Konten dari Pengguna

Test Pack Negatif tapi Belum Haid, Kenapa Ya?

Mama Rempong

Mama Rempong

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi test pack negatif tapi belum haid (Sumber: Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi test pack negatif tapi belum haid (Sumber: Pexels)

Kamu pernah bertanya-tanya enggak sih ketika test pack negatif tapi belum haid. Itu kenapa ya kira-kira?

Bagi Mama-Mama yang sedang menunggu atau menjalani program kehamilan, telat haid menjadi sebuah hal yang sangat ditunggu.

Akan tetapi, segala sesuatunya kadang enggak berjalan sesuai keinginan kita. Ada kalanya justru setelah melakukan test pack, hasilnya tetap negatif. Artinya, Mama-Mama masih perlu tetap bersabar menunggu hingga mendapatkan kabar baik mengenai kehamilan.

Kalau sudah test pack hasilnya negatif tapi belum kunjung mendapatkan haid, tentu saja hal tersebut membuat kita menjadi kebingungan, ya.

Kira-kira apa sih yang terjadi kalau test pack negatif tapi belum haid? Kalau Mama-Mama penasaran, berikut adalah penjelasannya yang telah Mama rangkum dari berbagai sumber. Cek info lengkapnya di sini, ya!

Alasan Test Pack Negatif tapi Belum Haid

Ilustrasi test pack negatif tapi belum haid (Sumber: Pexels)

Menunggu hasil test pack, enggak bisa bohong, pasti membuat kita menjadi deg-degan ya, Ma. Pastinya kita ingin kalau test pack tersebut menunjukkan hasil yang positif.

Namun, apabila test pack menampilkan hasil sebaliknya, yaitu negatif, berarti kehamilan belum terjadi dan mungkin malah sebentar lagi kamu akan mengalami haid meski terlambat dari siklus biasanya.

Nah, ketika sudah test pack dan hasilnya negatif tapi belum kunjung haid, sesungguhnya apa yang terjadi, ya?

Sebenarnya kondisi tersebut bisa disebabkan oleh berbagai hal, Ma. Mulai dari dipengaruhi oleh tingkat stres, wanita dengan berat badan yang rendah maupun yang obesitas, hingga adanya perubahan hormon yang mempengaruhi datangnya menstruasi.

Perlu Mama-Mama ketahui, ovarium wanita bakal menghasilkan sel telur setiap 12-14 hari usai menstruasi. Namun, kalau sel telur tidak kunjung dibuahi, maka lapisan rahim di bagian dalam akan luruh lalu terjadilah haid.

Nah, apabila ovarium enggak mengeluarkan sel telur, rahim pun tidak akan menerima adanya 'sinyal' yang mulai menandakan siklus menstruasi telah datang. Jadi, hal inilah yang bisa saja menyebabkan test kehamilan hasilnya negatif tapi malah telat haid.

Seperti yang sudah Mama sebutkan sebelumnya juga, wanita yang mengalami stres juga berisiko siklus haidnya menjadi tidak teratur. Melansir Mom Junction, kadar hormon biasanya menjadi tidak stabil saat Mama-Mama mengalami stres. Jumlah hormon yang tidak seimbang inilah yang dapat membuat wanita menjadi telat haid.

Ilustrasi test pack negatif tapi belum haid (Sumber: Pexels)

Selain itu, efek samping dari penggunaan KB hormonal juga dapat menyebabkan terjadinya telat menstruasi. Sebut saja pil KB, yang mengandung hormon estrogen dan progestin yang fungsinya mencegah ovarium melepaskan sel telur. Proses inilah yang bisa mempengaruhi hormon dan menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur. Umumnya, Mama-Mama memerlukan waktu beberapa bulan hingga akhirnya siklus menstruasimu kembali normal.

Beberapa penyakit kronis, seperti diabetes misalnya, juga bisa memengaruhi siklus menstruasi Mama-Mama. Terlebih, perubahan gula darah bisa sangat berkaitan pada perubahan hormonal.

Sebenarnya, hasil test pack negatif tapi belum menstruasi bisa juga disebabkan oleh kadar hormon hCG (hormon kehamilan) Mama-Mama belum dalam kadar yang cukup, hingga tidak bisa terdeteksi pada urine. Kalau kamu ingin memastikannya kembali, Mama-Mama bisa melakukan tes ulang setelah 10 atau dua minggu setelah telat menstruasi dari jadwal biasanya.

Pastikan juga, Mama-Mama telah menggunakan test pack sesuai dengan instruksi yang dijelaskan, ya!

Itulah dia beberapa alasan mengapa test pack negatif tapi belum haid. Kalau kamu masih ragu dan khawatir, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan dokter, ya. Agar bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang lebih tepat.

Semoga informasi ini bermanfaat untukmu!

(AN)