Konten Media Partner

Pertamina Diminta Turun Lapangan Cek Dugaan Mafia Solar di SPBU se-Sulut

Manado Baciritaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Potret antrean panjang truk yang akan mengisi solar subsidi di salah satu SPBU di Kota Manado, Sulawesi Utara. (foto: dokumen)
zoom-in-whitePerbesar
Potret antrean panjang truk yang akan mengisi solar subsidi di salah satu SPBU di Kota Manado, Sulawesi Utara. (foto: dokumen)

MANADO - Aksi demo para sopir truk yang mengeluhkan antrean panjang pengisian solar di SPBU-SPBU se-Sulawesi Utara (Sulut), menimbulkan cerita tentang adanya dugaan mafia solar yang menyebabkan kelangkaan solar pemicu antrean panjang di SPBU.

Para sopir menyebutkan, banyak sekali kendaraan yang diduga milik mafia solar mengantre membeli solar dengan jumlah yang banyak. Bahkan, mereka berulang kali antre untuk mendapatkan solar dari SPBU.

kumparan post embed

"Kalau kami yang punya kerja angkut-angkut barang, tentu kami tak bisa antre berulang-ulang. Tapi yang memang kerjanya hanya menampung solar, mereka bisa dua kali mengantre membeli solar dalam sehari. Dan itulah mengapa solar menjadi langka, karena dibeli mereka-mereka ini," kata para sopir.

Untuk itu, para sopir truk yang terdiri dari truk pengangkut barang, truk ekspedisi dan truk pengangkut material bahan bangunan, meminta untuk Pertamina lebih tanggap dan mau turun lapangan untuk melakukan cek terhadap dugaan mafia solar.

Sammy, salah satu sopir truk bilang, Pertamina seharusnya bisa dengan mudah menemukan para mafia solar ini dari sistem barcode pembelian solar. Menurutnya, di sistem barcode itu ada jumlah solar yang dibeli secara harian.

"Kan bisa dilihat berapa banyak yang telah dibeli truk itu dalam sehari. Kalau beli full, kan tidak habis dalam sehari. Jadi, logika kalau dalam sehari dia dua kali melakukan pengisian atau sudah lebih dari kapasitas pengisian, berarti itu ditampung," kata Sammy.

Senada diungkapkan Jelly, sopir kendaraan ekspedisi. Dia mengatakan selama ini Pertamina terkesan tutup mata, karena kondisi antrean ini sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir.

"Kan juga sudah banyak di berita kalau ada mafia solar yang beroperasi dan sering ditangkap. Tapi, kenapa selalu ada saja seperti itu? Berarti kan tidak maksimal pengawasan dari Pertamina itu sendiri," ujar Jelly.

Sebelumnya, para sopir truk melakukan aksi demo di kantor DPRD Sulawesi Utara (Sulut), Senin 29 September 2025 kemarin. Mereka mengeluhkan soal antrean panjang pengisian solar di SPBU termasuk terjadinya kelangkaan BBM subsidi itu.

Adapun tuntutan para sopir truk adalah:

  1. Meminta untuk setiap wilayah Manado, Minut, Bitung, Tomohon, Tondano, Mitra harus ada beberapa SPBU yang diawasi khusus oleh APH, BPH Migas dan pemerintah daerah guna pengawasan penyaluran BBM solar subsidi tepat sasaran.

  2. Copot Kepala BPH Migas dan Pertamina Sulut karena tidak mampu melaksanakan fungsi pengawasan di setiap SPBU.

  3. Meminta Kapolda Sulut untuk bantu perketat pengawasan di setiap SPBU, karena diduga adanya praktik penyalahgunaan solar bersubsidi yang dilakukan oleh petugas SPBU.

  4. Meminta Gubernur dan Pertamina membentuk tim pengawasan BBM solar subsidi yang melibatkan BPH Migas/APH serta perwakilan organisasi dump truck.

  5. Meminta kepada pihak Pertamina untuk mempermudah pengurusan barcode solar subsidi.

  6. Jika kami masih mengalami kesulitan dalam mengisi BBM solar, maka kami akan kembali melakukan unjuk rasa dengan menggerakkan seluruh anggota asosiasi di Sulawesi Utara.

  7. Meminta kepada Gubernur untuk mempermudah pengurusan UIN Galian C (material pasir, batu, dll) karena Galian C merupakan salah satu sumber pendapatan sopir angkutan material.