Cerpen: Malam di Penghujung Neraka

menyukai sastra, peduli masalah sosial, politik, dan keadilan. menjadikan keluarga sebagai titik awal semangat kebajikan.
Tulisan dari Darkim bin Arsabesari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam benar-benar mencengkeram. Gelap menyelimuti permukaan bumi dengan sempurna. Setiap yang bersinar harus tahu diri, ini saatnya sang kegelapan untuk unjuk kemampuan. Dan malam benar-benar membuktikan sebagai yang paling terkelam dalam sejarah kehidupan.
Dua anak manusia tengah merunduk-runduk dalam naungan malam, entah rencana apa yang hendak mereka lakukan. Tapi melihat gelagatnya yang sepertinya tidak ingin diketahui oleh orang lain, bisa jadi mereka sedang melakukan sebuah rencana yang sangat rahasia
Mungkin ini adalah kekejian yang tak terampunkan, dua sosok di dalam kegelapan sedang membungkus dan meletakan benda ke sebuah wadah.
“Bang aku takut melakukannya,” terdengar suara memelas penuh getar dan ketakutan. Menilik dari suaranya, dia pasti seorang perempuan.
“Kamu mau orang sekampung tahu kamu hamil dan melahirkan?” suara yang satunya lagi datar seakan tiada beban. Bahkan nada suaranya seolah-olah dialah yang berkuasa atas wanita yang sedang dirundung susah.
Kemudian sosok yang di panggil “abang” mengambil alih pekerjaan. Menggali sebuah lubang dengan sebilah parang panjang, memasukkan sebuah bungkusan yang tadi dipersiapkan oleh wanita di sebelahnya.
Lolong serigala memenuhi udara malam, tapi nadanya penuh kepedihan yang terasa lebih horor dan mendirikan bulu kuduk yang mendengar. Inikah pertanda alam menyaksikan? Atau alam bersedih dijadikan sarana kemaksiatan.
Tapi kedua orang yang tengah bekerja cepat dalam diam dan kelam itu mana peduli. Semakin cepat diselesaikan, semakin terbebas mereka dari cengkeraman kegelisahan dan ketakutan.
“Bang aku tidak tega meninggalkannya, dia darah daging kita.” Suara itu bahkan kini lebih memelas lagi, getar kesedihan dan penyesalan seakan memercikan setitik api di dalam gelap.
“Sudah! Tidak perlu disesali. Lagian dia sudah mati,” suara sosok yang di panggil abang tetap meninggi. Dari nada bicaranya seakan-akan dia bukan manusia, kalaupun manusia dia pasti tidak punya hati dan rasa.
Bergerak dengan cepat, kemudian menghilang dalam selimut kegelapan. Hanya bekas tanah galian yang sedikit banyak menjadi pertanda bila di tempat itu telah terjadi sesuatu yang luar biasa
Keesokan paginya.
Saat tanah tempat tumbuh bermacam kehidupan belum lagi terang sempurna, kehebohan telah terjadi di kampung Pralancar. Orang-orang berkerumun di belakang rumah kosong yang agak terpencil letaknya. Apalagi semak dan rumput liar menambah seram keadaan.
“Ini bukan pekerjaan manusia, ini pasti kerja iblis.”
“Bukan. Ini kelakuan manusia, tapi manusia yang tidak memiliki hati dan rasa.”
Suara orang-orang di kerumunan itu penuh hujatan dan rasa belas kasihan. Ngeri bercampur heran, sedih, tapi rasa geram lebih menonjol di pikiran.
Berita penemuan sesosok bayi mengundang kerumunan warga semakin berjubel. Apalagi ini adalah peristiwa tragis yang baru pertama kali terjadi di kampung ini. Siapa gerangan manusia yang tega melakukan kekejian ini?
Sesosok bayi mungil dengan ari-ari masih menempel di tubuh tergeletak kaku di bungkus daster hijau penuh darah. Tampak jelas bila daster itu adalah milik si ibu bayi malang yang harus lahir, hidup, dan kemudian mati dengan cara yang mungkin tidak pernah diinginkan.
Berhari-hari setelah kejadian itu, pembicaraan warga masih di penuhi rasa ngeri dan kesedihan mendalam ketika membicarakan tentang bayi tidak berdosa yang mungkin di kubur hidup-hidup oleh orang tuanya sendiri.
Setiap ada kabar ada anak gadis yang kebetulan sakit atau menunjukkan tanda sesuatu yang agak ganjil, segera saja menjadi kecurigaan warga. Semua wanita muda yang belum bersuami dicurigai, semua anak gadis dipantau gerak-geriknya. Tiba-tiba semua warga berubah menjadi detektif dan mata-mata.
Sampai akhirnya....
“Mak, Surti yang salah. Surti tidak sanggup lagi menyimpan aib dan kepedihan ini.” Pengakuan yang seperti terjangan angin dan topan bagi Emaknya. Surti mengakui dia yang membuang bayi yang baru dilahirkannya tersebut.
Sontak pengakuan Surti menjadi tsunami dan gempa dahsyat bagi warga Pralancar. Kegeraman dan kebencian seketika tumbuh dan dalam waktu singkat berbuah keberingasan yang selama ini juga belum pernah ditemukan di hati warga kampung Pralancar.
Pria-wanita, tua-muda. Bergerak bagai air bah melanda. Tujuanya hanya satu, Surti si biang aib dan kekejian harus musnah dari kehidupan.
Parang, tombak, dan obor di acung-acungkan. Hati yang telah dipenuhi kemarahan dan kebencian menjadi motor penggerak untuk berbuat apa saja sebagai pelampiasan. Mata telah dipenuhi cahaya api, yang kilatannya telah membakar sepanjang jalan yang dilalui. Warga kini sudah berubah seperti segerombolan setan neraka.
“Bunuh Surti! Enyahkan dia dari kampung ini.”
“Bakar! Bakar! Jadikan dia abu pengisi neraka.”
Teriakan-teriakan yang lebih mengerikan dari sekumpulan iblis yang berpesta pora di dasar kerak neraka, tapi kini menjelma dalam wujud manusia-manusia biasa yang telah tenggelam dalam amarah.
Surti digelandang keluar rumah. Diseret di jalan tanah berbatu menuju tempat ia membuang bayinya. Surti meronta-ronta, Surti menjerit dan mengharap iba. Tapi hati warga telah tertutup kabut tebal atas nama kebenaran, sebuah keyakinan yang mungkin berasal dari percikan api neraka.
Surti hampir telanjang bulat. Bajunya compang-camping tidak karuan. Di bawah tatapan mata warga yang telah kesetanan, Surti dihujat dan dinista sebagai hukuman. Emak menangis sejadi-jadinya, memohon ampun kepada manusia-manusia yang berlagak menjadi Tuhan. Tapi warga malah meludah dan menghardik dengan kasar.
“Dasar perempuan murahan. Kau dan Surti pantas mati.”
Alam untuk kesekian kali harus menyaksikan, kebiadaban dengan nama lain menimpa kehidupan. Surti telah divonis dengan dasar amarah, warga telah berubah menjadi tuhan dan iblis yang merasa punya hak mencipta dan meniadakan nyawa.
Surti meringkuk kaku di bawah siraman hujan yang tiba-tiba tercurah dari langit, seakan tangisan alam yang tak kuasa melihat kekejian terulang dan terus terulang. Gelap malam berangsur-angsur mulai memainkan peranan, seiring obor milik warga yang turut pulang bersama rasa puas di hati pemiliknya.
Surti mati dengan tubuh hampir tak berbentuk lagi. Bagai prasasti kekejian dan kebrutalan manusia yang dengan mudah melakukan apa saja atas nama kebenaran dan keadilan. Kebenaran milik siapa? Keadilan yang mana?
Selesai
