Kisah Kodriyah dan Keluarga Kecilnya Bertahan Hidup di Desa yang Tenggelam

lindungihutan
Akun resmi informasi kegiatan LindungiHutan.
Konten dari Pengguna
28 Februari 2023 17:05 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari lindungihutan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto Kodriyah. Sumber: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto Kodriyah. Sumber: Dokumentasi pribadi
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Bagaimana rasanya hidup di desa yang tenggelam? Desa yang dikelilingi oleh air layaknya sebuah film fantasi dan sci-fiction. Sayangnya, ini bukan film melainkan kisah nyata!
ADVERTISEMENT
Kepada LindungiHutan, Kodriyah bercerita bagaimana dirinya bertahan di desa yang tenggelam. Sosok perempuan bernama Kodriyah ini adalah putri dari Mak Jah. Lantas siapa Mak Jah sebenarnya? Lain kesempatan akan kami ceritakan kisah menginspirasinya.
Mak Jah dan Kodriyah menjadi satu-satunya keluarga yang bertahan di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Tepatnya di kampung bernama Rejosari Senik. Mereka hidup di tengah lautan tanpa tetangga. Mereka berjuang mempertahankan desanya dengan menanam pohon.

Menanam untuk Menolak Tenggelam

Bedono adalah satu dari tiga desa di Kabupaten Demak yang tenggelam akibat abrasi. Air rob yang masuk menggenangi permukiman desa yang jauh dari jangkauan laut. Akibatnya, Desa Bedono dinyatakan benar-benar tenggelam dan hilang pada tahun 2004.
ADVERTISEMENT
Kondisi tersebut membuat rumah Kodriyah senantiasa dikelilingi oleh genangan air laut. Akses jalan penghubung desa rusak hingga akhirnya hilang diterjang rob. Mau tidak mau mobilitas dilakukan menggunakan perahu. Hanya saja, angin, hujan, dan ombak menjadi musuh besar bagi Kodriyah yang setiap hari mesti berangkat sekolah.
Mak Jah bersama Kodriyah dan adiknya tengah berangkat sekolah menggunakan perahu. Sumber: Dokumentasi pribadi
Setiap hari, Mak Jah mengantar kedua anaknya berangkat sekolah dengan perahu yang didayung. Seragam, sepatu, dan buku yang basah sudah biasa lantaran terciprat ombak laut.
Bahkan kadang kala, embusan angin yang kencang membuat laju perahu sulit terarah dan membuat perjalanan makin lama. Meski demikian, Kodriyah dan adiknya tak pernah menyerah untuk menggapai mimpi dan cita-citanya. Pantang mundur dan selalu semangat sekolah!
Abrasi juga membuat perekonomian memburuk, Kodriyah bercerita jika dulu keluarganya memiliki penghasilan tetap dari hasil tambak. Setelah abrasi tambak hancur dilibas lautan.
ADVERTISEMENT
Bapaknya kemudian menjadi nelayan kecil dengan penghasilan tak tentu. Sementara ibunya Mak Jah ikut meringankan beban ekonomi dengan bekerja sebagai pencari bibit dan pembibit mangrove.
Kendati terhimpit keadaan yang sulit, Kodriyah memilih tetap bertahan. Bukan tanpa alasan, mereka ingin menjaga kampungnya Rejosari Senik untuk tetap terlihat di peta. Harapan tersebut dipegang erat Mak Jah dan suaminya beserta Kodriyah dan adiknya.
Untuk tetap bisa bertahan, keluarga kecil Kodriyah meninggikan lantai rumah agar tidak terendam air laut. Selain itu, mereka juga menanam mangrove di sekitar rumah yang lama-kelamaan merambah hingga sekitar Bedono.
Aktivitas penanaman mangrove yang dilakukan kemudian mendapat bantuan termasuk dari LindungiHutan. Setiap bulannya LindungiHutan datang ke Desa Bedono untuk melakukan penanaman.
ADVERTISEMENT
Berkat kerja sama dengan LindungiHutan, Kodriyah senang karena kampungnya menjadi lebih aman dari ancaman abrasi. Apalagi, keberadaan mangrove membuat suasana rindang dan hijau.