Melepas Rumah

PNS, kadang berhenti sejenak sekadar mencatat hal-hal yang mungkin terlewat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dua puluh sembilan Juli adalah ulang tahun pernikahanku dengan Retno, istriku. Namun, selepas subuh nada ponsel memanggil. Adikku berkata lirih, "Mas, hari ini tak usah berangkat".
Satu kalimat. Tapi aku cukup yakin maksudnya.
Aku tak jadi memakai seragam kerja. Aku bergegas dan berkemas. Sembari tersisak-isak menyiapkan mobil. Segera melaju ke kampung di mana aku menghabiskan masa kecil.
Tentu sepanjang hidup, meskipun sebagai laki-laki aku sudah menangis berkali-kali. Tetapi, setidaknya yang paling membekas dalam ingatan, aku menangis tiga kali.
Kali pertama menangis adalah ketika lahir ke dunia. Saya bohong kalau saya ingat hari pertama mengenal dunia. Tapi, bukankah setiap dilahirkan seorang bayi pasti menangis, karena ia akan merindukan kembali berada di dalam kehangatan rahim ibu? Tempat di dalamnya ia bisa meringkuk hangat, atau sekali-kali menjejakkan kaki dan berakrobat.
Seperti manusia lain, menangis adalah keterampilan pertamaku. Membayangkan Ibu adalah membayangkan seorang pejuang. Setelah bersusah payah, Ibu gembira merayakan tangis pertamaku. Si bayi tak jadi bersedih kelewat lama. Hari demi hari sesudah belajar senyum dan tertawa. Ibu tak sempat berkeluh kesah berpuluh tahun menyiapkan bekal perjalananku untuk tumbuh berkembang. Sementara sejak sebelum aku remaja, Ayah telah berpulang.
Menangis yang kedua, adalah hari ketika aku mengucap, "Aku terima nikahnya Retno binti H.S. Pardjo untuk diri saya". Itulah hari aku akhirnya memutuskan keluar dari rumah. Berjuang selayaknya seorang laki-laki membangun keluarga baru. Tanggal yang sama dengan hari ini, dua puluh satu tahun yang lalu.
Dan ketiga, adalah hari ini. Hari terakhir Ibu. Ingatanku melayang pada suatu waktu saat ia pernah berpesan. "Kamu bikin rumah saja di sini, agar Ibu bisa ikut tinggal bersamamu".
Ya, ada sepetak tanah di kampung. Ibu berharap aku membangun sebuah rumah di situ. Dan, Ibu ingin tinggal bersama di situ, menua sembari mengawasi Ephis. Ya, Ephis, begitulah Ibu menyapa puteriku satu satunya. Panggilan yang diciptakan Ibu spontan, semata-mata karena susah untuk menyebut dalam nama aslinya. Tapi aku tak mampu mewujudkan keinginan Ibu.
Dengan datar aku menyusun jawaban, "Tapi aku sudah punya rumah. Tak mungkin aku tinggal di kampung sini. Lagi pula aku harus bekerja. Kalau Ibu mau, tinggallah dengan kami, bersama Ephis, cucumu".
Mengingat itu air mataku bertambah deras. Keinginan Ibu tak bisa bertemu dengan kepentinganku.
Begitu pula aku, ingin berjuang untuk mandiri. Cita-citaku sejak remaja dulu, keluar dari rumah. Mencari kehidupan dan membangun dunianya sendiri. Mencari pasangan dan membangun rumah baru.
Setelah Ibu lelah memperjuangkanku, aku pikir aku telah mendewasa. Aku pikir telah merdeka.
Aku salah. Aku baru tahu, ternyata aku selalu menjadi bayi. Aku tak pernah benar-benar pergi. Aku tak pernah benar-benar beranjak hingga hari Ibu harus berangkat.
Sejak hari ini, dunia tak lagi sama. Hari ini terlalu sederhana untuk disebut hari duka cita. Kata kehilangan terlalu kaku untuk menggantikan air mata. Hari ini harusnya hari aku merayakan rumah baru. Namun, hari ini pula ternyata aku harus melepas rumah.
Di tanah yang masih basah, bayimu ini cuma mampu bersimpuh, "Ibu, bagaimana aku mau membangun rumah, kalau kamu adalah rumahku?".
Tegal, 29 Juli 2025
