Foto: Tradisi Makan Saat Ibadah Pengucapan Syukur di Sulawesi Utara
ยทwaktu baca 2 menit

MANADO - Tujuh Kabupaten dan Kota di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), masing-masing Kabupaten Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara, Kota Manado, Bitung dan Tomohon secara serentak menggelar ibadah pengucapan syukur, Minggu (25/9).
Diawali dengan ibadah di masing-masing gereja, ibadah pengucapan syukur tak lengkap tanpa makan bersama. Tradisi makan bersama ini tak hanya dilakukan di gereja, tetapi juga di rumah masing-masing dengan tamu yang datang dari berbagai tempat.
Beragam makanan akan disajikan dalam ibadah pengucapan syukur, yang awalnya merupakan tradisi warga di Minahasa saat panen tiba sebagai bentuk syukur atas berkat yang diberikan Tuhan.
Ada dua makanan yang paling dicari dalam setiap pengucapan. Yang pertama adalah dodol dan nasi jaha, penganan khas terbuat dari beras ketan yang diberikan bumbu kemudian dimasak dengan cara dibakar di dalam bambu.
Dua penganan ini nantinya akan menjadi oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah, setelah sebelumnya makan makanan lainnya yang telah disediakan oleh tuan rumah.
Sandra, salah satu warga di Amurang, Minahasa Selatan mengatakan jika ibadah pengucapan syukur memang merupakan ajang di mana masyarakat menyajikan makanan terbaik untuk para tamu dari jauh untuk santap kasih bersama.
"Momen pengucapan ini biasanya sangat ramai. Tapi, karena tahun ini dilaksanakan serentak, jadi terbagi. Tapi, kami tetap bersuka cita," kata Sandra.
Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Steven OE Kandouw yang ikut ibadah pengucapan syukur di gereja GMIM Bukit Moria Rike, Kota Manado, menyebutkan jika pengucapan merupakan bentuk ucapan syukur tak hanya terkait pendapatan yang bersifat materi tetapi juga terkait dengan kesehatan dan umur panjang.
"Untuk itu, mari berpengucapan syukur dengan aman dan damai, karena ini adalah bentuk ucapan terima kasih kita kepada Tuhan atas semua berkat yang diberikan kepada kita," ujar Steven kembali.
manadobacirita
