Dampak Mikroplastik Pakaian bagi Kesehatan: Sebuah Kajian Ilmiah

Mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Al-Faatih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Plastik adalah komponen yang tidak terlepas dalam keseharian masyarakat modern. Berbagai kebutuhan melibatkan plastik sebagai bahan baku dalam pembuatannya. Data menyebutkan bahwa lebih dari 40 juta ton plastik diolah menjadi bahan pembuatan pakaian seperti serat tekstil dengan jenis nilon, poliester, dan akrilik (Khoirunnisa, 2022) Akan tetapi penggunaan plastik pada bahan pakaian memiliki berbagai dilema yang berdampak buruk terhadap kesehatan, terkhusus pada kesehatan lingkungan.
Penelitian dari Periyasamy (2022) menyebutkan bahwa serat sintetis seperti poliester, nilon akrilik dan spandeks dapat terlepas dari lingkungan. Oleh sebab itu bahan pakaian yang dikembangkan dari plastik perlu ditinjau agar tidak mencemari lingkungan dan menimbulkan berbagai potensi risiko kesehatan.
Pakaian yang mengandung serat mikroplastik beresiko mencemari lingkungan dan menimbulkan efek kesehatan. Banyak yang tidak tahu bahwa proses mencuci pakaian memiliki dampak langsung terhadap lingkungan. Pakaian yang dicuci dapat melepaskan lebih dari 1.900 serat mikroplastik dalam satu beban cucian. Kondisi ini disebut sebagai polusi microfiber, dimana partikel plastik kecil dari poliester dan nilon dapat terlepas saat pakaian dicuci. Studi literatur yang dilakukan oleh Dewi (2022) mengaitkan efek kesehatan dari kondisi tersebut yaitu dari pelepas monomer, pewarna dispersif, mordan dan plasticizer dari manufaktur.
Efek kesehatan yang ditimbulkan oleh kandungan mikroplastik memang sepenuhnya belum jelas. Akan tetapi, perkembangan industri tekstil dan industri fashion seharusnya perlu memperhatikan dampak serius dari produksi bahan pakaian dan produk yang menggunakan bahan baku plastik. Di samping itu produksi pakaian yang tak lepas dari penggunaan bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan, serta penggunaan air dan energi dari proses produksi juga harus diperhitungkan.
Dengan demikian, jelaslah bahwa perlunya praktik berkelanjutan seperti penggunaan bahan daur ulang, regulasi mengenai mikroplastik dan efisiensi penggunaan bahan kimia pada industri tekstil. Maka, para pemangku kepentingan sangat penting melakukan kolaborasi dalam menyikapi perngembangan bahan pakaian dari mikroplastik. Sehingga pada akhirnya berbagai potensi risiko kesehatan tersebut tidak terjadi dan dapat mendorong industri tekstil yang berkelanjutan. (Palacios-Mateo, C. et.al, 2021) (Liu, J. et.al, 2020).
Masyarakat Indonesia yang gemar mengikuti perkembangan dunia fashion seharusnya bisa membuka wawasannya. Perilaku konsumtif dalam perkembangan fashion kekinian mestinya perlu diimbangi dengan kesadaran akan kesehatan lingkungan.
Maraknya impor pakaian bekas dari luar negeri sebisa mungkin harus diminimisasi. Budaya konsumsi pakaian bekas untuk menghemat biaya atau dikenal dengan istilah “Thrifting” dapat menambah permasalahan lingkungan baru di Indonesia. Industri lokal dapat merugi karena adanya budaya ini. Terlebih lagi pakaian bekas yang diimpor dari luar negeri, berpotensi menimbulkan masalah kesehatan baru bagi konsumen (Dewi, 2020).
