News
·
26 Juli 2021 16:49
·
waktu baca 4 menit

Cerita Fadly, Jurnalis yang Sempat Positif Corona: Serasa Berhenti Bernafas

Konten ini diproduksi oleh Manado Bacirita
Cerita Fadly, Jurnalis yang Sempat Positif Corona: Serasa Berhenti Bernafas (145697)
searchPerbesar
Fadhly Fitriansyah, menyalurkan bantuan untuk rekan-rekan jurnalis yang sementara menjalani Isolasi Mandiri
Fadly Fitriansyah, seorang jurnalis televisi, tak pernah menyangka dirinya akan terpapar virus corona. Walaupun sadar akan tugasnya yang penuh resiko di masa pandemi COVID-19, tapi dirinya tahu jika keteledorannya tak menggunakan masker di satu kesempatan, berujung fatal untuk dirinya.
ADVERTISEMENT
Beruntung dirinya cepat memilih datang ke rumah singgah pasien COVID-19, untuk menjalani isolasi dan mendapatkan perawatan. Fadhly pun harus rela libur lebarannya justru berada di ruang isolasi. Dua pekan dirinya diisolasi, sebelum dinyatakan sembuh dan bisa beraktivitas kembali.
Kesalahan Fatal Membuka Masker Saat Bertemu Banyak Orang
Fadly menceritakan, aktivitasnya sebagai seorang jurnalis televisi, membuat dirinya sangat beresiko terpapar COVID-19, karena aktivitasnya di luar rumah dan harus bertemu dengan banyak orang setiap harinya. Untuk itu, dirinya sangat taat menjalankan protokol kesehatan.
"Saya setiap hari menggunakan masker, selalu menyediakan hand sanitizer. Pokoknya protokol kesehatan benar-benar saya jalankan dengan baik," ujar Fadly, saat berbincang dengan manadobacirita.
Menurut Fadly, sejak awal pandemi di tahun 2020, hingga akhirnya terpapar COVID-19, dirinya selalu berusaha melindungi diri dengan menjalankan secara disiplin protokol kesehatan, baik menggunakan masker, rajin cuci tangan dan juga wajib untuk menjaga jarak. Apalagi, di lingkungan kantornya memang menerapkan standar yang tinggi untuk hal tersebut.
Cerita Fadly, Jurnalis yang Sempat Positif Corona: Serasa Berhenti Bernafas (145698)
searchPerbesar
Fadhly Fitriansyah saat bertugas sebagai seorang jurnalis televisi
Sayangnya, Fadhly mengaku mulai abai protokol kesehatan, karena melihat angka penyebaran yang berangsur berkurang di Sulawesi Utara. Dirinya, beberapa kali mulai lupa harus menjaga jarak saat berada di kerumunan banyak orang. Fatalnya menurut Fadhly, dirinya bahkan mulai berani membuka masker di tempat umum.
ADVERTISEMENT
Keteledoran ini berakhir fatal untuknya. Tiga hari sebelum Idul Fitri 1442 Hijriah, tepatnya 12 Mei 2021, Fadhly mengaku badannya mulai merasakan demam. Vitamin yang diminumnya setelah merasakan demam, ternyata tak berpengaruh untuknya. Tubuhnya tiba-tiba drop dua hari sebelum lebaran. Saat itu, dirinya mengaku langsung melakukan swab antigen dan hasilnya positif.
"Setelah positif antigen, saya sempat isolasi di rumah. Tapi, karena merasa demam semakin tinggi, saya beranikan diri ke rumah singgah bapelkes dan mendapatkan perawatan. Mungkin kalau terlambat ke Bapelkes, tidak tahu jadinya seperti apa," kata Fadhly.
Serasa Berhenti Bernafas
Selama masa terpapar COVID-19, Fadhly mengaku hal tersulit yang harus dihadapinya adalah kesulitan untuk bernafas. Dirinya mengaku, udara seperti hanya tertahan di leher dan tak sampai di paru-paru.
ADVERTISEMENT
"Serasa berhenti bernafas. Kadangkala sering terbangun, karena merasa tak bisa bernafas. Beruntung, tidak sampai harus menggunakan alat bantu pernafasan. Tapi, sesak sekali memang," ujar lulusan FISIP Unsrat ini.
Belum lagi menurut Fadhly, batuk yang serasa tidak pernah berhenti. Parahnya, setiap kali batuk, dadanya langsung terasa sakit. "Barasa batuk sampai di paru-paur," kata Fadhly.
Diceritaknnya, penciumannya juga hilang pada hari ketiga setelah positif dinyatakan COVID-19. Hal ini juga menurutnya jadi tantangan tersendiri, karena semua makanan tidak ada rasa atau hambar, sehingga mengakibatkan tidak adanya selera makan.
"Semua bercampur menjadi satu. Kalau tidak kuat, bisa memicu terjadi stres. Jadi lebih parah, karena pikiran kita jadi tak karuan. Makanya, saya selama isolasi itu, selalu berpikir positif dan menganggap itu sementara liburan. Kalau tidak, bisa tak tahan juga," ungkap Fadhly.
ADVERTISEMENT
Beruntung menurut Fadhly, seluruh perawat dan dokter di rumah singgah itu, benar-benar perhatian untuk seluruh pasien. Menurutnya, selama di rumah singgah, selalu mendapatkan kontrol kesehatan mulai dari tensi darah, kadar oksigen sampai denyut jantung. Hal itu dilakukan, setiap kali mengambil makanan atau setiap pagi, siang dan malam.
"Selama di sana itu saya harus makan teratur, minum obat teratur dan juga terapi lain seperti hirup minyak kayu putih dan cium alkohol. Alhamdulillah, satu pekan kemudian tepatnya di hari ke-9 sudah dinyatakan negatif," kata Fadhly kembali.
Sesalkan Orang yang Tak Percaya COVID-19 dan Abai Protokol Kesehatan
Setelah sembuh, Fadhly kini rajin mengedukasi orang untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan. Menurutnya, dia sangat menyesalkan jika masih banyak orang yang tak percaya COVID-19 itu ada. Apalagi menurutnya, banyak yang menyebar narasi ketidakpercayaan COVID-19 di media sosial. Dan ironisnya itu adalah wartawan dan juga beberapa tokoh masyarakat.
ADVERTISEMENT
"Terus terang saya sangat menyesalkan adanya orang-orang yang menyebarkan narasi tak percaya COVID-19. Memang, kalau belum kena pasti bisa bicara seperti itu. Tapi, kalau sudah kena, saya bisa pastikan kalian akan meminta-minta untuk mendapatkan perawatan agar bisa sembuh," ujar Fadhly dengan raut wajah sedih.
Menurut Fadhly, dirinya juga seakan ingin menegur semua orang yang tak mematuhi protokol kesehatan. Menurutnya, dia yang hanya abai menggunakan masker di beberapa kesempatan, sudah merasakan bagaimana dahsyatnya COVID-19 menggerogoti tubuhnya, terutama pernafasan.
Untuk itu, dirinya berharap orang-orang bisa taat dan disiplin dalam menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, karena bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi juga melindungi orang lain yang bertemu.
"Sekali lagi saya hanya bisa bilang, kalau belum rasa atau kena ini COVID-19, mungkin bisa berkoar-koar tidak percaya. Untuk itu, sebaiknya kita saling menjaga. Pakai masker dengan baik dan benar. Setidaknya, hargailah orang-orang yang kehilangan akibat COVID-19 ini," ujar Fadhly kembali.
ADVERTISEMENT
isa
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020