Konten Media Partner

Anggota DPRD Sulut Ini Berani Dukung Tuntutan Mahasiswa Soal Politik Dinasti

Manado Baciritaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota DPRD Sulawesi Utara, Ismail Dahab, duduk bersama para mahasiswa yang menggelar aksi Tolak RUU Pilkada, Jumat (23/8).
zoom-in-whitePerbesar
Anggota DPRD Sulawesi Utara, Ismail Dahab, duduk bersama para mahasiswa yang menggelar aksi Tolak RUU Pilkada, Jumat (23/8).

MANADO - Ada yang menarik dari demo mahasiswa dan simpul masyarakat di Kota Manado, yang menolak RUU Pilkada di kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Jumat (23/8).

Gabungan mahasiswa dan masyarakat ini sempat ditemui oleh Ismail Dahab, Anggota DPRD Provinsi Sulut dari Fraksi Partai NasDem. Walaupun sempat dilempari, namun Ismail tetap memaksa untuk menemui para pendemo, walaupun harus didampingi Kapolresta Manado, Kombes Pol FX Winardi Prabowo.

kumparan post embed

Setelah berdiskusi dengan para mahasiswa, Ismail kemudian menyatakan dukungannya untuk tuntutan dari para mahasiswa tersebut. Bahkan, tak segan-segan Ismail membuat pernyataan sikap yang di luar dugaan para massa aksi.

Pernyataan sikap dari Ismail tersebut adalah:

  1. Mendukung aspirasi gerakan mahasiswa dan masyarakat Sulawesi Utara dalam mengawal keputusan Mahkamah Konstitusi.

  2. Menolak segala bentuk upaya melanggengkan dinasti politik Jokowi dan Kroninya melalui perubahan undang-undang.

  3. Siap menerima segala konsekuensi hukum dan politik terhadap siapa saja dan pernyataan ini

Sebelumnya, para mahasiswa yang berasal dari beberapa Universitas ini menggelar demo di depan gedung DPRD Provinsi Sulut. Para mahasiswa sempat mendapat adangan dari Polisi.

Mahasiswa dan polisi berhadap-hadapan di depan kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara.

Para mahasiswa kemudian berhasil masuk hingga ke halaman kantor DPRD Sulut. Mereka terus menyerukan tuntutan mereka yang merasa konstitusi Indonesia dicurangi oleh kepemimpinan Presiden Jokowi.

Demo sempat memanas saat mahasiswa terus mendesak masuk ke gedung DPRD namun tetap mendapat adangan dari pihak kepolisian. Hal itu kemudian membuat para mahasiswa melakukan aksi bakar ban.

Anggota DPRD Sulut, Ismail Dahap kemudian turun menemui para mahasiswa untuk mendengar tuntutan para mahasiswa. Keadaan sempat ricuh, karena mahasiswa kecewa hanya ada satu anggota DPRD Sulut saja yang menemui mereka. Mahasiswa kemudian melemparkan sejumlah botol air mineral ke arah barisan barikade kepolisian.

Namun situasi kembali terkendali, di mana para koordinator aksi mahasiswa mengarahkan untuk tidak melakukan aksi anarkis.

Para mahasiswa kemudian bubar pada malam hari setelah mendengar pernyataan sikap dari anggota DPRD Sulut, Ismail Dahap.

febry kodongan