Montessori Tak Hanya untuk PAUD

Transformation Officer at Save The Children Indonesia
Tulisan dari Manda Septina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Metode Belajar Asik dan Efektif untuk Anak-anak pada Masa Pandemi COVID-19

Apa itu Montessori?
Apakah istilah itu terdengar asing atau sudah familiar?
Bagi pembaca setia kumparan yang masih asing dengan istilah di atas, Yuk kita ulas bersama-sama!
Montessori memang masih terdengar asing untuk sebagian dari kita yang tidak begitu memperdalam dunia pendidikan. Montessori juga sering dikenal sebagai metode pendidikan di kalangan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Istilah "Montessori" sebenarnya berasal dari nama seorang dokter wanita asal Italia yaitu dr. Maria Montessori. Beliau memiliki ketertarikan dalam bidang pendidikan anak-anak, sehingga dirinya mengembangkan sebuah metode yang aktivitasnya berfokus pada diri anak, dilengkapi dengan pengamatan langsung dari guru. Guru di sini berperan sebagai fasilitator/pendamping untuk anak-anak. Tak hanya itu, dalam metode ini juga menekankan pada perkembangan motorik pada anak (Swari, 2020).
Tujuh poin penting proses perkembangan anak berdasarkan esensi metode Montessori, antara lain;
1. The Absorbent Mind
Poin yang berfokus pada pola pikir anak yang mudah menyerap segala sesuatu yang dilihat dan didengar. Anak-anak memiliki kemampuan unik sejak lahir sampai usia 6 tahun. Apa pun yang ada di lingkungan sekitarnya akan diserap oleh panca inderanya dan diolah melalui otak.
2. The Conscious Mind
Menginjak usia 3-6 tahun, anak bukan lagi menyerap tanpa sadar, tetapi sudah memiliki tujuan dan lebih aktif bereksplorasi terhadap lingkungan dengan kesadaran. Pada tahap ini, proses pembelajaran mulai memberikan kebebasan pada anak.
3. The Sensitive Periods
Metode Montessori mengelompokkan periode sensitif 6 kategori, antara lain;
Sensitivity to order / Peka terhadap keteraturan
Sensitivity to language / Peka dalam berbahasa
Sensitivity to walking / Kepekaan untuk berjalan, anak berusia 12-15 bulan
Sensitivity to the social aspects of life / Peka untuk berinteraksi dengan teman lainnya
Sensitivity to small objects / Anak berpusat pada objek berukuran kecil, seperti serangga, kerikil, dsb.
Sensitivity to learning through the senses /Anak terus melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya.
4. Children Want to Learn
Anak-anak memiliki kecenderungan untuk belajar, atau melakukan aktivitas sesuai dengan keinginannya untuk mendapatkan kesenangan. Anak-anak juga akan terus mencari hal-hal baru yang ada di sekitarnya.
5. Learning Through Play
Memaknai sebuah permainan dalam arti yang berbeda. Montessori menggunakan permainan sebagai alat untuk melatih keterampilan anak. Anak-anak akan lebih kreatif, mencari pemecahan masalah, mengasah kecerdasan otak, dsb.
6. Stages of Development
Tahap Pertama, anak-anak belajar menyerap yang berada di sekitarnya tanpa sadar
Tahap Kedua, periode anak-anak bermain atau masa kanak-kanak
Tahap Ketiga, masa anak-anak berganti menjadi masa remaja
7. Encouraging Independence
Montessori merancang kurikulum yang disebut Ecercises of Practical Life (Latihan dari Kehidupan Praktis). Pada tahapan ini berfokus pada perkembangan keterampilan motorik, sekaligus memperkaya pembendaharaan kata yang dimiliki oleh anak. Kegiatan Practical life bisa dilakukan di rumah, dengan menyediakan alat bermain yang benar-benar bisa melatih kemampuan motoriknya.
Dari tujuh tahapan di atas, kita bisa memahami bahwa proses pembelajaran memang tidak serta merta berpaku pada buku atau laptop (sekolah daring), tapi orang tua bisa berperan untuk mulai memperkenalkan pembelajaran melalui benda, alat, permainan yang ada di sekitar. Selain anak menjadi tidak mudah bosan ketika sekolah online/daring selama pandemi COVID-19 ini, metode Montessori juga menjadikan anak lebih kreatif dan menghasilkan karya yang luar biasa untuk melatih kecerdasan otak si anak.
Jadi, metode Montessori cocok untuk anak-anak dari usia 3 hingga 12 tahun, bukan hanya untuk anak-anak usia PAUD saja.
