Terlambat Tak Bikin Kiamat

PNS, kadang berhenti sejenak sekadar mencatat hal-hal yang mungkin terlewat. Kebetulan, menjabat Kepala Bidang Perdagangan di Pemerintah Kota Tegal.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu melewati satu hari tanpa sekali pun bertanya? Minimal bertanya di dalam hati? Hidup itu sesungguhnya cuma numpang tanya. Kita terus berusaha menemukan jawabannya.
Tapi bagaimana kalau jawabannya terlalu sulit ditemukan?
Ada masanya, anak kecil begitu cerewet mencari tahu segala sesuatu. Kenapa bulan selalu mengikuti, ya? Kenapa ayam tinggalnya di kandang? Katanya ada pelangi itu indah, kok aku nggak pernah lihat? Sampai pertanyaan yang paling sulit, Tuhan di mana? Wajah-Nya seperti apa, Ayah? Begitulah rasa penasaran yang membayangi tahap perkembangannya.
Sebaliknya, ketika anak memasuki fase remaja, orang tualah yang banyak penasaran. Hanya semua pertanyaan itu tersimpan dalam hati. Si anak memasuki dunia yang berbeda, sementara tak mudah bertemu dalam satu frekuensi untuk berkomunikasi. Lagipula kita bukan kelelawar yang bisa nguping dari jarak jauh.
Teknologi bisa menyediakan cara bagi manusia untuk saling terhubung 24 jam sehari. Bahkan, tidak mustahil untuk mengetahui sedang apa dan di mana gerangan anak-anak kita tersayang. Tetapi itu saja tidaklah cukup. Bukankah orang tua sedikit frustasi saat rajin mengingatkan, "Jangan lupa makan siang, ya?", lalu tak kunjung direspons. Sekalinya terkirim jawaban, kadang hanya satu karakter: "Y."
Pagi itu agaknya kesabaran keluarga diuji. Anak wedok saya berangkat sekolah diantar ibunya. Tugas yang biasanya dilakukan saya sekalian berangkat kerja. Namun entahlah, pagi itu dia susah sekali dibangunkan. Saya memutuskan mendahului, karena harus berpacu dengan waktu, demi menghindari status T alias terlambat pada aplikasi presensi kantor berbasis GPS.
Malamnya, istri berbagi story. Katanya, mendekati pintu gerbang, waktu nyaris lewat pukul 07.00. Pagar perlahan digeser oleh security sekolah, menyisakan ruang masuk seukuran tubuh. Itu cukup kalau anak kami satu-satunya ini mau lari dari tempat dia diturunkan dari motor.
"Cepat lari, Nduk. Mumpung gerbang masih terbuka."
Jawabnya, "Nggak papa, Bun."
Dia memilih tak lari. Berjalan santai hingga akhirnya menjadi satu dari beberapa siswa yang harus tertahan di luar gerbang. Ibunya hanya geregetan sambil memacu motornya. Sayangnya, hari itu ibunya jadi ikut terlambat masuk kerja.
Percakapan kami berdua buntu ketika dari bibirnya keluar kata-kata "Itulah DNA ayahnya", satu sindiran hampir meninju saya.
Ya, sepertinya dalam setiap masalah harus jelas ada yang disalahkan. Sesuatu yang sulit saya buktikan, sekaligus sulit saya bantah. Percakapan malam itu diwarnai sedikit interogasi ketika putri kami hadir di tengah-tengah kami.
"Gimana tadi di sekolah, terlambat ya?"
"Banyak juga yang terlambat. Semua yang terlambat dikumpulkan. Terus ditanya alasannya. Ada yang karena rumahnya jauh jadi harus naik angkot tiga kali. Ada yang sepedanya kempes. Ada yang senyam-senyum saja, karena sudah sering terlambat".
"Lha, kamu alasannya apa?"
"Satu rumah bangun kesiangan."
"Hah? Kenapa alasannya itu? Kan, Ayah Bunda bangun subuh. Kamu yang kesiangan"
"Spontan aja, Ayah. Masa alasannya seragam sama yang lain sih. Biar agak kreatif."
"Lalu, kenapa waktu itu kamu nggak lari. Kan masih cukup waktu biar bisa masuk gerbang, kalau mau lari?"
"Maaf, Ayah. Sekali-kali terlambat nggak papa kan?"
Oh ya, sekolahnya tak jauh dari rumah kami. Hanya sekitar dua kilometer. Ditempuh dengan motor, cukup lima menit kalau lancar. Cukup dekat bukan? Kalau waktu saya sekolah, segitu cukup jalan kaki.
Sebetulnya saya gemas hendak membanding-bandingkan dengan masa ketika saya masih sekolah. Namun, saya cukup sadar bahwa membandingkan masa lalu dengan masa terkini bukan cara yang jitu. Pasti dia tak suka kalau ayahnya bernostalgia. Dia akan segera memilih bersama Netflix atau tenggelam dalam novel Higashino.
Setidaknya dia masih menyisakan kejujuran kepada orang tua. Bercerita jujur dengan orang tuanya sedikit membuat lega. Lagi pula, prestasinya lebih baik dibandingkan ayah dan ibunya semasa sekolah. Jangan-jangan, terlalu banyak menuntut malah membuat kami seperti jaksa.
Malam itu saya seharusnya marah karena dia sengaja terlambat. Namun, justru ada kelegaan karena dia mau memberikan jawaban yang panjang, tanpa terlihat mengelak dari kesalahan. Itu bagi saya kebahagiaan. Sungguh, mendengarkan cerita anak adalah sebuah kemewahan.
Apalagi mau tak mau harus diakui, ponsel bisa saja tak lepas dari genggaman kita. Anak-anak asyik, sementara orang tua juga masyuk dengan ponselnya. Tetapi terhubung itu soal lain. Kedekatan ada di hati masing-masing.
Saya ingin mengatakan kepadanya bahwa dunia ini memang seperti sedang terburu-buru. Rasanya putri saya juga tumbuh terlalu cepat. Bagi kami, ia selalu menjadi bayi yang harus ditimang agar bisa berpuas-puas melihatnya. Sekali-kali lambat sepertinya tak apa-apa. Paling tidak jangan sering-sering, ya. Sesungguhnya saya juga bukan ayah yang sempurna. Kami bukan orang tua yang sempurna. Tapi saya tak ingin ruang keluarga berubah menjadi meja pengadilan.
Saya pandangi foto yang kami pajang di ruang keluarga, dengan senyum manis. Kami sengaja pergi ke studio foto waktu itu. Tetapi apakah ada keluarga yang sesempurna seperti dalam foto? Hidup tidak selalu serasi seperti baju yang kami pakai.
Mungkin menjadi orang tua memang seperti itu. Kita ingin anak memberikan jawaban yang benar, sementara kadang-kadang justru jawaban yang semula terkesan asal, ternyata datang untuk menetap, tak sekadar numpang lewat. Bukan hanya anak yang terus tumbuh, kami sebagai orang tua pun harus terus belajar.
Akhirnya saya kehabisan kata. Kali ini jawaban saya hanya mengiyakan pertanyaannya. Saya tak berani bertanya apakah ini jawaban seorang hakim yang bijaksana. Meskipun begitu, jawaban ini ternyata membuat sudut bibir kami bertiga sedikit bergerak membentuk senyum. Meski bukan senyum yang sempurna.
“Betul, anakku. Tak apa-apa sesekali terlambat. Toh, nggak bikin kiamat.”
