Kenali Tanda Ovulasi Gagal dan Penyebabnya

Konten dari Pengguna
13 Oktober 2021 17:13
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi tanda ovulasi gagal. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tanda ovulasi gagal. Foto: Freepik
Mama baru aja baca kalau sebenarnya ada tanda ovulasi gagal yang bisa kita amati. Buat yang belum tahu, ovulasi gagal ini bisa jadi salah satu penyebab infertilitas atau ketidaksuburan. Karena itu, kali ini Mama akan berbagi informasi soal tanda ovulasi gagal dan penyebabnya.
Sebenarnya ada banyak faktor yang memengaruhi kehamilan wanita. Faktornya bisa berasal dari wanita ataupun dari pria. Kalau pada wanita, salah satu penyebab tidak kunjung hamil adalah ovulasi yang gagal.

Apa Itu Gagal Ovulasi?

Dalam istilah medis, gagal ovulasi ini biasa disebut anovulasi. Dikutip dari Cleveland Clinic, anovulasi adalah penyebab umum infertilitas atau ketidaksuburan.
Anovulasi disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon dan tanda utamanya adalah menstruasi yang tidak teratur. Anovulasi ini dalam banyak kasus dapat diobati dengan perubahan gaya hidup dan dengan pengobatan tertentu.
Anovulasi terjadi ketika sel telur atau ovum tidak terlepas dari ovarium selama siklus menstruasi. Sementara telur ini diperlukan untuk terjadinya kehamilan. Kejadian ini dipengaruhi oleh banyak hormon yang terlibat dalam ovulasi, sehingga ada banyak penyebab anovulasi.

Penyebab Ovulasi Gagal

Secara umum, penyebab anovulasi atau ovulasi gagal adalah ketidakseimbangan satu atau lebih hormon tertentu, terutama hormon yang terlibat dalam ovulasi, yang meliputi:
  • Hormon pelepas gonadotropin (GnRH).
  • Hormon perangsang folikel (FSH).
  • Hormon Luteinizing (LH).
Selain tiga hormon di atas, banyak sekali hormon yang bisa menyebabkan anovulasi. Bahkan hormon yang tidak terlibat langsung dalam ovulasi, seperti testosteron dan prolaktin, dapat memengaruhi hormon yang diperlukan untuk ovulasi.

Tanda Ovulasi Gagal

Ilustrasi tanda ovulasi gagal. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tanda ovulasi gagal. Foto: Shutterstock
Salah satu ciri seorang wanita berovulasi adalah mengalami menstruasi ketika sel telur tidak dibuahi. Lalu apakah wanita yang menstruasi berarti ovulasinya berhasil?
Menyadari tanda-tanda umum ovulasi dan melacak siklus menstruasi memang dapat membantu mengingatkan kamu akan tanda dan gejala anovulasi. Tetapi kamu harus tahu bahwa mengalami menstruasi tidak selalu berarti kamu telah berovulasi.
Untuk itu, kamu harus mengetahui tanda dan gejala anovulasi seperti berikut ini.
1. Memiliki Periode Menstruasi yang Tidak Teratur
Jarak menstruasi tiap wanita memang berubah-ubah. Terkadang jadi lebih cepat, tetapi tak jarang juga menjadi lebih lambat. Jika jangka waktu di antara periode menstruasimu terus berubah, itu dianggap sebagai periode yang tidak teratur.
Siklus menstruasi yang normal rata-ratanya adalah 28 hari, tetapi bisa beberapa hari lebih pendek atau lebih lama dari itu.
2. Mengalami Menstruasi yang Sangat Berat atau Ringan
Ilustrasi menstruasi. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menstruasi. Foto: Pixabay
Periode Menstruasi yang berat ditandai dengan kehilangan lebih dari 16 sendok teh atau setara 80 ml darah dalam satu periode menstruasi. Selain itu, seseorang dikatakan mengalami periode yang berat jika menstruasi berlangsung lebih lama dari tujuh hari.
Sedangkan seseorang dikategorikan mengalami menstruasi ringan ketika ia kehilangan darah kurang dari empat sendok teh atau setara 20 mL selama periode menstruasi.
3. Kurang Menstruasi (Amenore)
Amenore adalah kondisi di mana wanita tidak mempunyai siklus menstruasi sebagaimana mestinya. Misalnya, seorang wanita tidak mengalami menstruasi sampai berbulan-bulan padahal ia tidak sedang hamil.
4. Kurangnya Lendir Serviks
Tepat sebelum dan selama ovulasi, wanita biasanya mengalami keputihan paling banyak. Lendir serviks saat ovulasi ini biasanya terlihat seperti putih telur mentah. Jika wanita tidak mengeluarkan cairan ini, maka ia berpotensi mengalami anovulasi.
5. Memiliki Suhu Tubuh Basal yang Tidak Teratur
Suhu tubuh basal adalah suhu tubuh saat seseorang benar-benar beristirahat. Suhu tubuh basal biasanya diukur setelah bangun tidur dan sebelum melakukan semua jenis gerakan atau aktivitas fisik. Ketika seseorang sedang berovulasi maka suhu tubuh basalnya akan meningkat.
(RPR)