Apa Itu Kontraksi Jelang Melahirkan? Kenali Pengertian dan Jenisnya!

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kontraksi adalah salah satu momen yang pasti akan dialami oleh ibu hamil jelang persalinan. Kontraksi sering kali dianggap sebagai sesuatu hal yang menyeramkan karena terbayangkan rasa sakitnya. Teman Mama bahkan pernah cerita kalau dia sampai enggak bisa tidur karena terus kepikiran soal kontraksi ini.
Mama juga sering dengar cerita orang lain soal kontraksi ini, Ma. Bahkan ada yang pernah cerita kalau dia mengalami kontraksi sampai berhari-hari. Kontraksi ini memang enggak bisa disamakan antara satu wanita dengan wanita yang lain. Ketidakpastian ini juga mungkin menambah rasa takut ibu yang akan segera melahirkan.
Mama-Mama pernah mengalami juga enggak takut kontraksi? Buat mengurangi ketakutan yang mungkin dialami, ada baiknya kamu mengetahui apa itu kontraksi dan jenis-jenisnya.
Apa Itu Kontraksi Jelang Persalinan?
Mengutip Shutter Health, kontraksi adalah pengencangan dan relaksasi berkala otot rahim, otot terbesar dalam tubuh wanita menjelang persalinan. Sesuatu memicu kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon yang disebut oksitosin yang merangsang pengetatan rahim.
Kontraksi sering digambarkan sebagai sensasi kram atau tegang yang dimulai dari belakang dan bergerak ke depan dengan cara seperti gelombang. Ada juga yang mengatakan kontraksi terasa seperti tekanan di punggung.
Dalam proses persalinan, kontraksi ini menyebabkan bagian atas rahim (fundus) mengencang dan menebal sementara leher rahim dan bagian bawah rahim meregang dan rileks, membantu bayi keluar dari dalam rahim dan masuk ke jalan lahir untuk melahirkan.
Kontraksi ini akan semakin kuat dan semakin sering dirasakan oleh ibu hamil sampai ia mencapai waktu yang tepat untuk melahirkan.
Jenis Kontraksi Persalinan
Nah, ada beberapa jenis kontraksi yang bisa kamu pahami seperti dikutip dari Healthline berikut ini.
1. Kontraksi Awal (Early Labor)
Kontraksi pada tahap ini masih terbilang ringan. Kontraksi yang ibu hamil rasakan berlangsung antara 30 hingga 90 detik.
Kontraksi ini terorganisir, datang pada interval waktu yang teratur. Kontraksi mungkin mulai dengan jarak yang berjauhan, tetapi pada saat kamu mendekati akhir fase ini, kontraksi berjarak hanya lima menit.
Selama fase ini, kamu mungkin juga memperhatikan tanda-tanda lain yang membantu kamu menyadari bahwa ini adalah kontraksi sebenarnya. Saat serviks mulai terbuka, kamu mungkin melihat cairan berlendir seperti darah yang keluar dari vagina. Air ketuban juga mungkin pecah dalam fase ini.
2. Kontraksi Aktif dan Transisi (Active Labor and Transition)
Di fase ini, kontraksi akan lebih kuat dan lebih intens dari fase pertama. Selama tahap persalinan ini, serviks akan terbuka sepanjang 4 hingga 10 sentimeter sebelum waktunya untuk melahirkan.
Kamu mungkin merasakan setiap kontraksi seolah berefek ke seluruh tubuh. Kontraksi mungkin mulai terasa dari punggung dan bergerak di sekitar tubuh ke perut. Kaki mungkin juga mengalami kram dan sakit, Ma.
Kalau kamu menduga sedang dalam tahapan ini, kamu harus menghubungi dokter dan mempertimbangkan untuk pergi ke rumah sakit. Kontraksi aktif umumnya berlangsung antara 45 hingga 60 detik, dengan interval tiga hingga lima menit istirahat di antaranya.
Sedangkan fase transisi adalah ketika serviks melebar dari 7 menjadi 10 sentimeter. Polanya berubah menjadi kontraksi yang berlangsung selama 60 hingga 90 detik, dengan jeda antara 30 detik hingga 2 menit saja.
Kontraksi bahkan mungkin tumpang tindih saat tubuh bersiap untuk mendorong bayi keluar dari rahim. Sebagian wanita juga mungkin mengalami muntah di fase ini.
Kontraksi adalah hal yang memang harus dihadapi menjelang persalinan. Tidak perlu khawatir berlebihan, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter tentang hal apa saja yang bisa dilakukan untuk meredakan rasa sakit saat kontraksi.
(RPR)
