Konten Media Partner

Potret Anak di Pulau Talise yang Rela Berjalan Kaki Jauh Hanya Agar Bisa Belajar

Manado Baciritaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak-anak asal Desa Wawonian, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut), berjalan kaki menuju sekolah mereka. (febry kodongan)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak asal Desa Wawonian, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut), berjalan kaki menuju sekolah mereka. (febry kodongan)

MINUT - Wajah ceria tampak jelas terlihat dari puluhan anak-anak Pulau Talise yang berasal dari Desa Wawonian, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut), saat tiba di sebuah bangunan darurat yang mereka jadikan tempat belajar.

Walaupun sebelumnya harus menempuh jarak satu kilometer dengan berjalan kaki, anak-anak ini tak menunjukkan rasa lelah. Mereka tetap semangat, walaupun sebelumnya mereka harus melewati jalan dengan medan yang cukup sulit untuk dilewati.

Anak-anak SD Negeri Airbanua kelas jarak jauh di Desa Wawonian, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut), berjalan melewati medan curam untuk menuju ke sekolah mereka. (foto: febry kodongan)

Menurut para siswa, mereka merasa senang karena bisa tetap belajar walaupun ruangan kelas yang mereka tempati hanya beralaskan lantai tanah dengan dinding terbuat dari tripleks. Berdiri di atas tanah 5x10 meter, bangunan itu merupakan kelas jarak jauh SD Negeri Airbanua.

"Yang penting bisa sekolah," kata para siswa serempak.

Ruangan kelas yang hanya disekat menggunakan tripleks.

Ada 38 siswa yang ikut kelas jarak jauh ini. Mereka tak peduli, meski harus berdesak-desakan hingga ketika hujan turun, lantai kelas berubah menjadi becek. Satu yang mereka ingat, orang tua mereka ingin mereka tetap belajar.

Kepala SD Negeri Airbanua, Esli Deni Sasongke, mengaku jika kelas jarak jauh yang dibuka di Desa Wawonian, merupakan bentuk keprihatinan sekolah, karena melihat para siswa dari desa tersebut harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer untuk sampai ke sekolah induk.

Siswa tetap semnagat untuk belajar.

Selain jauh, medan jalan yang harus ditempuh oleh para siswa itu sangat menguras tenaga karena kondisi di pulau tersebut.

"Karena itu, atas permintaan orang tua, kami membangun sekolah darurat ini,” ungkap Esli.

Kondisi bangunan sekolah yang dibuat darurat oleh warga sekitar.

Sementara, menurut penuturan beberapa warga, kepedulian terhadap kondisi warga di pulau memang masih kurang. Untuk itu, mereka sangat berharap jika da perhatian dari pemerintah terkait kondisi itu, karena ini menyangkut pendidikan anak-anak dari Desa Wawonian.

Warga mengatakan jika mereka hanya ingin agar anak-anak terus mendapat pendidikan layak demi masa depan mereka.

Gambar Presiden dan Wakil Presiden tetap dipasang di ruang kelas.

"Kami berharap ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Minahasa Utara maupun Provinsi Sulawesi Utara,” ujar warga.