Cerita Faradila Bachmid, 13 Tahun Komitmen Literasi untuk Warga Tak Mampu

Konten Media Partner
20 Desember 2022 13:52
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
"Hidup bukan hanya soal eksistensi dan mempertahankan hidup. Namun lebih bernilai dari itu, hidup adalah sebuah harapan, di mana ketika kita dapat menghantarkan harapan untuk mimpi orang lain,"
Faradila Bachmid
zoom-in-whitePerbesar
Faradila Bachmid
Sepenggal kalimat yang penuh makna ini selalu menjadi motivasi buat Faradila Bachmid untuk terus konsisten selama 13 tahun terakhir dalam garis pengabdian hidupnya untuk membantu warga kurang beruntung dalam koridor literasi.
Faradila yang akrab disapa Dhyla sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), memang tergerak untuk membantu anak-anak putus sekolah dan kurang mampu di Kota Manado untuk diberikan pendidikan gratis.
Faradila Bachmid, peraih Satu Indonesia Award tahun 2017 yang tetap konsisten memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak kurang mampu di Sulawesi Utara. Aktivitas ini dilakukan Faradila sejak dirinya masih kelas 3 SMA hingga saat ini.
zoom-in-whitePerbesar
Faradila Bachmid, peraih Satu Indonesia Award tahun 2017 yang tetap konsisten memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak kurang mampu di Sulawesi Utara. Aktivitas ini dilakukan Faradila sejak dirinya masih kelas 3 SMA hingga saat ini.
Memulai program pendidikan gratis dan melakukan pendampingan untuk anak-anak kurang mampu yang ada di pasar dan terminal di Kota Manado pada tahun 2010, Dhyla yang saat itu masih kelas tiga SMA ingin agar anak-anak tersebut tetap mendapatkan pendidikan, minimal bisa membaca, menulis maupun berhitung.
"Kurang lebih tiga tahun dari tahun 2010 sampai 2013 dari pasar-pasar dan juga terminal. Anak-anak yang ikut semakin banyak dan kesadaran mereka untuk ikut pendidikan jadi lebih baik," kata Dhyla.
Tiga tahun harus berpindah-pindah dari satu pasar ke pasar lainnya, maupun di terminal, program pendidikan gratis ini kemudian dipindah ke Kelurahan Dendengan Dalam, tepatnya di Kampung Merdeka dengan program yang dihadirkan semakin bervariasi.
Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Kesetaraan, Pendidikan Vokasional (Life Skill dan Soft Skill), Taman Bacaan Masyarakat (TBM), di mana semua dilakukan dengan pendekatan literasi.
Menurut Dhyla, keputusan membuka lebih banyak kelas tak lepas dari bantuan orang tuanya, yang bersedia menjadikan kediaman mereka untuk dijadikan tempat belajar. Bahkan, semua support yang ada di tempat itu disediakan oleh orang tuanya.
Faradila Bachmid memberikan pendidikan untuk anak kampung nelayan
zoom-in-whitePerbesar
Faradila Bachmid memberikan pendidikan untuk anak kampung nelayan
"Suport system utama saya yang sampai hari ini begitu besar adalah kedua orang tuaku, yang telah dengan legowo, memberikan fasilitas dan menjadi donatur terbaik yang mampu menunjang seluruh kegiatan dan gerakan saya," ujar Dhyla.
"Tidak hanya fasilitas, namun pemberian waktu, tenaga, terjun langsung mengelola pendidikan kesetaraan, vokasi, dan literasi ini bersama, tanpa kenal lelah dan mengeluh. Bahkan memberikan ruang seluas-luasnya untuk dijadikan kediaman beliau berdua menjadi ruang publik kami. Tempat belajar, ruang kreatif, sekolah paud, dan taman bacaan."
Saat ini sendiri, terdapat Sekolah Umi dan Aba (ayah dan ibu Dhyla) di Pulau Gangga dan Pulau Nain, Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Diceritakan Dhyla, dirinya bersama dengan teman-teman Literasi Sulawesi Utara memberi bekal life skil operasionalkan komputer, dan mengajarkan untuk mencintai Kebaya Bajo.
Disebutnya, diajarkan masyarakat di sana keterampilan menjahit kebaya bajo, di mana tujuan utamanya adalah untuk memberi edukasi perlu melestarikan budaya lokal suku bajo.
"Dan kenapa memberi keterampilan komputer, agar anak-anak di Pulau tidak menjadi tamu di Pulaunya sendiri, artinya dia mampu bekerja di dunia pariwisata, yang notabenenya Pulau tempat kelahirannya menjadi Pulau destinasi wisata," kata Dhyla kembali.
Peresmian taman baca pulisan, di mana Faradila Bachmid yang merupakan duta baca Sulut ikut meresmikannya.
zoom-in-whitePerbesar
Peresmian taman baca pulisan, di mana Faradila Bachmid yang merupakan duta baca Sulut ikut meresmikannya.
Menjadi Role Model untuk Banyak Orang
Berbagai kegiatan terkait literasi terus dilakukan secara konsisten oleh Dhyla, hingga dirinya juga mendapatkan anugerah sebagai duta literasi. Hal inilah yang juga menjadikannya sebagai inspirasi beberapa orang yang akhirnya kini bergabung dalam komunitas literasi.
Peraih Satu Indonesia Award dari Astra pada tahun 2017 ini telah menjadi role model bagi banyak orang yang sepemikiran dengannya untuk bersama-sama memperjuangkan kegiatan literasi di wilayah Sulawesi Utara.
Di antara para siswa dan masyarakat di Sekolah Umi dan Aba (ayah dan ibu Dhyla) di Pulau Gangga dan Pulau Nain, Kabupaten Minahasa Utara (Minut)
zoom-in-whitePerbesar
Di antara para siswa dan masyarakat di Sekolah Umi dan Aba (ayah dan ibu Dhyla) di Pulau Gangga dan Pulau Nain, Kabupaten Minahasa Utara (Minut)
Apalagi, prinsip hidup wanita berhijab ini benar-benar sangat menginspirasi, di mana menurutnya, yang membuat dia tetap konsisten hingga saat ini adalah sebuah kesadaran utuh, bahwa hidup bukan hanya soal eksistensi dan mempertahankan hidup. Namun akan lebih bernilai dari itu, hidup adalah sebuah harapan, di mana ketika kita dapat menghantarkan harapan untuk mimpi orang lain.
Dikatakannya, setiap apa yang dilakukannya baik secara pribadi maupun gerakan literasi, selalu ditanamkan jika tujuan utama adalah untuk sama-sama belajar dan saling memberikan peluang-peluang sukses bagi teman-teman kami yang kurang beruntung dan termarjinalkan.
"Karena jika sukses hanya sendiri itu bukan sukses, karena sukses bersama itu lebih bermakna," ujar Dhyla yang belum lama melepas masa lajangnya itu.
Gerakan literasi di bidang pendidikan dan sosial yang dilakukan oleh Dhyla dan komunitas literasi di Sulut, menurutnya akan dilakukan saat ini dan sampai nanti, di mana itu adalah sebuah rasa aman dan bahagia, karena dapat memberikan yang terbaik bagi lingkungan terdekat sampai masyarakat luas di Sulut.
Perjalanannya di kegiatan literasi ini sendiri, diakui oleh Dhyla juga mendapatkan kendala. Namun diakui di dalam setiap jejak kehidupan, pasti akan ada kendala sebagai ujian.
Tapi menurutnya kendala itu bukan tidak bisa dipecahkan. Untuk itu, kendala bagi Dhyla dianggap sebagai sebuah peluang untuk lebih baik. Menurutnya, kendala utama bukan dari siapa dan apa, namun dari diri kita sendiri.
"Sejauh ini hampir kurang lebih 13 tahun, Alhamdulillah saya belum menemukan kendala yang berarti. Karena kendalanya hanya ketika kita harus belajar sabar dalam mengajak dan mengubah perlahan mindset generasi muda hingga para orang tua pentingnya pendidikan," katanya.
Selain itu, Dhyla mengaku selalu mendapatkan dukungan yang sangat besar dari keluarganya, termasuk suaminya yang baru dinikahinya. Bahkan menurutnya, sejak awal, suaminya selalu mendukung ide-ide gila dirinya, termasuk menemani dan tumbuh bersama sejak awal niat membuka sekolah kesetaraan untuk anak-anak yang kurang mampu hingga saat ini.
"Tentunya jika ada pertanyaan siapa yang menjadi support system terbesar, jawaban saya adalah Keluarga. Mulai dari Umi, Aba, Suami, Ade-ade, Kakak, Ponakan, semua mereka adalah orang-orang yang paling berpengaruh terhadap apa yang menjadi konsentrasi dan pilihan hidup saya. Mereka menjadi energi terbesar saya dalam bergerak," ujar Dhyla sembari tersenyum.
isa anshar jusuf