Warga Manado Keluhkan Mahalnya Tagihan Listrik: Melonjak Tidak Wajar

MANADO - Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah alami kesulitan karena pekerjaan maupun usaha terdampak corona, kini mereka harus berhadapan dengan tagihan listrik yang justru melonjak tidak wajar. Dan itu sudah terjadi sejak dua bulan terakhir, April dan Mei 2020.
Warga mengeluhkan adanya selisih bayar dengan meteran listrik yang tidak wajar, sehingga membuat tagihan melonjak gila-gilaan di saat mereka harus mengetatkan pengeluaran, karena pendapatan yang terkena imbas adanya virus corona.
Seperti yang dialami salah satu keluarga di Kecamatan Wanea. Mereka mendapati adanya kejanggalan pembayaran tagihan listrik selama dua bulan berturut-turut. Tak tanggung-tanggung, tagihan per bulannya mencapai Rp 900 ribu lebih, padahal upaya pengurangan penggunaan listrik sudah dilakukannya.
Saat dicocokkan antara jumlah kilometer yang ada di tagihannya dengan kilometer yang ada di meteran listrik, terdapat selisih yang sangat tidak wajar.
Diceritakan Kodongan, warga yang alami kejanggalan tagihan listrik, dirinya mulai merasa aneh ketika tagihan bulan Mei 2020 mencapai Rp 900 ribu lebih. Padahal, dia sudah melakukan pengetatan penggunaan listrik. Apalagi, dirinya masuk ke kategori pelanggan yang tidak mendapatkan subsidi karena merupakan pelanggan 900 VA yang dianggap mampu.
Karena melihat ketidakwajaran itu, dirinya berkonsultasi dengan seorang rekannya yang paham dengan perhitungan meteran listrik. Dan benar saja, ketika ditunjukan struk pembayaran listrik terakhir dengan foto meteran listrik per tanggal 4 Mei 2020, terdapat selisih yang sangat besar.
"Jadi di tagihan terakhir bulan April 2020, jumlah meteran listrik terpakai sebesar 5.189 KWH dan jumlah angka di meteran saya hanya 5.391 KWH saja. Kan aneh, dengan selisih hanya sekitar 202 KWH saja, saya ditagih hingga Rp 900 ribu lebih," kata Kodongan.
Selain itu, Kodongan mengaku jika mendapatkan penjelasan jika selisih 202 KWH di tanggal 4 Mei 2020, berarti dirinya sudah kelebihan bayar yang sangat besar sejak bulan April.
"Logikanya, tagihan bulan Mei itu kan yang dihitung adalah pemakaian April, begitu juga tagihan April tagihan yang dibayar adalah pemakaian Maret. Bagaimana bisa, selisih penggunaan Maret hingga Mei bisa hanya 202 KWH dengan tagihan jika ditambah sudah hampir Rp 2 juta. Ini benar-benar hal yang sangat memberatkan," kata Kodongan.
Sementara, Senior Manager SDM dan Umum PLN Suluttenggo, Galih Chrissetyo mengatakan, untuk kebijakan saat ini di tengah masa pandemi corona, perhitungan tagihan listrik disesuaikan dengan perhitungan rata-rata penggunaan pelanggan di tiga bulan terakhir.
Menurut Galih, perhitungan itu adalah catatan stand meter di bulan sebelum Pandemi Corona, karena kebijakan PLN tidak ada lagi pencatatan meter listrik oleh petugas pencatat PLN.
"Sesuai yang sudah diinfokan dan diimbau, dari awalnya adalah perhitungan rata-rata. Maka PLN mengimbau pelanggan, melaporkan Stand Meter via WA. Tujuannya adalah semakin mengakurasikan proses pencatatan meter," kata Galih.
Menurutnya, apabila terdapat selisih, nanti pada saat berhasil tercatat stand meter tersebut, akan dilakukan perhitungan ulang.
"Misal jika pelanggan lebih bayar maka akan dijadikan proses pengurangan di tagihan bulan berikutnya. Tetapi apabila kurang bayar maka juga menjadi penambah di rekening berikutnya," kata Galih.
manadobacirita
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
