Konten Media Partner

TWA Batuputih Bitung, Beri Manfaat Untuk Perekonomian Masyarakat

Manado Baciritaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pintu masuk Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, bagian dari Cagar Alam Tangkoko di Kota Bitung, Sulawesi Utara
zoom-in-whitePerbesar
Pintu masuk Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, bagian dari Cagar Alam Tangkoko di Kota Bitung, Sulawesi Utara

SEMPAT digugat hak kepemilikannya, kini Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, Kota Bitung, Sulawesi Utara, tak hanya menjadi lokasi konservasi satwa liar yang dilindungi, tetapi juga memberikan manfaat yang sangat besar untuk masyarakat yang ada di lingkar wilayah konservasi.

TWA Batuputih, Kota Bitung, sendiri merupakan bagian dari Cagar Alam Tangkoko Batuangus, yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara. Monyet hitam Sulawesi atau yaki dengan nama latin Macaca Nigra menjadi salah satu fokus perlindungan sekaligus primadona di Cagar Alam ini.

Selasa hingga Rabu, 5-6 Maret 2019, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara bersama EPASS Tangkoko, menggelar sarasehan 100 tahun Cagar Alam Tangkoko Batuangus dengan tema Manfaat Kawasan Konservasi Bagi Para Pihak.

Peserta Sarasehan 100 tahun Cagar Alam Tangkoko Batuangus yang diselenggarakan di Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, Kota Bitung, Sulawesi Utara

Peserta yang hadir dalam kegiatan ini berasal dari masyarakat dan pemerintah yang ada di lingkar wilayah konservasi, dengan tujuan berdiskusi dan saling memberikan masukan terkait dengan pengembangan dan pengelolaan Cagar Alam ini.

Koordinator Lapangan Kawasan Pelestarian Alam Tangkoko Enhancing The Protected Area System in Sulawesi (E-PASS), Lilik Yuliarso yang menjadi inisiator Sarasehan 100 tahun Tangkoko ini, menyebutkan jika dirinya mendapatkan banyak informasi terbaru dari peserta, bagaimana manfaat kawasan konservasi bagi masyarakat dan para pihak yang terlibat di dalamnya.

"Tentunya hal-hal seperti ini diperlukan, agar juga bisa mengukur kinerja kita atas apa yang telah kita lakukan di wilayah ini," kata Lilik.

Lalu bagaimana kata masyarakat yang berada di lingkar wilayah konservasi?

Ketua Lembaga koordinasi Kelurahah (LKK) Duasudara, Jonny Mandang, mengaku jika awalnya masyarakat di Duasudara tidak mengerti apa itu konservasi. Bahkan, awalnya masyarakat tidak paham jika ada satwa-satwa yang harus dilindungi.

Tapi menurut Mandang, banyaknya program baik dari BKSDA, Yayasan Selamatkan Yaki, E-PASS maupun beberapa relawan yang melakukan edukasi terhadap masyarakat, perlahan namun pasti, masyarakat justru ingin melibatkan diri menjaga wilayah konservasi.

“Saat ini masyarakat lebih sadar dan ingin terlibat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan terutama menjaga satwanya. Memang masih ada satu dua tidak peduli, tetapi lebih banyak kini yang punya rasa tanggung jawab," tutur Mandang.

Lurah Batuputih Bawah Kota Bitung, Alfrets Huria, juga mengaku saat ini masyarakat di wilayahnya, memiliki kesadaran untuk melindungi wilayah konservasi ini, mengingat tak hanya bicara soal penyelamatan satwa endemik, tetapi juga bagaimana mendatangkan kehidupan ekonomi yang layak.

“Saat ini ada 60 guide yang berasal dari warga lokal. Mereka juga disahkan dengan Surat Keputusan dari desa untuk menjadi guide. Efeknya memang besar untuk kami,” ujar Huria.

Huria mengungkapkan, warganya memang memanfaatkan kesempatan untuk menjadi guide di taman wisata yang memiliki Yaki, sebagai hewan yang hanya ada di Tangkoko tersebut.

"Guide kami sudah ada yang go internasional," tutur Huria kembali.

Sekretaris Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara, Hendrik Rundengan mengungkapkan ke depannya, Cagar Alam Tangkoko, bisa terus memberikan dampak positif tak hanya untuk pelestarian satwa, tetapi menumbuhkan giat ekonomi wisata untuk warga di Kota Bitung.

Rundengan juga mengharapkan, edukasi tentang pentingnya Cagar Alam ini bisa kontinyu dilaksanakan, agar masyarakat tak hanya merasa jika cagar alam ini bermanfaat secara ekonomi, tetapi ada kesadaran masyarakat yang tinggi, jika cagar alam ini juga akan menjaga ekosistem alam sekitar.

"Kita ingin, mengajak semua terlibat agar semua merasa jika cagar ini adalah milik kita bersama," tutur Rundengan.

isa anshar jusuf