kumparan
KONTEN PENGGUNA
14 Januari 2020 6:45

Kembalikan Dunia 'Ceria' Anak

africa-1854308_640.jpg
ilustrasi anak ceria.sumber : pixabay.com
Apa sih sebenarnya yang di inginkan anak dari keluarga terutama dari orang tua? Limpahan materi? Kecukupan kebutuhan mereka? Atau semua keinginan berupa mainan dan segala hal yang mesti di beli dengan uang?
ADVERTISEMENT
Kadang para orang tua abai menyelami keinginan dan hal penting yang sebenarnya sangat di dambakan oleh seorang anak,”perhatian dan kasih sayang.”
Berapa banyaknya pun mainan mahal yang orang tua belikan, seberapa seringnya liburan ke luar negeri, atau seberapa canggihnya alat komunikasi berupa smartphone, tablet,notebook,laptop, semuanya itu hanya temporer. Seiring waktu berjalan, semua barang pemberian akan kadaluarsa dalam ingatan anak.
Masa anak-anak adalah masa di mana seorang manusia mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan baik secara jasmani dan rohani. Seumpama sebatang pohon, kulit luarnya masih lunak, batang belum kokoh menahan tiupan angin, daun belum lagi mampu menaungi dan melindungi dari terpaan panas dan hujan, serta yang terpenting adalah akar yang belum lagi kokoh mencengkeram tempatnya bakal berpijak dan terus tumbuh dalam kehidupan.
ADVERTISEMENT
Masa anak-anak juga identik dengan dunia yang “ceria”, dunia bermain, dunia yang menggembirakan. Lihat anak-anak di sekeliling kita, mereka begitu asyik dengan segala hal yang menurut mereka begitu mengasyikkan. Bahkan sebatang kayu, atau sebongkah batu pun bisa menjadi media untuk menemukan keceriaan. Itulah dunia anak-anak.
Seiring kemajuan zaman, seiring kemajuan teknologi, seiring tuntutan kehidupan yang berputar cepat untuk di penuhi, para orang tua semakin kehilangan waktu dan kesempatan untuk menghadirkan keceriaan bagi anak-anaknya.
Rutinitas kerja yang menyita waktu, tuntutan kesibukan yang hampir tiada habis-habisnya, pada akhirnya harus mengorbankan sesuatu hal yang paling penting bagi keluarga, terutama anak-anak.
Waktu untuk bertemu dengan keluarga semakin berkurang, kesempatan untuk bercengkrama dengan anak-anak terasa semakin jarang. Hampir 24 jam pikiran dan konsentrasi tercurah untuk mengumpulkan materi, fokus kepada pemenuhan kebutuhan fisik yang tiada menemui ujung.
ADVERTISEMENT
Hilangnya Keceriaan Anak
Berapa banyak orang tua yang masih bisa menghadirkan kehangatan dalam keluarga, berapa banyak dari kita para orang tua yang masih punya fokus dan perhatian pada keceriaan si kecil?
Waktu untuk bersama keluarga yang tinggal sedikit itupun kadang kala kita manipulasi lagi dengan sebentuk kepalsuan. Kehadiran orang tua dalam momen kebersamaan telah kehilangan makna. Orang tua hadir dalam sebuah ruang yang sama dengan anak, duduk berdampingan dalam sebuah ruang keluarga, berdekatan secara fisik dengan anak, namun sejatinya berjauhan secara rohani.
smartphone-4521761_640 (2).jpg
ilustrasi anak yang terabaikan. sumber : pixabay
Bapak sibuk dengan laptopnya, si ibu asyik dengan medsos di di smartphonenya. Anak-anak? Mereka juga ikut larut dan asyik dengan sekian banyak game on line pemberian orang tua.
ADVERTISEMENT
Ceria kah jiwa anak saat itu? Bahagiakah anak ketika kehadiran orang tuanya tak ubahnya “orang-orangan sawah?” tampak hadir dan ramai dari kejauhan, tapi rapuh dan kosong secara rohani dan kejiwaan. Tiada kehangatan dan kasih sayang yang ikut hadir, tiada jalinan emosi yang tercipta. Hampa.
Ceria bagi anak bukan berbentuk tawa dan canda yang bisa saja berpura-pura. Ceria bagi anak-anak yang sedang tumbuh kembang adalah adanya rasa bahagia di hati, ikatan emosional yang semakin dekat dengan orang tua, perasaan di perhatikan dan di lindungi. Sebuah rasa yang pada akhirnya ikut membentuk proses tumbuh kembang dan kematangan watak karakter seorang anak.
Bagi para orang tua yang sempat mengalami masa ana-anak era tahun 70an ,80an, sampai 90an, pasti bisa merasakan bagaimana pada masa itu keceriaan adalah sebuah hal yang sangat membekas dalam ingatan.
ADVERTISEMENT
Dunia anak tanpa mainan modern, dunia anak yang orang tuanya ikut nimbrung dengan dongeng,hikayat,cerita legenda,bahkan ikut larut dalam permainan tradisional. Jauh dari penjajahan televisi, smartphone, apalagi media sosial.
Pada akhirnya para orang tua harus menyadari, ceria bagi anak-anak tentu berbeda dengan ceria menurut penilaian orang tua. Para orang tua harus memahami apa itu ceria yang membahagiakan bagi anak, bukan ceria yang di paksakan oleh orang tua berdasarkan kepentingan orang tua.
Salam.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan