Konten dari Pengguna

Aku Gelisah di Hadapan Iman, Kemiskinan dan Negara yang Diam

malik royan qodri

malik royan qodri

Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan hubungan internasional

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari malik royan qodri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi. Dokumentasi: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Dokumentasi: Pixabay

Tiga tahun jadi mahasiswa, kepala saya isinya nggak pernah benar-benar tenang. Rasanya hidup ini nggak adil sejak lama, dan makin hari makin nyata. Bukan cuma karena tugas kuliah, atau dosen yang suka ganti deadline seenaknya, tapi karena ada sesuatu yang lebih dalam dari itu—keresahan yang tumbuh pelan-pelan, lalu berubah jadi amarah yang susah dijelaskan.

Di kosan, tiap malam sebelum tidur, saya sering denger keluhan tetangga kost saya. Dia udah semester 12. Harusnya skripsi selesai dari dua tahun lalu, tapi kenyataan nggak semulus rencana. Sekarang, dia nyicil skripsi sembari kerja jadi ojol. Tiap hari mangkal dari pagi sampai malam, kadang sampai 12 jam lebih dia mangkal dari satu tempat ke tempat lain. Tapi orderan cuma dapet empat, kadang lima. Saya cuma bisa dengerin sambil nunduk. Nggak tahu harus jawab apa. Dalam hati saya bertanya, “Nanti giliran saya, bakal kayak gitu juga nggak?”

Yang bikin saya makin bingung, teman saya ini orangnya taat banget. Salat lima waktu nggak pernah bolong, playlist lagunya salawatan, dan tiap ada masalah yang menimpanya, dia selalu bilang, “Ya udah, ini cobaan dari Allah.” Saya iri—bukan sama hidupnya, tapi keteguhannya. Dia bisa bertahan dengan pasrah, sedangkan saya makin hari makin gelisah. Saya bertanya-tanya, masa sih semua ini cukup dijawab dengan sabar dan tawakal?

Dari situ saya mulai cari jawaban. Nggak sengaja saya nemu buku Islam Kiri—karyanya Eko Prasetyo. Judulnya aja udah bikin saya mikir dua kali. Tapi pas dibaca, isinya jauh dari yang saya bayangin. Di situ saya nemu satu hal yang selama ini nggak saya dapat: bahwa agama itu bukan sekadar urusan langit, tapi juga soal keberpihakan di bumi. Bahwa iman itu nggak cukup cuma dipeluk dalam hati—kadang kala juga harus dibentangkan di jalan. Bukan tentang agama sebagai alat cuci dosa saja, tapi sebagai kekuatan yang semestinya berpihak. Di halaman-halaman itu, saya nemu sesuatu yang selama ini hilang: kemarahan yang sah. Bahwa iman itu bukan cuma soal shalat dan puasa, tapi juga soal keberanian buat bilang, “Ini salah.”

Dan saya marah. Marah karena rakyat disuruh irit, tapi pejabat pamer gaya hidup. Marah karena harga bahan pokok naik, tapi yang disalahin malah emak-emak di pasar. Bukan cuma karena negara ini dipimpin oleh elite yang sering blunder, tapi juga karena kita disuruh diam. Disuruh nerima, disuruh kuat, disuruh bersyukur atas segala ketimpangan. Kekuasaan diwariskan kayak warisan rumah nenek. Jabatan jadi rebutan antar keluarga. Dan rakyat? Disuruh tepuk tangan sambil antre LPG.

Gelisah Itu Tidak Salah

Saya capek lihat berita yang isinya cuma pencitraan. Pejabat joget sama influencer, pura-pura akrab dengan rakyat sambil senyum-senyum di kamera. Anak pejabat pamer barang branded. Padahal di luar sana, buruh pabrik, freelancer dan orang-orang seperti teman kos saya, harus bekerja keras seharian demi bisa makan. Tapi ketika rakyat ngeluh, langsung dibilang rewel, nggak tahu bersyukur. Mahasiswa yang turun ke jalan? Langsung dicap kurang kerjaan, bikin macet, atau cuma pengen viral. Seolah-olah yang punya hak marah cuma mereka yang duduk di kursi kekuasaan.

Saya cuma pengen hidup layak tanpa harus nunduk terus. Tanpa harus merasa bersalah karena berani bilang, “Ada yang salah di negeri ini.”

Kadang saya duduk diem, ngerokok di teras kos, dan dalam hati bergemuruh. Mau marah, tapi ke siapa? Mau protes, takut dibilang nyari sensasi. Meskipun yang kita terima cuma ketimpangan asal yang penting nggak bikin gaduh,. Akhirnya saya cuma nunduk, isep rokok sampai filternya gosong, sambil nahan kata-kata yang nggak pernah sempat keluar. Semua rasa itu mengendap, jadi semacam sesak yang nggak bisa ditelan, tapi juga nggak bisa dimuntahkan.

Saya sadar, di tengah budaya “yang penting aman”, marah itu terasa asing. Bahkan kadang dianggap dosa. Kita tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan sabar sampai tulang, diam sampai beku, dan pasrah sampai mati rasa. Tapi saya juga tahu, terlalu lama diam bikin kita terbiasa. Terbiasa disuruh tunduk. Terbiasa dibohongi. Terbiasa hidup seadanya sambil terus disuruh bersyukur. Lama-lama kita belajar menertawakan luka sendiri, karena itu satu-satunya cara supaya tetap kelihatan waras.

Saya bukan aktivis. Bukan intelektual. Bukan siapa-siapa. Tapi saya percaya satu hal yang nggak bisa ditawar: kita nggak boleh berhenti merasa risih. Karena gelisah itu penting. Gelisah bikin kita bertanya. Gelisah bikin kita berpikir. Gelisah bikin kita sadar bahwa hidup begini, yang katanya normal, sebenarnya absurd.

Kalau semua orang udah nyaman hidup di tengah ketimpangan, kalau semua orang bisa tidur nyenyak di tengah kelaparan yang tak terlihat, berarti kita udah kalah total. Karena keterbiasaan adalah pembunuh paling sunyi dari nalar kita. Dan kegelisahan, sekecil apapun, adalah sisa-sisa keberanian yang masih ingin melawan. Ia bisa jadi nyala kecil yang suatu hari meledak, atau setidaknya menjaga kita agar tak sepenuhnya padam.