Konten dari Pengguna

Memahami Trauma Bonding pada Korban Kekerasan dalam Pacaran

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Malihah Putri Komaruzzaman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Shutterstock

Kasus penyekapan dan penganiayaan yang dialami seorang perempuan berinisial YTR (29) oleh pacarnya, TH, di Kabupaten Bandung baru-baru ini menyita perhatian publik.

Selama kurang lebih tiga tahun, korban diduga mengalami penyekapan, kekerasan fisik, hingga tekanan psikologis dalam hubungan yang seharusnya menjadi ruang aman.

Terungkapnya kasus ini memunculkan keprihatinan sekaligus memancing beragam respons di media sosial. Tidak sedikit yang mempertanyakan mengapa korban tidak segera melarikan diri atau mengakhiri hubungan tersebut.

Sekilas, pertanyaan itu memang terdengar masuk akal. Namun, di balik hubungan yang penuh kekerasan, keputusan untuk pergi tidak sesederhana yang dibayangkan.

Korban bukan hanya berhadapan dengan ancaman fisik, tetapi juga manipulasi dan tekanan emosional yang perlahan mengubah cara mereka memandang diri sendiri, pelaku, bahkan hubungan yang sedang dijalani. Dalam psikologi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep trauma bonding.

Trauma bonding merupakan ikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku akibat siklus kekerasan yang berlangsung secara berulang.

Ikatan ini bukan muncul karena korban menikmati perlakuan buruk yang diterimanya. Sebaliknya, ikatan tersebut terbentuk karena hubungan dipenuhi pola yang saling bertolak belakang.

Di satu sisi pelaku melakukan penghinaan, ancaman, atau kekerasan, tetapi di sisi lain ia meminta maaf, menunjukkan perhatian, memberikan harapan, atau berjanji akan berubah.

Pergantian antara luka dan kasih sayang inilah yang membuat korban terus berharap bahwa pasangan yang mereka cintai akan kembali seperti dulu.

Harapan tersebut sering kali menjadi alasan korban tetap bertahan. Bukan karena mereka menerima kekerasan, melainkan karena masih percaya bahwa hubungan itu bisa diperbaiki.

Situasi ini semakin rumit ketika pelaku mulai membatasi kehidupan korban, menjauhkan mereka dari keluarga dan teman, atau membuat korban bergantung secara emosional.

Lambat laun, korban kehilangan ruang aman untuk bercerita dan semakin sulit melihat bahwa apa yang dialaminya adalah bentuk kekerasan.

Seiring waktu, korban juga dapat kehilangan rasa percaya pada dirinya sendiri. Kritik yang terus-menerus, penghinaan, hingga kontrol terhadap aktivitas sehari-hari membuat korban mulai meragukan kemampuan dan harga dirinya.

Tidak sedikit yang akhirnya percaya bahwa mereka tidak akan mampu hidup tanpa pelaku, atau merasa tidak ada orang lain yang akan menerima mereka.

Keyakinan seperti ini tidak muncul dalam semalam, melainkan terbentuk dari manipulasi psikologis yang dilakukan secara terus-menerus.

Sayangnya, masyarakat sering kali hanya melihat hasil akhirnya. Korban dianggap lemah, tidak berani mengambil keputusan, bahkan ada yang menuduh korban menikmati hubungan tersebut.

Padahal, berbagai kajian psikologi menunjukkan bahwa paparan kekerasan yang terjadi berulang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, dan menilai situasi yang sedang dihadapinya.

Rasa takut, ketergantungan emosional, serta harapan yang terus dipelihara membuat korban merasa bertahan adalah pilihan yang paling mungkin, meskipun mereka sedang berada dalam kondisi yang membahayakan.

Kasus YTR (29) juga menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam pacaran jarang terjadi secara tiba-tiba. Hubungan yang pada awalnya dipenuhi perhatian perlahan dapat berubah menjadi hubungan yang sarat kontrol.

Membatasi pergaulan, mengawasi telepon genggam, menentukan dengan siapa pasangan boleh bertemu, hingga mengatur aktivitas sehari-hari sering kali dianggap sebagai bentuk cinta atau kecemburuan yang wajar.

Padahal, perilaku-perilaku tersebut dapat menjadi tanda awal hubungan yang tidak sehat apabila dilakukan untuk mengendalikan pasangan.

Memahami trauma bonding bukan berarti membenarkan tindakan pelaku ataupun mengurangi tanggung jawab hukumnya. Sebaliknya, pemahaman ini membantu kita menyadari bahwa korban membutuhkan dukungan, rasa aman, dan akses terhadap bantuan, bukan penghakiman.

Semakin cepat korban merasa dipercaya dan didengar, semakin besar pula peluang mereka untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat.