Konten dari Pengguna

Puisi tentang Ibu yang Menyentuh Hati

Mama Rempong

Mama Rempong

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ibu. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu. Foto: Freepik

Setelah menemani si sulung menulis sebuah puisi tentang ibu untuk melengkapi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia, Mama tiba-tiba teringat tentang hobi Mama berpuisi. Walaupun belum sejago Chairil Anwar ataupun Sapardi Djoko Damono, Mama udah suka banget menulis puisi sejak SMA untuk membahasakan perasaan yang terkadang sulit Mama ucapkan langsung kepada orang-orang tertentu.

Alhasil, pada malam harinya Mama membuka salah satu buku kecil dengan sampul berwarna cokelat yang menjadi buku catatan khusus puisi-puisi yang pernah Mama tulis. Setelah anak-anak dan suami tertidur, Mama membuka lembar demi lembar dan puisi untuk ibunda di kampung halaman, puisi yang membuat Mama jadi kangen masa kecil.

Puisi tersebut merupakan salinan dari puisi pendamping kado ulang tahun yang Mama berikan kepada ibunda saat beliau berulang tahun ke-52.

Ilustrasi Menulis Puisi tentang Ibu. Foto: Freepik

Biar Mama-Mama enggak penasaran dengan puisi mengharukan itu, Mama dengan senang hati membagikannya di sini.

Puisi tentang Ibu

"Hadiah untukmu"

Kali ini, kuperkenalkan kepada dunia

seorang wanita bermata teduh

yang dalam tatapnya aku temukan kekuatan.

Dalam puisi ini,

Dia adalah embus nafas yang membuat sesak melega

Dia adalah tabah yang tak pernah mengenal batas

serta segala doa-doa baik yang gemar menyentuh semoga

Kali ini, kuperkenalkan kepada dunia

Wanita tangguh yang pada telapak kakinya

pantas dibangunkan Tuhan sebuah surga

Wanita yang selalu membuatku percaya

menjadi seorang ibu adalah pekerjaan paling mulia

Selamat ulang tahun, Bu

Segala doa baik untukmu

***

Nah, itu dia Ma puisi yang Mama tulis pakai hati untuk ibunda tercinta yang berulang tahun. Kalau dibaca ulang seperti sekarang, Mama jadi terjebak dilema di antara ingin memutar waktu dan enggak rela untuk meninggalkan masa-masa indah seperti sekarang setelah menjadi ibu.

Ilustrasi Ibu dan Anak. Foto: Freepik

Kalau ada Mama-Mama yang bertanya, gimana sih bisa menulis puisi? Jawaban yang paling harus dicoba adalah membiasakan membaca puisi. Percaya enggak percaya, dari kebiasaan membaca, kita ikut memaksimalkan pengetahuan seputar kosakata yang bisa diolah untuk menciptakan puisi yang menyentuh hati.

Dari yang Mama tahu, diksi atau pilihan kata memang menjadi modal utama untuk menulis puisi-puisi indah yang dapat membuat para pembacanya dibalut keharuan.

Selanjutnya, Mama juga mau memberikan salah satu puisi favorit Mama yang masih bertema tentang ibu. Ini merupakan salah satu puisi karya Amir Hamzah, seorang sastrawan ternama yang karya-karyanya menjadi bagian dari kekayaan budaya dan bahasa Indonesia. Sebelum penasaran, yuk langsung disimak aja Ma puisinya di bawah ini.

Ilustrasi Ibu dan Anak. Foto: Freepik

"Ibuku Dahulu"

Ibuku dahulu marah padaku

Diam ia tiada berkata

Aku pun lalu merajuk pilu

Tiada peduli apa terjadi

Matanya terus mengawas daku

walaupun bibirnya tiada bergerak

Mukanya masam menahan sedan

Hatinya pedih kerana lakuku

Terus, aku berkesal hati

Menurutkan setan, mengkacau-balau

Jurang celaka terpandang di muka

Kusongsong juga - biar cedera

Bangkit ibu dipegangnya aku

Dirangkumnya segera dikucupnya serta

dahiku berapi pancaran neraka

Sejuk sentosa turun ke kalbu

Demikian engkau;

Ibu, bapak, kekasih pula

berpadu satu dalam dirimu

mengawas daku dalam dunia

***

Ilustrasi Kebahagiaan Ibu dan Anak. Foto: Freepik

Bagaimana menurut Mama-Mama puisi karya Amir Hamzah di atas? Kalau menurut Mama sih, membaca puisi berjudul “Ibuku Dahulu” akan membawa kita bernostalgia pada masa kecil ketika melakukan kesalahan dan diharuskan menghadapi kemarahan ibu.

Bagaimanapun tingkah kurang baik kita, ibu selalu dengan tabah menghadapinya dan membuat kita menyesal melakukan kesalahan. Puisi yang ditulis pada November 1937 dan diterbitkan oleh Pujangga Baru itu punya kesan yang mewakili perasaan banyak anak kan, Ma?

Itulah Ma curahan hati sekaligus pengalaman singkat dari Mama serta salah satu puisi tentang ibu karya sastrawan besar Indonesia. Semoga ada manfaat yang bisa diambil ya, Ma.

(TMA)