irama dan kepatuhan yang tepat tanpa ada tabrakan atau insiden kecelakaan lainnya.
Begitu pula, hadirnya, “orang ketiga” seperti Camila, mungkin saja, dengan kecerdasan buatan yang disematkan, manusia akan dilewati oleh para robot-robot humanoid buatannya. Robot yang berkembang dan beradaptasi menjadi sangat-sangat identik dengan manusia.
Ah, jangan-jangan manusia akan lebih robot dari pada robot itu sendiri. Mungkin Itulah saat manusia-manusia tidak bisa membedakan lagi mana dirinya sendiri mana yang robot.
Bukankah sejak lama dalam sebuah sebuah kecelakaan dan insiden, robot-robot itu selalu dibebaskan dari kesalahan. Pikiran sangat familiar dengan istilah human error. Ini bermakna dua sisi, manusia menyadari kekurangannya atau manusia lebih mempercayai teknologi ciptaannya sendiri.
Manusia tempatnya salah dan lupa. Sedangkan kesempurnaan ini milik para “orang ketiga”. Manusia memang tidak sempurna, dan kesempurnaan ini pada akhirnya milik robot.
Jika era ini datang, maka bisa jadi robot akan lebih manusia dibandingkan manusia. Dan manusia akan lebih robot dari robot itu sendiri. Karena kita akan bukan saja bergantung, tetapi semakin dikuasai ciptaan kita sendiri.
Sebelum datangnya era ini. Dengan berpikir jauh seperti ini, kita menjadi lebih ingin menghargai diri dan orang lain sebagai manusia. Suami lebih rela dengan cerewetnya istri. Lebih terbuka dengan usilnya teman. Lebih bahagia dengan tingkah polah dan rengekan anak-anak kita. Tentunya, lebih sadar dengan sejarah dan potensi kesalahan kita sendiri.
Tentang ketidaksempurnaan manusia. Dalam sebuah obrolan teman saya berkata, “Manusia yang selalu bener, yang tak pernah salah adalah orang-orang di Kecamatan Bener, Purworejo". Lalu saya jawab, “Kalau mau cari manusia yang tak berdosa ada di Kudus, suci semua”
Saya beruntung. Hari ini, masih bisa tertawa bersama teman-teman saya yang saya yakin manusia. Sebelum “orang ketiga” dengan paket sempurna ini benar-benar menginvasi dan hadir di samping anda, di tengah-tengah kita. Entah itu kapan.
Yang pasti, hari ini saya masih merasakan kehadiran Tuhan dalam gelak tawa mereka. Sebab jika "orang ketiga" ini di samping saya. Saya takut menjadi lebih percaya kepada tuhan-tuhan yang mencipta "manusia-manusia".
Ketika manusia terlalu jauh berkonflik dengan Tuhan. Mungkin itu saatnya Dia mengambil keputusan mencabut semua kekuasaan manusia. Bukankah kita mengimani bahwa tak mungkin manusia merebut Kuasa Tuhan? Wallahu a'lam.
MAKHSUN BUSTOMI, Penulis media online. Berlatarbelakang social work yang suka ngalap berkah dari baca-baca tulisan & nyambi nata-nata kalimat. Tinggal di Slawi, Tegal.

