Konten dari Pengguna

Upaya Menemukan Antibiotik Baru di Lokasi yang Tak Terduga

Rita Maliza, PhD
Dr. Rita Maliza saat ini menjadi dosen dan peneliti di Departemen Biologi, Universitas Andalas, Padang dengan spesialisasi di bidang Endokrinologi Molekuler.
23 Mei 2024 12:27 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rita Maliza, PhD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Munculnya kuman-kuman yang kebal terhadap antibiotik merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Seiring dengan lambatnya penemuan antibiotik baru, para ilmuwan terdorong untuk mencari sumber-sumber yang tidak biasa sebagai solusi potensial untuk memerangi patogen-patogen berbahaya ini.
ADVERTISEMENT
Salah satu area eksplorasi baru yang menjanjikan adalah moonmilk - endapan mineral berwarna putih susu yang ditemukan di gua-gua batu kapur di seluruh dunia. Meskipun moonmilk telah digunakan dalam pengobatan tradisional selama berabad-abad karena dianggap memiliki sifat antimikroba, para peneliti modern baru saja mulai memahami ilmu pengetahuan di balik manfaat terapeutiknya yang potensial.
Kelompok penelitian kami baru-baru ini mempelajari khasiat moonmilk dari Gua Pindul, Gunungkidul, Yogyakarta sebagai bagian dari proyek kreativitas mahasiswa yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Indonesia. Moonmilk menyimpan banyak sekali komunitas bakteri yang beragam, termasuk banyak spesies Bacillus dan Streptomyces yang terkenal dengan kemampuannya untuk menghasilkan antibiotik dan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai kandidat obat. Tim kami berhasil mengidentifikasi Bacillus licheniformis dari moonmilk di Gua Pindul, yang menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa zona hambat yang paling signifikan terdeteksi pada konsentrasi 75% untuk E. coli (42 mm) dan konsentrasi 100% untuk S. aureus (23 mm). Bakteri yang terdapat di moonmilk harus mengembangkan strategi bertahan hidup yang unik untuk bertahan hidup di lingkungan gua yang miskin nutrisi dan ekstrem. Kami berpendapat bahwa lingkungan yang menantang ini telah memaksa mereka untuk mengembangkan berbagai macam zat antimikroba dan senyawa bioaktif lainnya yang tidak ditemukan pada mikroba yang hidup di tanah ataupun sumber lainnya.
Proses pengambilan moonmilk di Gua Pindul oleh angota tim penelitian Dr. Rita Maliza. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi tim riset Moonmilk Gua Pindul)
Meskipun antibiotik yang berasal dari moonmilk masih bertahun-tahun lagi untuk digunakan secara klinis, hasil penelitian ini menyoroti pentingnya mengeksplorasi habitat unik untuk sumber antimikroba baru. Sebagaimana yang kita ketahui, sekitar 99% spesies bakteri masih belum dapat dikultur di laboratorium, lokasi-lokasi eksotis seperti gua, dasar laut yang dalam, dan gurun padang pasir yang gersang mungkin menyembunyikan harta karun berupa sumber obat atau antibiotik baru.
ADVERTISEMENT
Pencarian antibiotik baru hanyalah sebagian kecil dari solusi. Menghentikan penggunaan obat-obatan yang berlebihan saat ini dalam perawatan kesehatan manusia dan pertanian juga akan memainkan peran penting dalam menjaga keefektifannya. Dengan terus menemukan senyawa baru dari lingkungan yang unik seperti moonmilk, kita mungkin dapat mengalahkan ancaman superbug.
Dalam sebuah ulasan, Gerry A. Quinn dan timnya dari Ulster University menyoroti pentingnya mencari sumber antibiotik baru dari tempat-tempat yang tidak biasa. Mereka menjelaskan bahwa banyak bakteri telah kebal terhadap obat-obatan saat ini (resistensi antibiotik). Streptomyces, salah satu genus bakteri penghasil antibiotik, seringkali ditemukan dalam obat-obatan tradisional dan lingkungan ekstrem. Hal ini menunjukkan bahwa Streptomyces telah berkontribusi pada kesehatan manusia sejak lama. Dengan mempelajari bakteri ini, kita berpotensi menemukan antibiotik baru yang strukturnya beragam dan efektif melawan patogen yang kebal obat.
ADVERTISEMENT
Lebih jauh, ulasan dari Quinn, dkk menyatakan bahwa lingkungan karst dan gua telah menarik minat yang cukup besar dari para peneliti dalam pencarian antibiotik yang berasal dari Streptomyces. Zat yang dikenal sebagai moonmilk yang ditemukan di gua-gua diyakini memiliki khasiat penyembuhan untuk berbagai penyakit yang dikaitkan dengan Streptomyces. Sebagai contoh, moonmilk diketahui memiliki potensi antibakteri yang menjanjikan terhadap beragam bakteri dan jamur, salah satunya Rasamsonia argillacea yang resisten terhadap berbagai jenis bakteri.
Sementara dari hasil penelitian kami menunjukkan genus lain yang juga umum ditemukan dalam moonmilk, yaitu Bacillus licheniformis sebagai bakteri utama dan dikenal karena kemampuannya dalam memproduksi antibiotik. Kami masih dalam tahap awal dalam mempelajari keanekaragaman antimikroba dari ekosistem yang belum dijelajahi ini. Penemuan setiap calon antibiotik baru, sekecil apa pun, akan memberi kita senjata baru untuk melawan ancaman krisis superbug.
ADVERTISEMENT
Kedepannya, para peneliti didorong untuk menyelidiki lingkungan yang ekstrim dan tidak biasa lainnya, seperti tanah mengandung alkali dan rare earth metal (logam tanah jarang). Lingkungan-lingkungan ini kemungkinan dapat menjadi habitat bagi mikroorganisme yang menghasilkan senyawa antibiotik baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Dengan terus mengeksplorasi sumber daya alam yang belum terjamah ini, kita dapat meningkatkan peluang untuk menemukan antibiotik baru yang dibutuhkan untuk melawan ancaman resistensi antibiotik yang terus berkembang.
Referensi:
Diba Pradana, A., Novi Sekarini, D., Amelia Suma, A., & Maliza, R. (2022). Study on the Antibacterial Effect from Moonmilk Pindul Cave, Indonesia. Iranian Journal of Medical Microbiology, 16(2), 165–172. https://doi.org/10.30699/ijmm.16.2.165
Quinn, G. A., Banat, A. M., Abdelhameed, A. M., & Banat, I. M. (2020). Streptomyces from traditional medicine: sources of new innovations in antibiotic discovery. Journal of Medical Microbiology, 69(8), 1040–1048. https://doi.org/10.1099/jmm.0.001232
ADVERTISEMENT