Ciri Infeksi Luka Caesar Bagian Dalam, Seperti Apa?

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mama baru aja cari informasi soal ciri infeksi luka caesar bagian dalam setelah dengar cerita teman. Teman Mama ini cerita kalau waktu dia melahirkan anak pertamanya dia sempat mengalami infeksi bagian dalam.
Jujur aja waktu dengar ceritanya Mama ikutan ngilu sambil elus perut. Enggak kebayang deh gimana rasanya luka jahitan belum kering, ditambah lagi sama nyeri karena infeksi. Duh ngeri banget!
Tapi sebelum takut duluan, Mama mau kasih tahu kalau operasi caesar ini prosedur yang aman. Enggak semua yang mengalami operasi caesar akan kena infeksi. Dikutip dari Parents, hasil penelitian bilang kalau infeksi hanya terjadi di 6-11 persen kasus saja.
Infeksi ini terjadinya bisa di berbagai tempat. Mulai dari perut, rahim, atau di luka jahitan. Kalau sudah terdeteksi infeksi biasanya diberikan pengobatan antibiotik, Ma.
Tetapi yang namanya operasi caesar, bekasnya pasti sakit. Terus gimana ya cara membedakan mana nyeri yang normal dan mana nyeri yang diakibatkan oleh infeksi khususnya infeksi di bagian dalam? Yuk kita cari tahu jawabannya, Ma.
Ciri Infeksi Luka Caesar Bagian Dalam
Bekas luka operasi caesar dapat terinfeksi jika bakteri memasukinya. Nah kalau bakteri ini menyebar maka akan mengakibatkan infeksi di bagian dalam rahim atau perut. Gejala infeksi biasanya muncul dalam beberapa hari setelah operasi.
Kalau infeksi hanya terjadi di bagian luar atau hanya di luka sayatan maka gejalanya meliputi:
Kemerahan di sekitar sayatan.
Pembengkakan abnormal di sekitar sayatan.
Keluarnya cairan dari luka.
Tetapi kalau infeksi yang kamu alami adalah infeksi bagian dalam atau di rahim, maka gejalanya meliputi:
Demam.
Sakit perut yang intens.
Keputihan berbau busuk.
Luka sayatan berdarah dan bernanah.
Risiko terjadinya infeksi pascaoperasi caesar bergantung pada alasan operasi caesar dilakukan, Ma. Misalnya, operasi caesar yang sudah direncanakan memiliki risiko yang sedikit lebih rendah daripada operasi caesar darurat karena dokter dan pasien memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan operasi.
Terlebih lagi, faktor tertentu pada kondisi ibu juga bisa meningkatkan risiko infeksi setelah operasi caesar. Misalnya ibu memiliki diabetes yang tidak terkontrol, pernah operasi caesar sebelumnya, minum obat imunosupresan, obesitas, dan merokok.
Lalu, bisa enggak ya kalau infeksi ini dicegah? Jawabannya bisa Ma! Apalagi kalau memang operasi caesar yang kamu lakukan sudah direncanakan sebelumnya.
Dokter mungkin akan meminta kamu untuk tidak bercukur sebelum persalinan caesar dan mandi menggunakan sabun antibakteri khusus. Lalu untuk yang memiliki riwayat diabetes, ibu mungkin akan diminta untuk mulai mengurangi konsumsi gula sebelum dan setelah operasi dilakukan.
Setelah kamu pulang dari rumah sakit, penting banget untuk mengikuti instruksi perawatan luka untuk mencegah luka sayatan yang terinfeksi.
Biasanya kamu akan diajari untuk membersihkan bekas luka dan mengganti perban secara teratur. Kamu juga harus menghindari menggendong bayi atau menaruh bayi tepat di atas luka pascaoperasi caesar.
Pertanyaan lain sempat Mama tanyakan adalah bagaimana perawatan kalau kita sudah mengalami infeksi? Dari apa yang Mama baca, infeksi pascaoperasi caesar baik di luka sayatan atau infeksi bagian dalam kemungkinan akan diobati dengan antibiotik.
Kalau kamu masih di rumah sakit, dokter mungkin akan memberikan antibiotik intravena. Tetapi kalau kamu sudah di rumah, dokter mungkin akan meresepkan obat oral.
Dokter pasti akan memilih antibiotik yang tepat untuk infeksi spesifik yang kamu alami. Dalam kasus yang parah, mereka dapat melakukan operasi kecil untuk mencegah komplikasi lebih lanjut juga, Ma.
(RPR)
