Muda (Tak) Wajib Beda

PNS, kadang berhenti sejenak sekadar mencatat hal-hal yang mungkin terlewat
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Nasruddin Hoja berdiri di tepi sebuah sungai berarus deras. Dari seberang, seseorang berteriak, “Bagaimana caranya saya bisa sampai ke seberang?”
Hoja menjawab, “Lho, bukankah kamu sudah berada di seberang?”
Plot twist yang sederhana, tetapi masuk akal. Sebutan "seberang" ternyata bergantung pada posisi kita berdiri. Tempat yang kita anggap sebagai tujuan, bagi orang lain justru tempat asalnya. Jadi, sebenarnya siapa yang harus menyeberang?
Coba kita lihat spion waktu, sejenak melirik momentum Agustus 1945. Saat itu, para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Mereka tidak ingin kemerdekaan Indonesia terkesan sebagai hadiah dari Jepang. Sementara itu, Soekarno dan Hatta masih mempertimbangkan situasi politik dan waktu yang tepat.
Anak muda ingin gaspol, generasi senior memilih berhitung. Keduanya sempat berbeda pandangan, tetapi punya satu tujuan yang sama: Indonesia merdeka.
Dari peristiwa Rengasdengklok, kita belajar bahwa beda pendapat tidak harus berakhir dengan saling menjatuhkan. Anak muda boleh mendesak perubahan, sementara generasi sebelumnya mengingatkan risiko. Beda cara, satu tujuan.
Nah, pertanyaannya: apakah anak muda memang harus selalu beda?
Dulu, ketika masih SMA hingga menjadi mahasiswa, saya juga pernah merasa keren kalau melakukan sesuatu yang berbeda. Selera musik, gaya berpakaian, sampai pilihan-pilihan kecil bisa menjadi semacam deklarasi identitas. Rasanya, kalau mau dianggap punya karakter, harus ada sesuatu dalam diri kita yang tidak dimiliki orang lain.
Orang tua pun seperti berada di seberang sungai. Musik mereka terasa jadul, nasihat mereka terdengar seperti ceramah panjang yang sulit di-skip, dan pilihan hidup mereka dianggap kurang relevan. Pokoknya, jangan sampai sama.
Padahal, anak muda memang punya hak untuk mempertanyakan kebiasaan lama, menggugat kemapanan, dan mencoba hal-hal baru. Dunia membutuhkan orang yang berani berpikir berbeda. Kalau semua orang hanya mengikuti kebiasaan, mungkin sampai sekarang kita masih sibuk melakukan hal yang sama dengan cara yang sama.
Tidak heran kalau anak muda sering dituntut kreatif, inovatif, dan mampu berpikir out of the box. Kalau perlu, kotaknya sekalian ditendang.
Masalahnya, bagaimana kalau berbeda justru berubah menjadi kewajiban?
Orang lain bilang X, kita harus menjawab Y. Mereka memilih kanan, kita wajib ke kiri. Orang tua setuju, kita malah curiga. Pemerintah bilang kebijakannya bagus, kita buru-buru mencari celah untuk menolaknya.
Pokoknya, jangan sampai kelihatan satu kubu. Beda dulu, urusan alasan belakangan.
Sekilas terlihat kritis. Padahal, jangan-jangan kita cuma melakukan copy-paste pendapat orang lain, lalu membaliknya. Nurcholish Madjid pernah membahas kecenderungan peniruan yang mengambil bentuk kebalikan dari sesuatu yang ditiru. Sederhananya, kita merasa sudah punya jalan sendiri, padahal arah perjalanan masih ditentukan oleh orang yang kita tentang.
Kalau orang menunjuk Utara, kita memilih Selatan. Kalau ia bilang putih, kita menjawab hitam. Kita merasa punya pendirian, padahal baru menentukan sikap setelah tahu pendapat orang lain.
Bukankah agak ironis kalau kita ingin merdeka, tetapi masih menjadikan orang lain sebagai kompas?
Tentu, bukan berarti kita harus selalu setuju dengan orang tua, pemerintah, atau siapa pun. Kritik tetap penting. Perlawanan kadang diperlukan. Namun, kita perlu tahu alasan di balik sikap kita.
Jangan sampai kita menolak sesuatu bukan karena keliru, melainkan karena takut dianggap sama. Menentang semua hal tidak otomatis membuat kita punya pemikiran sendiri. Kadang-kadang, kita hanya menjadi kebalikan dari sesuatu yang kita benci.
Dalam urusan kreativitas pun, kita tidak harus membuang semua yang lama demi terlihat baru. Austin Kleon, melalui bukunya Steal Like an Artist, mengingatkan bahwa karya tumbuh dari proses belajar, menyerap, dan mengolah gagasan yang sudah ada. Kita boleh terinspirasi oleh orang lain tanpa harus menjadi fotokopinya.
Lagi pula, menjadi orisinal tidak berarti harus alergi terhadap pengaruh. Yang penting bukan sekadar dari mana kita belajar, melainkan bagaimana kita mengolahnya menjadi sesuatu yang punya ciri sendiri.
Lihat Sumpah Pemuda. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang mengikrarkan tekad bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia. Mereka datang dengan perbedaan, tetapi tidak sibuk membuktikan siapa yang paling berbeda. Mereka justru mencari sesuatu yang bisa menyatukan. Tidak harus seragam untuk menjadi satu.
Jadi, bagaimana seharusnya kita berbeda?
Berbeda bukan prestasi kalau tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Menentang bukan pencapaian kalau kita sendiri tidak tahu apa yang sedang ditentang. Menjadi unik juga tidak banyak artinya kalau hanya sibuk membangun citra.
Muda bukan berarti harus selalu berlawanan. Menjadi muda berarti punya kesempatan untuk belajar, mempertanyakan, mencoba, dan memperbaiki sesuatu.
Kita juga perlu tahu kapan harus menyeberang dan kapan sebaiknya bertahan. Memahami pendapat orang lain tidak berarti harus menyetujuinya. Terbuka terhadap gagasan baru bukan berarti kehilangan prinsip.
Toh, suatu hari nanti kita juga akan menjadi generasi yang lebih tua. Bisa jadi, kita menempati posisi yang sekarang kita kritik. Jangan-jangan, nanti kita juga akan mengeluh, “Anak zaman sekarang susah dibilangin.”
Karena itu, jangan membangun identitas hanya dari hal-hal yang kita tentang.
Saya jadi ingat Rocky Gerung, tokoh publik yang dikenal luas karena kritik-kritiknya terhadap pemerintah. Sikap kritisnya membuatnya memiliki banyak pengagum sekaligus mengundang perdebatan. Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar memperdebatkan pilihan politiknya: apakah kita mengagumi gagasannya karena sudah memikirkannya sendiri, atau karena telanjur menganggapnya sebagai panutan?
Bayangkan kalau suatu hari tokoh yang kita kagumi mengambil sikap yang berbeda dari keyakinan kita. Apakah kita harus ikut berubah hanya karena dia sudah berada di seberang?
Tentu tidak. Mengagumi seseorang bukan berarti harus mengikuti semua langkahnya. Kita boleh belajar dari keberaniannya, tetapi tetap perlu menggunakan pikiran sendiri untuk menentukan ke mana harus melangkah. Berpindah ke seberang tidak otomatis berarti mengkhianati prinsip. Bertahan di tempat juga tidak otomatis membuktikan bahwa kita punya pendirian.
Kembali ke sungai Nasruddin Hoja. Persoalannya bukan cuma bagaimana mencapai seberang. Kita juga perlu tahu mengapa harus menyeberang dan apa yang sebenarnya ingin kita capai.
Menjadi muda bukan kewajiban untuk selalu beda. Menjadi merdeka berarti berani berpikir sendiri, bahkan ketika hasil pemikiran kita ternyata sama dengan orang yang selama ini kita tentang. Jadi, kamu bebas tidak setuju dengan tulisan ini. Serius, tidak ada yang melarang.
Namun, coba cek sekali lagi: kamu memang punya alasan untuk tidak setuju, atau jangan-jangan cuma ingin beda dari saya?
