Digitalisasi Sistem Parkir Mulai Dijalankan PD Pasar Manado
·waktu baca 3 menit

MANADO – Digitalisasi sistem parkir menjadi salah satu terobosan yang dilakukan oleh Perusahaan Daerah Pasar atau PD Pasar Manado, menuju ke bentuk pengelolaan pasar yang profesional dan transparan.
Direktur Utama PD Pasar Manado, dr Roland Roeroe menyebutkan, selama ini pengelolaan parkiran masih dikelola secara tradisional, sehingga banyak potensi pendapatan yang bocor. Selain itu, sistem digitalisasi ini juga akan mencegah terjadinya konflik antar juru parkir.
"Melakukan sebuah perubahan itu sangatlah panjang. Tapi, kita di PD Pasar ini sudah memulai dari hal-hal yang dianggap sepele, tapi punya potensi besar. Salah satunya adalah pengelolaan parkiran yang kita bikin sistem digitalisasi," kata Roeroe.
Dijelaskan olehnya, parkir digital ini sudah mulai diterapkan sejak akhir Oktober 2021, di mana lokasinya masih uji coba tahap awal yakni di kawasah Shoping Center, yang nantinya akan dikembangkan hingga ke seluruh pasar tradisional dan lokasi yang dikelola oleh PD Pasar Manado.
Lanjut dikatakan Roeroe, parkir digital ini adalah bagian pelayanan untuk kenyamanan masyarakat, serta menghilangkan pungutan liar (Pungli) di bagian perparkiran. Pasalnya, dengan adanya parkir digital ini, masyarakat bisa mengetahui jumlah pembayaran serta berapa durasi parkirnya.
“Sebab masyarakat sekarang berhak meminta struk. Jadi setiap pengguna parkir, dengan adanya parkir digital, maka struk akan langsung keluar, dan ini akan lebih praktis, karena masyarakat akan langsung mengetahui berapa tarif yang dia bayar. Apakah sesuai dengan waktu kedatangan dan lamanya parkir,” ujar Roeroe.
Roeroe mengatakan, dimulai dari parkir, inovasi digitalisasi di perusahaan tersebut akan dilaksanakan secara keseluruhan, mulai dari pengelolaan internal kantor, perusahaan, administrasi dan keuangan, serta iuran-iuran yang dibayarkan oleh pihak lain akan ditata secara digital.
Namun demikian, Roeroe mengaku ada beberapa tahap yang akan dilaksanakannya, mengingat penyesuaian sistem digitalisasi ini bukan hanya bersifat internal, tetapi juga situasi kemampuan serta adaptasi dari pedagang dan masyarakat dalam dunia digital.
“Jadi ada beberapa pertimbangan mengapa digitalisasi harus dilakukan bertahap tidak boleh langsung sekaligus. Memang benar teknologi itu untuk membuat lebih praktis dan lebih terbuka dan transparan. Tapi, sudah sangat lama sistem tradisional digunakan, sehingga butuh waktu untuk merubah. Dan kita ingin itu berjalan sesuai tracknya," kata Roeroe.
“Juga bukan sekadar gaya-gayaan saja. Kalau hanya gaya-gayaan saja, tentunya parameter-parameternya akan menjadi kabur. Tetapi ini kami ingin laksanakan dalam rangka mengejar target-target yang tentu efek positifnya yang kita dapat."
Sementara itu, pengawas parkir Rikardo Lomboan, menjelaskan mekanisme parkir digital. Dia bilang, secara teknis, setiap pengendara yang akan keluar parkir, akan difoto pelat nomornya dan akan ke luar struk pembayaran melalaui mesin digital, yang dipegang oleh juru parkir.
"Jadi pendapatan langsung disetor sesuai dengan data yang terekam dalam mesin digital yang ada," kata Rikardo.
febry kodongan
