Melihat Kondisi Sekolah Jarak Jauh di Pulau Talise Minut yang Memprihatinkan
ยทwaktu baca 3 menit

MINUT - Demi memudahkan anak-anak di Desa Wawonian, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut), satu desa yang berada di Pulau Talise untuk bisa menempuh pendidikan dasar, akhirnya SD Negeri Airbanua membuka kelas atau pembelajaran jarak jauh di desa tersebut.
Sayangnya, bangunan yang biasa digunakan untuk menggelar kegiatan belajar mengajar harus terbakar. Warga desa yang tak ingin anak-anak mereka kehilangan kesempatan untuk belajar, akhirnya melakukan swadaya untuk membuat bangunan baru sebagai pengganti.
Bangunan seluas 5x10 meter pun dibangun secara swadaya oleh warga dibantu pihak sekolah. Menggunakan tripleks sebagai dinding, seng bekas sebagai atap, dengan tiang kayu sebagai penyangga, ruangan kelas disekat menjadi enam ruangan belajar dan satu ruangan guru.
Walaupun sempit, tapi semangat belajar 38 murid yang ikut kelas jarak jauh ini sangat baik. Mereka tak peduli, meski harus berdesak-desakan hingga ketika hujan turun, lantai kelas berubah menjadi becek, mereka tetap serius mengikuti pelajaran yang diberikan guru.
"Sebenarnya ini sudah kami sampaikan ke anggota dewan baik di Kabupaten Minahasa Utara maupun yang ada di DPRD Provinsi (Sulut). Ya, mungkin belum jadi prioritas karena berada di pulau," ujar beberapa warga yang ditemui.
Kepala SD Negeri Airbanua, Esli Deni Sasongke, menyebutkan jika kelas jarak jauh yang dibuka di Desa Wawonian, merupakan bentuk keprihatinan sekolah, karena melihat para siswa dari desa tersebut harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer untuk sampai ke sekolah induk.
Menurut Esli, banyak anak-anak yang kelelahan karena harus berjalan kaki jauh dan harus menempuh medan perjalanan yang menguras tenaga karena kondisi di pulau tersebut.
"Karena itu, atas permintaan orang tua, kami membangun sekolah darurat ini,โ ungkap Esli.
Sementara itu, beberapa warga mengaku sangat berharap ada kepedulian dari pemerintah terkait kondisi itu. Mereka ingin anak-anak dari Desa Wawonian bisa belajar di bangunan yang lebih baik.
"Bangunan yang sekarang itu swadaya dari warga dibantu sekolah yang kasih bahan material sisa dari rehabilitasi di sekolah. Kami buat bangunan ini bulan Juli lalu hanya waktu delapan hari karena kami ingin anak-anak tetap bersekolah, walaupun memang kami akui ruangan kelas ini kurang memadai," ujar Amor Norman, salah satu warga.
Menurut Amor, mereka di sana sangat ingin anak-anak terus mendapat pendidikan layak demi masa depan mereka. Dikatakan Amor, dia sangat berterima kasih kepada guru-guru yang mau mengajar di tempat itu.
"Sekarang kami masih berusaha membuat sumur bor dan penerangan untuk sekolah darurat ini. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Minahasa Utara maupun Provinsi Sulawesi Utara,โ ujarnya lagi.
