News
·
22 September 2020 9:35

Pengadangan Mobil Ambulans Pembawa Jenazah Pasien COVID-19 di Sulut Dipicu Hoaks

Konten ini diproduksi oleh Manado Bacirita
Pengadangan Mobil Ambulans Pembawa Jenazah Pasien COVID-19 di Sulut Dipicu Hoaks (70752)
Kondisi kerusakan ambulans pembawa Jenazah COVID-19 yang diadang warga
MINUT - Informasi Hoax (baca: hoaks) diduga menjadi pemicu terjadinya aksi pengadangan ambulans pembawa jenazah terkonfirmasi COVID-19 di Desa Talawaan Bajo Minaesa, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Minggu malam (20/9). Salah satu hoaks yang membuat warga dan keluarga marah adalah tidak diperbolehkannya jenazah dikuburkan di pekuburan desa.
ADVERTISEMENT
Hukum Tua Desa, Saprin Fanah, mengatakan beragam informasi yang simpang siur tentang persetujuan jenazah dimakamkan di desa membuat amarah keluarga dan warga muncul dan diduga melakukan pengadangan dan pelemparan batu.
Diceritakan Saprin, tidak pernah ada penolakan jenazah COVID-19 di desa tersebut. Bahkan, ketika mendengar informasi korban telah meninggal dengan status terkonfirmasi COVID-19, keluarga dan warga langsung membuat lubang kubur di pekuburan desa.
"Jadi ketika mendengar ada warga meninggal, kami langsung ke kubur untuk menggali lubang. Waktu itu sudah sore, jadi baru sekitar 20 centi itu lubang sudah magrib, kami kembali untuk salat dulu," tutur Saprin.
Namun menurut Saprin, di sinilah awal mula terjadi kesimpang siuran informasi. Pasalnya, beredar informasi jika jenazah tidak diperbolehkan untuk dikubur di desa dan akan dikebumikan di pemakaman khusus COVID-19. Hal ini membuat riak-riak di tengah warga, karena seluruh desa telah menyetujui pemakaman di desa.
ADVERTISEMENT
Padahal menurut Saprin, dirinya telah berkoordinasi dengan istri almarhum dan dijelaskan jika pihak rumah sakit mengizinkan pemakaman di desa selama pemerintah dan masyarakat tidak menolak. Tapi ternyata, ada beberapa oknum yang menyampaikan hal yang berbeda.
"Dan ternyata informasi yang tidak benar ini terus beredar dan mungkin jadi pemicu terjadinya aksi yang tidak baik tersebut. Terus terang kami tidak tahu dengan kondisi pengadangan, karena kami memang posisi berada di pekuburan menunggu kedatangan jenazah," tutur Saprin kembali.
Senada disampaikan Syahrin, kerabat dekat almarhum. Menurutnya, pihak keluarga tidak mengetahui jika terjadi pelemparan dan pemukulan sopir Ambulans yang membawa jenazah COVID-19. Menurut Syahrin yang ikut dalam proses penguburan jenazah, tidak ada riak-riak yang terjadi dan selama pemakaman berjalan kondusif.
ADVERTISEMENT
Syahrin yang ditemui di kediamannya di Talawaan Bajo Minaesa, mengaku jika tidak ada penolakan yang terjadi, tapi justru bersyukur karena pihak pemerintah desa mau menerima penguburan jenazah di tempat tersebut.
Menurutnya, pada saat pemakaman, semuanya mengikuti protokol COVID-19 dan dilaksanakan sekitar pukul 21:00 WITA. "Dimakamkan sesuai prosedur COVID-19. Semua pakai Alat Pelindung Diri (APD)," ujarnya kembali.
Sekadar diinformasikan, mobil ambulans milik RSUP Prof Kandouw diadang saat membawa jenazah terkonfirmasi COVID-19 di Desa Talawaan Bajo Minaesa, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Minggu (20/9) malam.
Dalam pengakuan Johanes Berce Ponamon, sopir ambulans, dirinya juga mendapatkan tindakan kekerasan, serta ambulans dilempari batu saat dirinya sudah menurunkan jenazah di pekuburan.
febry kodongan
ADVERTISEMENT