BNPB Sebut Abrasi Pantai di Minahasa Selatan Dampaknya Parah
ยทwaktu baca 2 menit

AMURANG - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengaku abrasi pantai yang terjadi di Minahasa Selatan (Minsel) sebagai bencana alam yang masuk kategori parah.
Hal ini disampaikannya saat mengunjungi langsung lokasi abrasi pantai di Kelurahan Bitung dan Kelurahan Ranoyapo (Uwuran), Kecamatan Amurang, Jumat (17/6).
"Terus terang saya awalnya hanya lihat (abrasi) dari televisi. Tapi ternyata begitu dilihat langsung, dampaknya cukup parah," kata Suharyanto.
Pada kesempatan itu, Suharyanto menyebutkan jika kedatangannya ke Minsel sebagai bentuk kepedulian pemerintah di bawah arahan Presiden Jokowi. Untuk itu, dirinya mengaku jika pihaknya akan memastikan tahap-tahap penanganan bencana berjalan sebagaimana mestinya.
Dikatakannya, tahap awal yang akan dilakukan adalah tahap tanggap darurat. Pemerintah pusat akan berkolaborasi dengan TNI-Polri serta semua Kementerian dan Lembaga terkait untuk menjadikan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama.
"Kami sudah meninjau langsung di lapangan, dan memang kondisinya masih belum aman. Tetapi atas kesigapan pemerintah dan TNI Polri, di sana sudah dijaga. Mudah-mudahan dalam tanggap darurat ini bisa segera teratasi," ujarnya kembali.
Dalam kunjungan di pos pengungsi, Suharyanto memberikan bantuan berupa santunan makanan, pakaian, matras serta perlengkapan lainnya.
Adapun kejadian abrasi pantai yang terjadi di Minahasa Selatan mengakibatkan satu buah jembatan di amurang minsel ambruk. Jembatan itu memiliki panjang 70 meter. Selain itu, jalan Boulevard Amurang sepanjang 500 meter juga amblas ke dalam laut.
Sementara, sebanyak 604 jiwa di dua kelurahan masing-masing Kelurahan Bitung dan Ranoyapo terdampak abrasi, di mana ada 64 keluarga dengan 256 jiwa yang harus mengungsi akibat rumah mereka hancur.
febry kodongan
