Konten Media Partner

Daerah di Sulut Ini Jadi Percontohan Program CABI Dalam Rangka Pengendalian ASF

Manado Baciritaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penyerahan piagam untuk suksesnya 3 daerah di Sulawesi Utara yang jadi percontohan untuk program Community African Swine Fever Biosecurity Intervention (CABI), dalam rangka menanggulangi penyebaran African Swine Fever (ASF) atau Flu Babi Afrika.
zoom-in-whitePerbesar
Penyerahan piagam untuk suksesnya 3 daerah di Sulawesi Utara yang jadi percontohan untuk program Community African Swine Fever Biosecurity Intervention (CABI), dalam rangka menanggulangi penyebaran African Swine Fever (ASF) atau Flu Babi Afrika.

MANADO - Tiga daerah di Sulawesi Utara ini sukses menjadi percontohan untuk program Community African Swine Fever Biosecurity Intervention (CABI), dalam rangka menanggulangi penyebaran African Swine Fever (ASF) atau Flu Babi Afrika yang menyerang hewan ternak babi.

Ketiga daerah itu adalah Kabupaten Minahasa, Minahasa Selatan (Minsel) dan juga Minahasa Utara (Minut). Program ini menyasar peternakan kecil skala rumahan.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, Wilhelmina Pangemanan, menjelaskan program tersebut merupakan inisiasi dari Kementerian Pertanian (Kementan), Food and Agriculture Organization (FAO) melalui Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) Indonesia dan Ministry of Agriculture, Food, and Rural Affairs (MAFRA) Republik Korea.

Ia menyebut penerapan program ini sangat perlu untuk membantu para peternak yang sebelumnya mengalami kerugian akibat hewan ternak mereka yang terserang ASF sejak tahun 2022 yang lalu.

“Program ini sangat terasa dampaknya. Kita lihat pada saat sebelum ASF masuk, populasi ternak babi itu bisa mencapai 400 ribuan. Tetapi setelah ada ASF, populasi ternak babi menurun drastis bahkan hanya tersisa sekitar 30 ribuan ekor saja,” kata Wilhelmina.

Peternakan babi di Sulawesi Utara.

Sementara, Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menyebut program CABI bertujuan untuk memperkuat kesadaran peternak melalui pelatihan, sumber daya, dan keterampilan praktis untuk menerapkan praktik biosekuriti yang efektif dan terjangkau di lahan peternakan mereka

"Ini mencakup kebersihan kandang dan pribadi hingga membatasi pergerakan ke luar masuk peternakan. Program ini telah berhasil dilaksanakan di tiga wilayah percontohan di Sulut," kata Hendra.

Lebih lanjut, ia berharap dengan berhasilnya penerapan program di tiga kabupaten ini mampu direplikasi ke berbagai daerah sekitar supaya mampu membangun ekosistem peternakan yang lebih sehat.

Senada dengan Hendra, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menekankan bahwa pengendalian di peternakan merupakan hal penting yang hanya dapat terwujud bila para peternak telah memiliki pemahaman yang memadai, yang diharapkan mampu menjaga kestabilan pangan.

“Dengan melibatkan peternak secara langsung dan memperkuat biosekuriti di tingkat komunitas, kami mendorong pendekatan berkelanjutan untuk melindungi sektor peternakan dan mata pencaharian yang bergantung padanya,” ujarnya lagi.