Mencari Pahlawan dalam Kisah Pilu Terjerat Utang

Bekerja sebagai Analis Kebijakan di Pemkot Tegal. Banyak esainya terpublish di media digital.
Konten dari Pengguna
16 Juni 2021 20:47
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Siapa sih yang tak butuh uang. Entah itu tuntutan kebutuhan atau melayani keinginan. Sekadar bertahan hidup atau memperjuangkan gaya hidup.
ADVERTISEMENT
Zaman kini makin gampang mendapatkan pinjaman. Banyak pintu untuk mengaksesnya. Bertamu ke sahabat. Pesan whatsapp kerabat. Gunakan hak anggota koperasi simpan pinjam. Lepas cincin pernikahan, di loket pegadaian. Agunan sertifikat rumah di layanan perbankan. Dan bertambah opsi, buka gadget, klik, tanpa banyak birokrasi pintu pinjaman online terbuka lebar.
Mencari Pahlawan dalam Kisah Pilu Terjerat Utang  (99199)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Uang Rupiah Foto: Thinkstoc
Uang cair dengan segera, tak harus mengenal, tak wajib bertemu, tak perlu jaminan. Syaratnya satu, janji atau kontrak untuk mengembalikan, mengangsur, membayar, dan melunasi tepat waktu.
Tanpa pinjam-meminjam, pegawai negeri sipil berhadapan dengan misi nyaris mustahil memiliki rumah. Petani sulit membeli pupuk. Banyak mahasiwa yang terlambat mendapat transfer dari orang tua. Pedagang cilok tak kesampaian punya motor untuk keliling jualan. Tak ada pembangunan mal. Tak tersedia tol.
ADVERTISEMENT
Jangan-jangan tanpa pinjaman, ada pula pernikahan yang dibatalkan. Kalau tidak ada seseorang yang meminjami, hari ini mungkin ada keluarga yang terancam lapar. Bahkan ada yang fatal, tak ada biaya untuk operasi segera.
Ketidakmampuan menepati janji, pada banyak kasus menyebabkan masalah. Di Malang, seorang guru TK terlilit pinjol. Ada 24 pintu aplikasi yang dia buka. Ada pula kasus gantung diri seorang seorang sopir angkot di Padang. Sementara di Bandung, seorang pria merampok dengan latar belakang sama. Lagi, seorang mahasiswi bunuh diri di karena utang.
Di lingkungan sosial terdekat saya, ada seorang teman gajinya tak tersisa, terpotong angsuran bank. Katanya, membiayai rehab rumahnya. Kasus lain, ada yang bernafsu ke dealer, memindahkan mobil terbaru ke rumah. Ternyata, usaha dagangnya seret, meleset dari kalkulasi. Klise, mobil disita, utangnya masih makin membesar.
ADVERTISEMENT
Betul, utang atau pinjam tak selalu pinjam untuk hal konsumtif. Saya menjadi saksi, seorang teman, pinjam sana sini, entek ayam entek bebek, habis-habisan, untuk sebuah alasan ingin mengobati istrinya yang terkena kanker.
Tagihan uang hanya selesai dengan uang juga. Mekanisme seperti yang didendangkan Rhoma Irama, gali lobang tutup lobang, pinjam uang bayar utang. melahirkan banyak kisah. Kisah menyebalkan, sedih, bikin marah, pilu bahkan tragis.
Ingat roman Siti Nurbaya? Tak jauh juga konfliknya terkait dengan utang. Siti Nurbaya mengajukan diri menikah dengan Datuk Meringgih, sebagai jalan pintas, memerdekakan ayahnya dari lilitan utang. Sang kekasih bernama Samsulbahri, tak bisa menjadi pahlawan. Bahkan gagal memenangkan cinta, kasih pun tak sampai.
Pinjam atau utang menjadi pabrik kisah. Bayangkan, jika ribuan atau jutaan kisah ini dibukukan. Berbalut kisah kemiskinan, musibah sakit, anak yang bermasalah, niat membangun rumah, membeli mobil, membayar gaya hidup, istri yang sakit, bermula dari membantu teman, investasi bodong, modal usaha, biaya kampanye calon legislatif atau usaha yang bangkrut. Kemiskinan, gaya hidup, musibah, keserakahan, salah perhitungan, dan silakan tambah sendiri.
ADVERTISEMENT
Tak heran, dalam History of Java saat membahas moralitas masyarakat Jawa tahun sekitar tahun 1811-115, Thomas Stanford Raffles, men-screenshoot kisah gagal pinjam meminjam sebagai metafora tentang kebahagiaan dan kesedihan sebagai siklus. Orang yang pinjam mulanya sedih, lalu bahagia karena dapat uang, tetapi kemudian bersedih kembali karena tak kunjung bisa mengembalikan. Bagaimana dengan yang memberi pinjaman, tak kalah sedih juga karena kehilangan. Dari sini timbul perselisihan, pertengkaran, dendam dan pembunuhan.
Dalam lubang masalah yang bikin depresi, rasa-rasanya setiap korban butuh pahlawan. Keluarga, kerabat dan teman menjadi bantal sosial. Masalahnya pada level tertentu akan bertemu jalan buntu, ketika sudah melewati batas kemampuan kemampuan modal sosial untuk mengatasinya.
Tetapi apa tidak ada pahlawan?
Sesungguhnya selain satu dua kasus yang viral, masih banyak cerita yang sepi. Jelas tak mungkin semua menjadi “ladang amal” para selebriti yang peduli. Para politikus yang empati. Atau mungkin kepala daerah yang iba dengan nasib salah satu rakyatnya. Tak mungkin tiap ada kisah pilu, lalu Kepala Daerah turut melunasi seperti yang terjadi di Malang.
ADVERTISEMENT
Kita tak kenal Iis Dahlia yang meminjamkan 100 juta, sedangkan dia sendiri lupa. Kita juga bukan Dede Suhendar, komedian yang tak sedang memainkan komedi, saat Sule menolongnya 40 juta.
Ketimbang menunggu keajaiban, pelajaran pertama jangan punya utang. Ah, tapi mana mungkin? Pinjam atau utang tak apa, sepanjang berhitung dengan cermat. Soal ini, kita tak harus menjadi pandai matematika. Hanya cermat mengukur kemampuan kita. Lagipula, hidup di zaman penuh iklan dan persaingan.
Catatan penting soal ini adalah: siapa pun memiliki utang. Yakni, kita punya utang untuk meyakinkan keluarga kita, kakak-adik, anak-anak kita, sahabat kita. Apa pun kesulitan keuangan tak ada keajaiban dalam menyelesaikan masalah utang.
Barangkali tak ada pahlawan yang datang. Tetapi jauh sebelum ini, kita punya Nabi. Pesan dia, Muhammad SAW sejatinya sangat kuat, Nabi tak berkenan menyalati muslim yang mati dalam keadaan berhutang.
ADVERTISEMENT
Maaf, bukankah pasti suatu waktu terjadi, ada yang harus mati dalam keadaan berutang? Karenanya keluarga dan orang terdekat yang harus tampil menjaminnya. Maknanya, kita juga bertanggung jawab mendidik dan mengingatkan. Bukankah dalam fikih zakat dikenal gharim, golongan yang punya utang dan berhak menerima zakat. Artinya, ada kewajiban kolektif untuk membantu muslim korban utang.
Yang jauh lebih penting, kita punya utang mendidik diri sendiri. Ya, mendidik diri sendiri agar tidak terjebak dalam kisah-kisah gali lubang tutup lubang. Manusia harus belajar setiap hari. Jangan berhenti, meleng sedikit saja. Klik, seseorang bisa tergoda, terjebak dalam lilitan utang puluhan, ratusan juta. Islam juga mengajarkan, agar Muslim berdoa agar tidak terlibat dalam utang.
Banyak kisah-kisah sedih, bahkan tragis dari para peminjam Mari, pastikan bukan kita salah satunya. Jika tidak membayangkan menjadi pahlawan, setidaknya kita tak menjadi pihak yang tak berdaya.
ADVERTISEMENT
Zaman kiwari, menjadi pahlawan untuk diri sendiri terasa berat nian. Setiap utang harus dibayar. Setiap kali pinjam harus dikembalikan. Berapa dan kapan kita meminjam, kita harus presisi mengukurnya. Tetapi memang, tidak sesederhana yang dikatakan.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020