Puisi tentang Ibu yang Menyentuh Hati

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah menemani si sulung menulis sebuah puisi tentang ibu untuk melengkapi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia, Mama tiba-tiba teringat tentang hobi Mama berpuisi. Walaupun belum sejago Chairil Anwar ataupun Sapardi Djoko Damono, Mama udah suka banget menulis puisi sejak SMA untuk membahasakan perasaan yang terkadang sulit Mama ucapkan langsung kepada orang-orang tertentu.
Alhasil, pada malam harinya Mama membuka salah satu buku kecil dengan sampul berwarna cokelat yang menjadi buku catatan khusus puisi-puisi yang pernah Mama tulis. Setelah anak-anak dan suami tertidur, Mama membuka lembar demi lembar dan puisi untuk ibunda di kampung halaman, puisi yang membuat Mama jadi kangen masa kecil.
Puisi tersebut merupakan salinan dari puisi pendamping kado ulang tahun yang Mama berikan kepada ibunda saat beliau berulang tahun ke-52.
Biar Mama-Mama enggak penasaran dengan puisi mengharukan itu, Mama dengan senang hati membagikannya di sini.
Puisi tentang Ibu
"Hadiah untukmu"
Kali ini, kuperkenalkan kepada dunia
seorang wanita bermata teduh
yang dalam tatapnya aku temukan kekuatan.
Dalam puisi ini,
Dia adalah embus nafas yang membuat sesak melega
Dia adalah tabah yang tak pernah mengenal batas
serta segala doa-doa baik yang gemar menyentuh semoga
Kali ini, kuperkenalkan kepada dunia
Wanita tangguh yang pada telapak kakinya
pantas dibangunkan Tuhan sebuah surga
Wanita yang selalu membuatku percaya
menjadi seorang ibu adalah pekerjaan paling mulia
Selamat ulang tahun, Bu
Segala doa baik untukmu
***
Nah, itu dia Ma puisi yang Mama tulis pakai hati untuk ibunda tercinta yang berulang tahun. Kalau dibaca ulang seperti sekarang, Mama jadi terjebak dilema di antara ingin memutar waktu dan enggak rela untuk meninggalkan masa-masa indah seperti sekarang setelah menjadi ibu.
Kalau ada Mama-Mama yang bertanya, gimana sih bisa menulis puisi? Jawaban yang paling harus dicoba adalah membiasakan membaca puisi. Percaya enggak percaya, dari kebiasaan membaca, kita ikut memaksimalkan pengetahuan seputar kosakata yang bisa diolah untuk menciptakan puisi yang menyentuh hati.
Dari yang Mama tahu, diksi atau pilihan kata memang menjadi modal utama untuk menulis puisi-puisi indah yang dapat membuat para pembacanya dibalut keharuan.
Selanjutnya, Mama juga mau memberikan salah satu puisi favorit Mama yang masih bertema tentang ibu. Ini merupakan salah satu puisi karya Amir Hamzah, seorang sastrawan ternama yang karya-karyanya menjadi bagian dari kekayaan budaya dan bahasa Indonesia. Sebelum penasaran, yuk langsung disimak aja Ma puisinya di bawah ini.
"Ibuku Dahulu"
Ibuku dahulu marah padaku
Diam ia tiada berkata
Aku pun lalu merajuk pilu
Tiada peduli apa terjadi
Matanya terus mengawas daku
walaupun bibirnya tiada bergerak
Mukanya masam menahan sedan
Hatinya pedih kerana lakuku
Terus, aku berkesal hati
Menurutkan setan, mengkacau-balau
Jurang celaka terpandang di muka
Kusongsong juga - biar cedera
Bangkit ibu dipegangnya aku
Dirangkumnya segera dikucupnya serta
dahiku berapi pancaran neraka
Sejuk sentosa turun ke kalbu
Demikian engkau;
Ibu, bapak, kekasih pula
berpadu satu dalam dirimu
mengawas daku dalam dunia
***
Bagaimana menurut Mama-Mama puisi karya Amir Hamzah di atas? Kalau menurut Mama sih, membaca puisi berjudul “Ibuku Dahulu” akan membawa kita bernostalgia pada masa kecil ketika melakukan kesalahan dan diharuskan menghadapi kemarahan ibu.
Bagaimanapun tingkah kurang baik kita, ibu selalu dengan tabah menghadapinya dan membuat kita menyesal melakukan kesalahan. Puisi yang ditulis pada November 1937 dan diterbitkan oleh Pujangga Baru itu punya kesan yang mewakili perasaan banyak anak kan, Ma?
Itulah Ma curahan hati sekaligus pengalaman singkat dari Mama serta salah satu puisi tentang ibu karya sastrawan besar Indonesia. Semoga ada manfaat yang bisa diambil ya, Ma.
(TMA)
