Konten dari Pengguna

Sisi Selokan Jadi Zona Sampah Baru: Ancaman Banjir dan Penyakit Mengintai

Marcel Laura Agustin

Marcel Laura Agustin

Mahasiswi aktif di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. "Jangan hanya bermimpi, tetapi cobalah untuk mewujudkannya."

·waktu baca 5 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Marcel Laura Agustin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi penumpukan sampah di sisi selokan yang berlokasi di Jalan Sidomukti, Desa Sumberkejayan, Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, 68182. Foto diambil sendiri oleh penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi penumpukan sampah di sisi selokan yang berlokasi di Jalan Sidomukti, Desa Sumberkejayan, Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, 68182. Foto diambil sendiri oleh penulis.

Ada yang berubah dari wajah lingkungan tempat saya tinggal. Perubahannya bukan soal pembangunan infrastruktur atau pelebaran jalan setapak, melainkan mengenai tepi-tepi selokan kecil yang seharusnya bersih dan terbuka, kini secara perlahan beralih fungsi menjadi lokasi pembuangan sampah.

Tepi selokan yang awalnya bersih kini dipenuhi tumpukan plastik, kardus, botol minuman, hingga sisa-sisa makanan. Pada awalnya, mungkin hanya terdapat satu atau dua kantong plastik yang tampak. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlahnya semakin banyak hingga menjadi tumpukan kecil yang dibiarkan.

Sering kali, sampah ini sengaja disembunyikan di antara tanaman liar atau semak kecil yang tumbuh di pinggir selokan. Sebagian lainnya dibuang secara terbuka di tepi jalan, seolah-olah menunggu hujan lebat untuk membawa sampah tersebut masuk ke saluran air.

Kondisi ini mulai menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Sebab, ketika musim hujan tiba, sampah yang menumpuk di pinggiran selokan dapat terseret air dan masuk ke saluran utama. Jika ini terjadi, risiko penyumbatan saluran air tidak dapat dihindari.

Jelas, ketika saluran air tersumbat, air hujan tidak akan bisa mengalir dengan lancar. Akibatnya, genangan air bisa terjadi di jalan atau halaman rumah warga. Bahkan ada kemungkinan terjadinya banjir kecil di wilayah tersebut.

Masalah ini bagi sebagian warga tampak sepele dan tidak dianggap serius. Bagi beberapa orang, selama sampah tidak masuk ke dalam selokan, hal itu tidak mengganggu. Padahal, apa yang ada di tepi selokan sangat rawan terbawa angin atau hujan deras. Perlahan namun pasti, sampah-sampah tersebut bisa bergerak ke saluran utama dan menghambat aliran air.

Selain risiko banjir, tumpukan sampah di sisi selokan ini juga menimbulkan ancaman bagi kesehatan. Air yang menggenang karena saluran tersumbat bisa menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk Aedes aegypti, yang dapat membawa virus demam berdarah. Belum lagi aroma tidak sedap dari sisa makanan yang membusuk di luar, yang bisa mengganggu kenyamanan warga di sekitarnya.

Lantas, siapa yang akan terkena dampaknya? Jawabannya cukup jelas: seluruh warga di lingkungan tersebut. Mereka yang harus menghadapi banjir, genangan air di depan rumah, bau tidak sedap, bahkan risiko penyakit menular.

Pertanyaannya, mengapa kebiasaan membuang sampah di tepi selokan ini bisa muncul?

Salah satu penyebabnya diduga karena kurangnya fasilitas tempat sampah di lingkungan permukiman. Banyak daerah padat penduduk tidak memiliki tempat pembuangan sampah umum di lokasi strategis. Akibatnya, sejumlah warga memilih cara praktis: membuang sampah di tempat terdekat, yaitu di sisi selokan.

Banyak pula yang berpikir bahwa membuang sampah di tepi selokan bukanlah isu besar. Praktik ini perlahan-lahan dianggap biasa, bahkan tidak lagi menimbulkan rasa malu atau bersalah.

Padahal, dampak buruknya akan kembali dirasakan oleh warga itu sendiri. Ketika banjir melanda, genangan air meluap, bau tidak sedap menyebar, dan penyakit mulai mengintai, semua orang di lingkungan itu ikut merasakan akibatnya.

Selain itu, kebiasaan buruk ini dapat menjadi "contoh" bagi generasi selanjutnya. Anak-anak yang menyaksikan orang dewasa membuang sampah sembarangan bisa menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar dan dapat diterima. Dalam jangka panjang, ini akan memperkuat budaya pembuangan sampah sembarangan di masyarakat.

Meski demikian, masalah ini masih bisa ditangani. Ada peluang untuk memperbaiki situasi, asalkan ada keinginan bersama untuk bertransformasi.

Langkah awal yang bisa diambil adalah mengubah sudut pandang masyarakat tentang fungsi sisi selokan. Daerah ini bukanlah tempat pembuangan sampah, melainkan zona penyangga yang krusial dalam sistem drainase lingkungan. Jika daerah ini kotor, kemungkinan terjadinya gangguan aliran air akan semakin tinggi.

Selanjutnya, pemerintah daerah diharapkan menyediakan tempat sampah yang memadai di lokasi-lokasi yang rawan. Memasang tong sampah besar di sudut jalan, dekat warung, atau di sekitar kawasan padat penduduk bisa menjadi solusi yang praktis. Dengan adanya akses yang mudah, warga tidak perlu lagi mencari tempat untuk membuang sampah.

Penting juga untuk meningkatkan edukasi masyarakat. Kampanye melalui spanduk, poster, hingga media sosial di grup WhatsApp masyarakat dapat dilaksanakan untuk menyampaikan informasi bahwa membuang sampah di tepi selokan sama berbahayanya dengan menyumbat jalur aliran air secara langsung.

Selain itu, budaya kerja bakti secara rutin sebaiknya dihidupkan kembali. Melakukan pembersihan sisi selokan setiap minggu tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga meningkatkan rasa kepemilikan di antara warga. Lingkungan yang dirawat bersama biasanya lebih terlindungi dari tindakan yang merusak.

Penegakan hukum juga sangat penting. Warga yang tertangkap membuang sampah sembarangan dapat dikenakan sanksi sosial dengan kewajiban membersihkan selokan atau daerah tertentu. Tujuan sanksi ini bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama.

Tidak kalah penting adalah melibatkan generasi muda. Anak-anak dan remaja dapat diajak berpartisipasi dalam kegiatan edukatif sederhana seperti "Satu Saku Satu Sampah", yang merupakan gerakan kecil untuk mengajak mereka membawa pulang sampah pribadi hingga menemukan tempat pembuangan yang tepat. Dari kebiasaan kecil ini, kesadaran lingkungan dapat berkembang sejak dini.

Lingkungan yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab semua penghuni. Kepedulian bersama dapat menciptakan dampak yang signifikan. Ketika satu warga mengambil inisiatif, warga lainnya akan terdorong untuk turut menjaga kebersihan.

Perlu diingat, selokan dan daerah sekitarnya adalah elemen penting dalam pengelolaan air di lingkungan sekitar. Fungsinya tidak hanya sebagai saluran pembuangan air kotor, tetapi juga sebagai pengendali banjir saat hujan deras datang. Jika daerah ini rusak atau dipenuhi sampah, risiko bencana lingkungan akan meningkat secara signifikan.

Masalah ini tidak dapat dibiarkan berlanjut tanpa tindakan. Perubahan dapat dimulai dari satu rumah, satu keluarga, satu kebiasaan kecil. Menjauhkan sampah dari tepi selokan mungkin tampak sepele, tetapi dampaknya dapat menyelamatkan banyak hal—dari bahaya banjir, penyakit, hingga penurunan kualitas hidup di sekitar.

Sesungguhnya, bencana besar sering kali berakar dari kelalaian kecil yang diabaikan terlalu lama. Selokan dan daerah sekitarnya adalah saluran kehidupan bagi kita. Saluran ini mengalirkan air, menjaga lingkungan tetap kering, dan membantu mengatasi curah hujan yang ekstrem.

Sudah saatnya warga memandang sisi selokan sebagai bagian penting dari ruang hidup bersama, bukan sebagai "tanah tak bertuan" untuk membuang sampah. Melalui langkah kecil ini, lingkungan yang sehat dapat terwujud.

Marcel Laura Agustin, mahasiswi fakultas Pertanian Universitas Jember.