Konten dari Pengguna

Pacaran di Jakarta Nggak Harus Punya Motor, kok!

Malik Ibnu Zaman

Malik Ibnu Zaman

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Malik Ibnu Zaman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/photos/people-train-indonesia-jakarta-4295080/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/photos/people-train-indonesia-jakarta-4295080/

Kata kawan-kawan saya jika ingin punya pacar di Jakarta harus punya motor, kalaupun tidak punya motor setidaknya bisa mengendarai motor. Sebab perihal motor bisa pinjam ke orang lain, asalkan bensin diisi full.

"Sudah tidak punya motor, tidak bisa pula mengendarai motor. Jangan harap bakal gampang mendapatkan pacar di Jakarta," ujar salah seorang kawan saya bernama Surinam pada sebuah obrolan di kontrakan. Saya yakin ucapan tersebut ditunjukkan kepada saya, mengingat motor saya ditinggal di kampung halaman. Kemudian meskipun bisa mengendarai motor, saya belum berani mengendarai motor di jalanan ibukota.

Awalnya saya kepikiran juga dengan apa yang dikatakan oleh Surinam. Tetapi setelah dipikir-pikir kenapa harus dipikirkan, toh mode transportasi di Jakarta juga banyak. Apalagi pemahaman saya tentang rute Transjakarta bisa dikatakan jauh lebih paham dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain.

Bukan hanya Surinam seorang saja yang berpikiran seperti itu, tetapi banyak. Akibatnya para jomblo menjadi khawatir, gara-gara tidak memiliki motor, dan tidak bisa mengendarai motor. Nasehat saya untuk para jomblo tidak perlu khawatir dengan urusan sepele semacam itu. Maka dari itu solusinya adalah harus memahami rute transportasi di Jakarta.

Kata salah seorang kawan saya yang bernama Lucky memahami rute transportasi di Jakarta bagi mahasiswa merupakan sebuah keharusan, kalau sampai tidak paham siap-siap saja bakal di kosan terus.

Sewaktu masih menjadi mahasiswa baru, saya pernah mengajak teman saya untuk menonton bioskop di Blok M. Ingat loh yah teman, bukan gebetan apalagi pacar. Untuk biaya transportasinya sendiri bolak balik Ciputat-Blok M Rp 7 ribu naik Transjakarta. Lalu untuk tiket bioskop 75 ribu, makan 25 ribu. Untungnya teman saya tersebut malah mintanya naik transportasi umum, dan tidak minta dibayarin.

Lalu tempat-tempat di Jakarta itu kan terintegrasi dengan moda transportasi, jadi tidak perlu khawatir. Misalnya nih mau ke Tanjung Priok dari Ciputat menggunakan Transjakarta, ada beberapa rute yang bisa digunakan, pertama Lebak Bulus-Senen, Senen-Tanjung Priok. Bisa juga Transjakarta rute Ciputat-Kampung Rambutan, Kampung Rambutan-Tanjung Priok.

Intinya kalian yang tidak punya motor atau tidak bisa mengendarai motor, tidak perlu minder baik dalam hal cinta, maupun hal lainnya. Logika sederhana saja yah, kata orang bijak cinta itu tidak memandang materi katanya, kalau memandang materi bukan cinta namanya.

Andaikata ada yang mau ngajak gebetan nonton bioskop, lalu dia nanya naik apa? kemudian kamu jawab naik Transjakarta. Terus dia nggak mau, lebih baik tinggalkan saja. Begitulah saran dari teman saya bernama Gotch.

Sementara itu kawan saya Surinam sampai sekarang masih kesulitan menemukan gebetan yang mau diajak ke bioskop naik moda transportasi umum. Untungnya sih Surinam punya motor, jadi dia tidak perlu khawatir.