Cara Menghitung Masa Subur Setelah Haid, Ini Panduannya!

ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu hal yang bikin Mama bingung waktu awal menikah adalah bagaimana cara menghitung masa subur setelah haid. Sebelum menikah, Mama enggak terlalu memerhatikan soalnya merasa belum butuh. Tetapi setelah menikah dan berencana untuk segera punya momongan, Mama baru mulai cari-cari info.
Bagi yang sudah menikah, tahu kapan masa subur jadi penting banget. Kalau kamu berencana punya atau menambah anak, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah masa subur. Begitu juga kalau kamu berencana menunda atau menjaga jarak kehamilan.
Kamu perlu tahu, kalau masa subur tiap wanita ini bisa sangat berbeda. Jangankan antara kamu dan wanita lain, masa suburmu tiap bulan juga pasti berbeda-beda karena berkaitan erat dengan siklus menstruasi. Tetapi jangan khawatir, Ma, karena ada cara yang bisa kamu terapkan untuk menghitung masa subur setelah haid
Mengutip Medical News Today, wanita paling subur dalam satu atau dua hari ovulasi, yaitu saat ovarium melepaskan sel telur. Setelah dilepaskan, sel telur bergerak ke tuba fallopi, di mana ia tinggal selama 24 jam atau lebih.
Kehamilan terjadi jika sperma berjalan ke tuba fallopi dan membuahi sel telur selama waktu ini. Jika sperma tidak membuahi sel telur, sel telur bergerak ke rahim dan pecah, siap untuk keluar dari tubuh selama periode menstruasi berikutnya.
Lalu kapan sih terjadinya ovulasi pada seorang wanita? Untuk mengetahui kapan kamu sedang dalam masa subur atau sedang ovulasi, kamu harus menghitungnya berdasarkan siklus menstruasi yang kamu alami.
Cara Menghitung Masa Subur setelah Haid
Cara Menghitung Masa Subur setelah Haid
Berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk menghitung masa subur setelah haid:
1. Hitung Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi rata-rata setiap wanita adalah antara 21 sampai 35 hari. Beberapa wanita mungkin bisa saja memiliki siklus yang lebih pendek, sementara yang lainnya memiliki siklus yang lebih lama. Siklus menstruasi ini dihitung dari hari pertama kamu haid sampai haid lagi di periode berikutnya ya, Ma.
2. Catat Siklus Terpanjang dan Terpendek
Karena siklus menstruasi sering berubah maka penting untuk mencatat berapa siklus terpanjang dan terpendekmu. Mengutip Step to Health kamu bisa menghitungnya dengan cara mengurangi 18 hari dari siklus yang lebih pendek dan 11 hari dari siklus menstruasi yang terpanjang. Misalnya siklus terpendekmu adalah 27 hari. Kamu bisa menggunakan rumus hitungan dikurangi 18. Artinya, 27-18 = 9. Maksudnya, hari pertama masa subur kamu adalah hari ke-9 setelah hari pertama haid. Lalu jika siklus terpanjang misalnya 30 hari, maka 30-11=19. Artinya, masa subur adalah hari ke-19 setelah menstruasi dimulai.
3. Ketahui Rata-rata Masa Subur
Setelah kamu tahu panjang siklus menstruasi, kamu perlu mengetahui rata-ratanya. Hal ini bisa memperkirakan kapan waktu ovulasi dimulai. Kebanyakan wanita berovulasi antara hari 11 dan 21 dari siklus mereka. Meski begitu, ovulasi tidak selalu terjadi pada hari yang sama setiap bulan dan dapat bervariasi menurut hari atau panjang siklus menstruasi yang dialami. Mengutip The Bump, berikut rata-rata masa subur wanita berdasarkan panjang siklus menstruasinya. - Jika panjang siklus rata-rata adalah 28 hari, ovulasi terjadi pada hari ke-14 setelah haid pertama. - Jika panjang siklus rata-rata adalah 35 hari, ovulasi terjadi pada hari ke-21 setelah haid pertama. - Jika panjang siklus rata-rata adalah 21 hari atau kurang, ovulasi terjadi pada hari ke-7 setelah haid pertama.
4. Perhatikan Perubahan pada Tubuh
Menentukan masa subur memang hal yang susah-susah gampang untuk dilakukan. Soalnya, ovulasi terjadi di dalam tubuh dan kita enggak bisa melihat apakah hitungan yang kita lakukan akurat atau tidak. Supaya membuatmu lebih yakin dalam menentukan masa subur, kamu juga perlu mengetahui beberapa perubahan yang mungkin terjadi selama kamu sedang berovulasi seperti berikut ini. - Kram ringan di perut bagian bawah. - Keputihan yang lebih basah, lebih jernih, dan lebih licin seperti putih telur. - Sedikit peningkatan suhu tubuh basal. - Dorongan seks yang lebih tinggi. - Nyeri di bagian payudara.
Catatan tambahan, Ma, ovulasi dan masa subur memang dapat berubah dari siklus ke siklus dan juga dapat berubah seiring bertambahnya usia. Kesuburan secara alami mulai menurun pada wanita mulai usia 35 tahun dan seterusnya.
Saat usia bertambah, jumlah telur dan kualitas sel telur menurun. Ovulasi juga bisa menjadi tidak teratur. Selain itu, beberapa kondisi medis, seperti endometriosis juga membuat pembuahan menjadi lebih sulit.
(RPR)
