Kenapa Bayi Sering Gumoh? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mama-mama adakah yang pernah si kecil gumoh setelah menyusui? Bagi Mama yang baru pertama kali mengalaminya, pasti panik sekali ya.
Ketika bayi gumoh, kamu pasti khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan si kecil. Tapi, sebenarnya apa sih penyebab dari gumoh yang sering dialami bayi?
Sebelumnya, Mama nggak perlu panik ya, karena gumoh ini normal terjadi kok. Gumoh biasa terjadi pada bayi sehat selama tiga bulan pertamanya. Normal bagi bayi untuk memuntahkan ASI maupun susu formula yang diberikan. Terkadang, bayi gumoh setelah menyusu dan mengeluarkan lagi susu saat bersendawa.
Sebagian Mama mungkin menganggap gumoh yang terjadi pada bayi sama dengan muntah. Nyatanya, gumoh dan muntah itu dua hal yang berbeda loh, Ma.
Mengutip laman Mayo Clinic, gumoh adalah aliran yang merupakan isi perut bayi dan keluar melalui mulutnya, biasanya keluar bersamaan dengan sendawa. Sementara muntah terjadi dengan aliran yang kuat dan keluar dari mulut dengan jumlah lebih banyak.
Menurut American Academy of Pediatrics, beberapa bayi bisa lebih sering gumoh karena beberapa penyebab. Tetapi jika mereka tidak tampak tertekan, Mama tidak perlu khawatir.
Meski demikian, ada tanda-tanda yang harus diwaspadai yang mungkin menunjukkan bahwa gumoh memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.
Penyebab Bayi Gumoh
Mengutip laman Very Well Family, bayi baru lahir memiliki sistem pencernaannya yang masih terus berkembang. Karena kondisi itu, bayi lebih sering gumoh pada beberapa bulan pertama dibandingkan bulan-bulan selanjutnya.
Saat bayi menyusu, susu akan mengalir dari tenggorokan, lalu kerongkongan dan kemudian sampai di perut. Kerongkongan terhubung ke perut oleh cincin otot yang disebut sfingter esofagus bagian bawah. Sfingter ini akan terbuka untuk memberi susu jalan masuk ke perut, kemudian menutup kembali.
Namun, karena sistem pencernaannya masih belum matang sampai sekitar usia 6 bulan, aliran susu akan kembali naik ke kerongkongan dan disitulah bayi menjadi gumoh. Kondisi ini dikenal sebagai gastroesophageal reflux, infant reflux atau infant acid reflux.
Selain itu, ada tiga alasan utama mengapa bayi gumoh:
1. Minum Susu berlebihan
Minum susu terlalu banyak atau terlalu cepat bisa menjadi biang keladinya. Ini karena bayi memiliki perut yang kecil.
Bayi yang minum terlalu banyak susu dalam satu sesi menyusu mungkin akan cepat kenyang. Dan susu tambahan yang tidak dapat ditampung di perutnya keluar melalui gumoh tersebut.
2. Sensitivitas atau alergi
Bayi gumoh dapat disebabkan karena perut yang sensitif atau alergi terhadap makanan atau minuman yang Mama konsumsi. Alergen dapat ditransfer ke dalam ASI dan menyebabkan bayi muntah.
3. Menelan udara saat menyusu
Bayi yang minum dengan sangat cepat juga menelan udara bersama dengan susunya. Ini terutama jika Mama memiliki refleks let-down yang kuat atau persediaan susu yang melimpah.
Cara Mencegah Gumoh
Ada beberapa hal yang dapat Mama-mama lakukan untuk mengurangi kemungkinan atau frekuensi bayi gumoh, sebagai berikut:
1. Sendawakan Bayi
Seusai menyusui si kecil, usahakan untuk menyendawakan bayi untuk mengeluarkan udara dari perutnya yang tertelan selama menyusu. Setelah bersendawa, bayi akan lebih nyaman. Mengeluarkan udara juga dapat membuat lebih banyak ruang di perut bayi untuk terus menyusu.
2. Kondisi Menyusui yang Tenang
Mama dapat mencoba untuk membatasi gangguan, kebisingan, dan cahaya yang terang saat sedang menyusui. Menyusui dengan kondisi yang lebih tenang dapat menyebabkan bayi lebih sedikit gumoh. Jangan bergerak atau beraktivitas yang terlalu aktif sesaat setelah menyusui.
3. Beri Jeda saat Menyusui
American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk menunggu setidaknya 2,5 jam di antara waktu menyusui untuk bayi yang diberi susu formula, dan 2 jam untuk bayi yang disusui secara langsung. Ini penting untuk membiarkan perut kosong sebelum menambahkan lebih banyak susu ke dalam perut bayi.
4. Kelola Aliran ASI yang Kuat
Jika Mama memiliki refleks let-down yang kuat, ASI mungkin akan mengalir terlalu cepat untuk si kecil. Usahakan untuk menyusui dalam posisi berbaring sehingga bayi menyusu melawan gravitasi. Mama juga dapat memompa atau memerah ASI dari payudara sebelum mulai menyusui untuk membantu memperlambat aliran ASI.
5. Bereksperimen Dengan Posisi
Cobalah berbagai posisi menyusui yang berbeda untuk melihat apakah ada posisi yang lebih nyaman daripada posisi yang lain untuk bayi. Dan setelah menyusu, usahakan agar kepala bayi tetap tegak dan terangkat setidaknya selama 30 menit.
Kapan Gumoh Menjadi Tanda Bahaya?
Tanda dan gejala tertentu mungkin bisa menunjukkan kondisi yang mendasarinya atau sesuatu yang lebih serius daripada gumoh biasa. Segera hubungi dokter jika bayi Mama mengalami hal seperti berikut ini:
Berat badan yang tidak bertambah.
Gumoh yang terpaksa.
Cairan gumoh berwarna hijau atau kuning.
Menolak untuk menyusui berulang kali.
Mengalami kesulitan bernafas atau tanda-tanda penyakit lainnya.
Mulai gumoh pada usia 6 bulan atau lebih.
Menangis lebih dari tiga jam sehari dan lebih mudah frustasi dari biasanya.
Popoknya basah lebih sedikit dari biasanya.
Bayi tampak tidak nyaman baik saat menyusu atau saat gumoh.
(ANS)
Frequently Asked Question Section
Gumoh pada bayi umumnya terjadi pada usia berapa?

Gumoh pada bayi umumnya terjadi pada usia berapa?
Gumoh biasa terjadi pada bayi sehat selama tiga bulan pertamanya.
Apa perbedaan gumoh dan muntah?

Apa perbedaan gumoh dan muntah?
Gumoh adalah aliran mudah dari isi perut bayi yang keluar melalui mulutnya, biasanya keluar bersamaan dengan sendawa. Sementara muntah terjadi dengan aliran yang kuat dan keluar dari mulut lebih banyak.
Apakah perlu untuk menyendawakan bayi?

Apakah perlu untuk menyendawakan bayi?
Seusai menyusui si kecil, usahakan untuk menyendawakan bayi untuk mengeluarkan udara dari perutnya yang tertelan selama menyusu.
