Konten Media Partner

Tradisi Seke Maneke, Tak Hanya Soal Tangkap Ikan, Tapi Ada Nilai Persaudaraan

Manado Baciritaverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tradisi Seke Maneke di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Seke Maneke di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

SANGIHE - Pelaksanaan Seke Maneke, tradisi menangkap ikan menggunakan alat tradisional yang digelar warga Para Lelle, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut), Kamis (12/6) berlangsung sukses dan berjalan lancar.

Tak hanya itu, tradisi yang sempat tak dilaksanakan dan baru mulai kembali berlangsung pada tahun 2024 ini, memberikan pesan mendalam bagi generasi muda Sangihe yang baru mengetahui tradisi tersebut.

Tokoh adat Desa Para Lelle, Tumbel Sakendatu, mengungkapkan bahwa tradisi menangkap ikan secara tradisional khas warga Sangihe itu, merupakan perwujudan dari eratnya persaudaraan antar sesama warga.

Sehingga pelaksanaan Seke Maneke bukan hanya dimaknai sebagai bentuk syukur terhadap hasil laut yang melimpah, melainkan sebagai upaya merawat persaudaraan.

“Saat persiapan warga akan bersama-sama untuk mencari dan merajut janur, lalu ketika sudah ada hasil tangkapan, itu akan dibagikan kepada semua warga. Ini menjadi simbol kebersamaan dan juga tanda kalau kita semua bersaudara,” ungkap Sakendatu.

Tradisi ini, jelas Sakendatu juga diharapkan menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga ekosistem laut, yang selama ini menjadi tempat bagi warga Sangihe menggantungkan hidup.

Menurutnya, perlindungan terhadap ekosistem laut yang kini mulai dilakukan oleh warga bersama dengan pemerintah dan Wildlife Conservation Society (WCS) perlu terus dikerjakan dengan serius.

“Berharap alam kita tetap terjaga, karena alam ini penting untuk masa depan anak-anak kita juga,” ujarnya lagi.

Sementara itu, Anggi Lumandung, salah seorang pemuda Desa Para Lelle mengaku bangga bisa terlibat dalam kearifan lokal yang sempat terhenti sejak tahun 1997 itu.

“Jujur bangga sekali karena selama ini sering dengar tentang tradisi ini tetapi tidak pernah kami lihat, tetapi sekarang bisa terlibat melestarikan budaya dan nilai-nilai hidup kami sebagai orang Sangihe, jadi sangat senang,” ujar Anggi.