Ketika Nafsu Manusia Lebih Bejat daripada Hewan

Mahasiswi Universitas Pamulang, Jurusan Sastra Indonesia.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Madinatul Munawaroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara umum, manusia memiliki kebebasan berpikir, kecerdasan, moralitas, dan tanggung jawab yang lebih besar daripada hewan. Manusia memiliki kapasitas untuk membentuk nilai-nilai moral, mengembangkan kebijaksanaan, dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Hal inilah yang membedakan kita dari hewan yang tidak memiliki kemampuan moral dan etika yang sama.
Namun, bagaimana saya dapat membedakan antara manusia dengan hewan ketika menyaksikan kasus-kasus yang marak terjadi saat ini? Seperti kasus kekerasan, pelecehan, pemerkosaan, hingga pembunuhan.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat, jumlah kasus kekerasan hingga tindak kriminal terhadap anak di Indonesia mencapai 9.645 kasus. Itu terjadi sepanjang Januari sampai 28 Mei 2023.
Jika diperinci berdasarkan jenisnya, kasus kekerasan seksual terhadap anak menduduki peringkat pertama dengan 4.280 kasus. Lalu diikuti kekerasan fisik 3.152 kasus dan kekerasan psikis 3.053 kasus.
Hati saya teriris melihat fakta bahwa, begitu banyak manusia-manusia bejat di luaran sana yang hanya karena nafsu semata, bisa begitu tega merusak kehidupan manusia lainnya.
Di manakah letak moral dan tanggung jawab sebagai manusia itu berada? Begitu banyaknya kasus biadab seperti ini merajalela seakan menjadi hal yang biasa.
Apakah nilai dari sila kedua Pancasila yang menyatakan "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” sudah mulai luntur? Ataukah hukum di Indonesia yang begitu lemah?
Pelaku kekerasan, pelecehan, pemerkosaan, dan pembunuhan sudah seharusnya diberikan hukuman yang berat. Karena tujuan dari hukuman itu sendiri adalah untuk memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan.
Tentu saja, setiap negara memiliki sistem hukum dan pendekatan yang berbeda terhadap penegakan hukum. Setiap hukuman harus ditentukan berdasarkan hukum yang berlaku di negara tersebut dan memperhatikan prinsip keadilan serta perlindungan hak asasi manusia.
Penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk bekerja sama dalam mencegah kejahatan, melaporkan tindakan kriminal kepada pihak berwenang, dan mendukung upaya penegakan hukum yang adil dan efektif dalam rangka menciptakan lingkungan yang lebih aman dan berkeadilan.
Dan sebagai manusia, sudah semestinya kita menggunakan akal dan kemampuan secara bijaksana, mengendalikan nafsu-nafsu negatif, dan berusaha untuk menjadi pribadi yang baik serta bertanggung jawab. Karena sesungguhnya setiap individu memiliki potensi untuk berbuat baik dan memberikan kontribusi positif dalam kehidupan.
Sejenak, saya teringat akan kalimat yang pernah dilontarkan oleh Sigmund Freud:
Saya lebih suka ditemani hewan daripada ditemani manusia. Memang, binatang buas itu kejam. Tapi menjadi tanpa ampun adalah hak istimewa manusia yang beradab," —Sigmund Freud.
