Tahi Lalat pada Bayi, Apakah Berbahaya?

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu teman Mama lagi khawatir dan cari informasi soal tahi lalat pada bayi. Soalnya, bayinya yang baru lahir punya tahi lalat kecil di daerah wajahnya.
Sepengetahuan dia, tahi lalat biasanya membesar seiring berjalannya waktu. Jadinya, dia takut kalau tahi lalat ini punya risiko yang berbahaya untuk anaknya.
Akhirnya, Mama bantu dia cari-cari informasi soal tahi lalat pada bayi di internet. Dari yang Mama baca di Baby Center, sekitar 1 dari 100 bayi lahir dengan tahi lalat namun kebanyakan sih tidak berbahaya, Ma.
Tahi lalat yang didapat bayi saat lahir ini disebut nevi kongenital. Jenis tahi lalat lain kemungkinan besar akan berkembang dalam 20 tahun pertama kehidupan, meskipun tahi lalat bisa muncul pada usia berapa pun. Tahi lalat juga bisa berkembang dari waktu ke waktu atau muncul secara tiba-tiba.
Kebanyakan tahi lalat tidak berbahaya, tetapi hampir 50 persen kasus melanoma (sejenis kanker kulit yang serius) dimulai pada tahi lalat.
Kabar baiknya adalah melanoma sangat jarang terjadi pada anak kecil, jadi kamu enggak perlu panik kalau anak memiliki tahi lalat. Tapi tetap merupakan ide yang baik untuk memantau tahi lalat dengan hati-hati, dan perhatikan perubahannya dengan cermat.
American Academy of Dermatology memiliki beberapa panduan untuk membantu kamu menentukan apakah tahi lalat membutuhkan perhatian dokter atau tidak. Singkatannya adalah ABCD.
A adalah untuk asimetri. Tahi lalat umumnya memiliki bentuk simetris sempurna, dan salah satu pinggirannya akan cocok dengan sisi yang satunya. Tahi lalat yang dicurigai sebagai gejala kanker kulit akan memiliki ketidakcocokan dalam ukuran dan bentuk. Hal ini diakibatkan karena sel pada salah satu sisinya bertumbuh lebih cepat daripada yang lain.
B adalah untuk border atau batas tahi lalat. Ini terjadi jika tepian tahi lalat tidak rata, berlekuk, dan kasar, biasanya itu adalah tanda melanoma.
C untuk color atau warna. Jika tahi lalat berwarna campuran cokelat dan hitam ini bisa jadi tanda kalau tahi lalat bersifat kanker.
D untuk diameter. Tahi lalat yang tumbuh besar tiba-tiba, lebih besar dari 6 milimeter, dapat mengindikasikan adanya masalah.
Tanda Tahi Lalat pada Bayi Berbahaya
Dari yang Mama baca di American Academy of Dermatology, setidaknya ada 3 tanda yang mengindikasikan kalau tahi lalat bersifat berbahaya.
1. Pertumbuhannya sangat cepat
Jika tahi lalat tumbuh atau berubah dengan cepat, ini bisa mengkhawatirkan. Tahi lalat juga bisa mengkhawatirkan jika perubahan menyebabkan tahi lalat terlihat berbeda dari tahi lalat yang lain. Perubahan seperti itu bisa menjadi tanda melanoma.
2. Tahi lalat yang berbentuk kubah, memiliki batas bergerigi, atau memiliki warna berbeda
Jika kamu melihat pertumbuhan bulat yang menonjol pada kulit anak yang berwarna merah muda, merah, cokelat, atau cokelat, kemungkinan itu adalah Spitz nevus.
Spitz nevus tidak berbahaya, tetapi sangat mirip dengan melanoma, jenis kanker kulit yang paling serius. Melanoma bisa berdarah, pecah, atau berbentuk kubah. Spitz nevus dan melanoma dapat memiliki lebih dari 1 warna.
3. Tahi lalat berdarah
Tahi lalat yang terangkat dapat menyebabkan iritasi. Namun, jika tahi lalat berdarah tanpa alasan, itu harus diperiksa. Tahi lalat yang terlihat seperti luka terbuka juga mengkhawatirkan. Pendarahan atau kerusakan pada kulit seperti ini bisa menjadi tanda melanoma.
Tetapi Mama-Mama jangan panik ya kalau si kecil punya tahi lalat. Tiga kondisi tadi biasanya dialami ketika anak lebih besar. Kalau anak mengalaminya tentu kamu harus membawanya ke dokter.
Mama-Mama harus ingat kalau tahi lalat pada bayi cukup umum dan kebanyakan enggak berbahaya. Supaya lebih pasti, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter kepercayaanmu ya, Ma.
(RPR)
