Konten Media Partner

Keluarga Miskin di Minsel, Pernah 4 Hari Tak Makan, Bantuan Pemerintah Nihil

Manado Baciritaverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kamarudin, anggota keluarga Taher-Kamurat yang sedang sakit hanya dirawat di rumah karena tak punya biaya untuk berobat di fasilitas kesehatan.
zoom-in-whitePerbesar
Kamarudin, anggota keluarga Taher-Kamurat yang sedang sakit hanya dirawat di rumah karena tak punya biaya untuk berobat di fasilitas kesehatan.

MINSEL - Cerita kemiskinan tampaknya tak akan pernah selesai di Indonesia. Salah satunya seperti yang dialami keluarga Taher-Kamurat, warga Desa Arakan, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Keluarga nelayan ini luput dari perhatian pemerintah daerah maupun pusat untuk diberikan bantuan, walaupun tergolong sangat miskin. Memang oleh desa setempat, mereka mendapatkan BLT yang diambil dari dana desa, namun jaminan kesehatan untuk mereka tak pernah dirasakan.

Rumah mereka yang hanya terbuat dari bambu dan papan kayu berisi tujuh anggota keluarga, yang harus berdesakan di dalam rumah.

Abubaker Taher (51) sang kepala keluarga, menceritakan kehidupan sehari-hari mereka. Menurutnya, dia hanyalah seorang nelayan pencari ikan yang tidak setiap hari pergi melaut.

Rumah keluarga Taher-Kamurat di Desa Arakan, Kabupaten Minahasa Selatan

"Tak selalu saya melaut, biasanya hanya melihat musim ikan Antoni. Jika tidak musim, saya hanya tinggal di rumah dan tidak bekerja," kata Abubakar.

Menurut Abubakar, istrinya juga ikut bekerja menjadi buruh angkat air, agar mereka bisa mendapatkan tambahan uang untuk membeli makan sehari-hari.

Diceritakannya, keluarga mereka pernah tidak makan empat hari karena tidak memiliki uang untuk membeli beras. Selain itu, mereka juga sering menjatah makanan agar semua keluarga bisa sama-sama makan.

Beruntung, warga sekitar rumah sering membantu dan membagikan makanan. Seperti saat berita ini ditulis, Abubakar sedang memanaskan nasi yang diberikan oleh warga yang menggelar hajatan sehari sebelumnya.

Derita keluarga ini tak hanya soal makan, salah seorang anggota keluarga mereka bernama Kamarudin juga sedang sakit. Sayangnya, karena tak punya biaya dan tak memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), mereka hanya merawatnya di rumah.

Kamarudin terlihat begitu kurus sehingga tulang-tulangnya tampak jelas terlihat.

"Untuk makan saja kami sudah susah, mau ambil di mana biaya ke Puskesmas. Tidak ada bantuan dari pemerintah, yang ada kami menerima bantuan dari BLT Dana Desa," kata Abubakar.

Namun demikian, Abubakar mengaku jika harapan kehidupan mereka bisa berubah setelah seorang anaknya baru diterima bekerja di Manado dan diharapkan akan dapat membantu ekonomi keluarga.

"Dua anak yang lain masih sekolah. Saya minta mereka belajar baik-baik agar nanti bisa dapat pekerjaan yang layak," ujar Abubakar kembali.

tamura