Konten Media Partner

Maleman, Tradisi Warga Jawa Minahasa di 10 Malam Terakhir Ramadan

Manado Baciritaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pembagian makanan kepada anak-anak dalam Tradisi maleman yang digelar warga kampung Jawa Tondano di Minahasa
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pembagian makanan kepada anak-anak dalam Tradisi maleman yang digelar warga kampung Jawa Tondano di Minahasa

Sepuluh malam terakhir bulan Ramadan merupakan hari-hari istimewa karena diyakini turunnya malam lailatulqadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Semua ibadah yang dilaksanakan akan dilipat gandakan pahalanya.

Warga jawa yang ada di Minahasa, Sulawesi Utara dan tinggal di Kampung Jawa Tondano (Jaton), di 10 malam terakhir ramadan memiliki tradisi yang namanya Maleman, untuk menyambut malam lailatulqadar.

Dalam tradisi maleman ini, masyarakat membawa makanan berupa ambeng, yang terdiri dari berbagai macam lauk pauk dan juga nasi kota untuk dibagikan kepada para jamaah dan anak-anak yang datang di masjid. Makanan yang dibawa dan dibagikan tersebut, kemudian disantap bersama di masjid.

embed from external kumparan

Tokoh agama Kampung Jaton, Ustadz Samsudin Djoyosuroto menjelaskan, tradisi maleman memang dilaksanakan untuk menyambut malam lailatulqadar, malam yang paling dinantikan seluruh umat muslim di dunia.

"Tradisi maleman ini dilaksanakan malam-malam ganjil di 10 malam terakhir ramadan. Jadi dilaksanakan malam ke 21, 23 dan 25, karena sebagaimana anjuran Rasulullah SAW, malam lailatulqadar itu ada di malam ganji," tutur Djoyosuroto.

Djoyosuroto menyebutkan, masyarakat memang berlomba-lomba untuk membawa makanan yang akan dibagikan, sehingga suasana masjid tetap akan ramai hingga di hari-hari terakhir ramadan, karena mengejar pahala yang berlipat.

Sementara, tradisi maleman ini banyak melibatkan anak-anak, untuk mengajarkan kepada mereka bagaimana mencintai masjid.

"Tradisi ini banyak tujuan mulia yang ada," kata Djoyosuroto kembali.

ridwan nurhamidin