Konten dari Pengguna

Sedia Syukur Sebelum Ujian

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika bertanya kepada 100 orang, apa yang harus dilakukan ketika mendapat ujian? Mungkin 99 orang memberi jawaban seragam: sabar.

Sabar itu seperti payung. Payung hanya untuk melindungi diri agar tubuh tidak basah. Namun kita tak mampu mencegah jatuhnya hujan. Rasanya mustahil selamanya kita menghindar dari sakit, ujian, dan musibah. Kita harus tetap tegar dan berjalan melanjutkan perjalanan sampai tujuan.

Pasti akan ada cipratan-cipratan air yang menerpa tubuh. Lebih dari itu, bahkan ketika hujan berlangsung lebat disertai angin hebat, kita akan basah juga. Begitulah intisari nasihat dari khatib yang masih melekat pada Jumat lalu.

Ilustrasi Sedia Syukur Sebelum Ujian, sumber : https://www.pexels.com/photo/grayscale-photo-of-an-umbrella-on-a-sidewalk-4640971/

Ada satu hal yang membuat khutbah itu menempel dalam ingatan. Hari itu aku tak bisa keluar rumah tanpa diantar oleh istri. Setidaknya selama satu bulan aku dilarang berkendara sendiri. Tubuh ini baru saja dibedah di bagian tulang belakang.

Dalam perjalanan berangkat salat, aku sedikit berselisih kata dengan istri. Pasalnya, aku tak ingin terlihat sebagai orang sakit. Jadi aku minta diturunkan jauh dari masjid.

Lantas, aku ingat satu lagi nasihat. Katanya, sabar ketika mendapatkan musibah itu sebuah keniscayaan. Sesungguhnya ada tingkat yang lebih tinggi dari sabar, yakni bersyukur ketika mendapatkan musibah. Sebentar, bagaimana bisa mendapatkan sakit tetapi malah kita bersyukur?

Ada satu momen yang tak hilang dari ingatan, saat selesai dari tindakan operasi yang mengharuskan tubuhku dibius total. Menjelang siuman, lamat-lamat kulihat dua wajah. Di samping kiri dan kananku. Beberapa saat aku merasa mereka memegang tangan dan kemudian kakiku. Efek bius membuat tubuhku menggigil hingga terguncang-guncang. Mereka merapikan selimutku.

Ternyata, dua perempuan itu adalah istri dan putriku. Dengan pelan aku cuma sanggup mengucap satu kata, “Sayang”. Ternyata ditemani orang yang tersayang ketika sakit sama sekali bukan suatu kelemahan. Terima kasih, Tuhan, masih memberi kesempatan untuk bertemu keduanya. Izinkan aku untuk serakah, ingin jauh lebih lama bersama mereka berdua. Jauh lebih kuat untuk menemani hari-harinya.

Begitu istri memegang tangan kanan dan putriku menggenggam tangan kiriku, terasa seolah mereka tengah membantuku menggenggam tiang payung. Aku berterima kasih kepada hujan yang memberitahuku bahwa ada dua manusia yang selalu menemani. Aku menemukan alasan untuk berbaik sangka pada Tuhan. Bolehkah diartikan, syukur ini sedang bekerja?

Ah, jangankan bersyukur menghadapi ujian. Berlaku sabar saja belum tentu aku sanggup bertahan. Namun, pengalaman sakit mengajarkan satu hal: terkadang keberanian bukan tentang mampu berdiri sendiri, tetapi berani mengakui bahwa kita membutuhkan orang lain.

Jujur, aku tak ingin mereka yang menyayangiku turut kebasahan. Tapi siapa pula yang bisa mencegah hujan? Buktinya aku memang kepayahan. Tak apa hujan kadang datang. Hujan ini bukan cuma menurunkan air. Ia juga membawa satu pelajaran bahwa aku tidak sendirian.

Ketika bumi tak dapat menolak hujan, pasti ada manusia yang tak dapat mengelak. Manusia bukan saja harus menerima. Sabar saja tak cukup. Butuh keberanian untuk bersyukur.

Jadi, jawaban boleh 100% seragam. Cara bersyukur kita yang membedakan.