Konten dari Pengguna

Green Guilt di Kalangan Anak Muda: Dari Rasa Bersalah Menjadi Rasa Berdaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mardianto Tiro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto : Dokumentasi Pribadi. Penulis sedang di Alun-Alun Kidul Yogyakarta
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Dokumentasi Pribadi. Penulis sedang di Alun-Alun Kidul Yogyakarta

Ketika membeli es kopi susu, air mineral, atau minuman berkemasan lainnya, banyak dari kita mungkin tidak memikirkan hal lain selain rasa segar dan nikmat yang ditawarkan. Namun, setelah gelas itu kosong dan tutup plastiknya dilepas, muncul pertanyaan yang jauh lebih dalam daripada harga minumannya: “Sampah ini mau saya apakan?”

Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak sesederhana jawabannya. Di baliknya, ada perasaan yang makin sering muncul di kalangan anak muda—sebuah rasa bersalah karena ikut menyumbang persoalan lingkungan. Fenomena ini dikenal sebagai green guilt, yaitu perasaan tidak nyaman atau bersalah ketika kita menyadari bahwa perilaku sehari-hari menghasilkan sampah yang membebani bumi.

Fenomena ini menarik karena muncul justru pada generasi yang disebut paling “melek lingkungan”. Ironisnya, semakin sadar, justru semakin mudah merasa bersalah.

Ketika Minuman Kemasan Menjadi Pengingat Diri

Saya sendiri sering mengalaminya. Setiap membeli minuman, pikiran saya langsung meloncat jauh: “Sampah botol ini akan berakhir di mana? Di tong sampah? Dipilah? Dijual?”

Saya pernah mencoba mengolah sendiri sampah plastik menjadi kerajinan. Tapi jujur saja, saya bukan orang yang cukup kreatif untuk memotong, mengolah, atau membuat prakarya dari sampah. Saya juga sempat ingin menjual sampah—tapi menjualnya ke mana?

Untungnya, semakin banyak alternatif yang berkembang. Ada bank sampah, meskipun jam operasionalnya sangat terbatas. Ada juga layanan jemput sampah daur ulang ke rumah. Bahkan ada bisnis makanan, minuman, hingga daging dan sayur yang memungkinkan kita membayar dengan sampah.

Akhirnya saya memilih untuk mengumpulkan sampah saya sendiri dan menukarnya dengan produk makanan di salah satu toko yang menerima pembayaran dengan metode penukaran sampah. Semakin banyak yang saya kumpulkan, semakin besar nilainya. Kadang saya harus membawa kantong besar berisi botol plastik dengan sepeda motor melewati jarak yang cukup jauh. Energi dan waktu yang terpakai tidak kecil, tetapi ada rasa lega setelahnya: “Setidaknya saya bertanggung jawab atas sampah saya sendiri.”

Namun, muncul lagi pertanyaan berikutnya: “Apakah itu cukup?”

Ilustrasi: Mengantarkan sampah botol plastik untuk dijual (Dokumentasi pribadi)
Ilustrasi : Salah satu contoh tempat pembelian pangan yang menerima sampah sebagai metode pembayaran - Bumiku Lestari Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi)

Ketika Rasa Bersalah Mendorong Kita Berbuat Lebih

Dulu, saya termasuk orang yang sering membuang sampah sembarangan. Tidak bangga mengakuinya, tetapi itu kenyataan. Dan mungkin itu yang membuat green guilt terasa lebih kuat—seolah-olah ada masa lalu yang harus ditebus.

Untuk menebusnya, saya mulai ikut kegiatan bersih lingkungan bersama komunitas. Salah satu lokasi yang paling sering saya datangi adalah Alun-Alun Kidul Yogyakarta, tempat wisata populer yang juga lautan sampah. Di sana saya bertemu banyak anak muda lain yang datang bukan hanya untuk bersih-bersih, tetapi juga untuk bersosialisasi dan mengabadikan kegiatan.

Tangan kanan memungut sampah, tangan kiri memegang ponsel, itu terlihat seimbang. Ada semangat, ada keseruan, dan ada kepedulian yang nyata.

Kegiatan-kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa rasa bersalah bukan semata beban. Pada banyak kasus, rasa bersalah justru menjadi gerbang menuju perubahan perilaku yang lebih baik.

Green Guilt sebagai Dorongan Perubahan

Green guilt dianggap sebagai bentuk motivasi moral—dorongan internal untuk melakukan hal yang kita anggap benar. Pada generasi muda, mekanismenya semakin menarik karena diperkuat oleh fenomena sosial:

  1. Media sosial membuat aksi lingkungan lebih mudah dilihat dan ditiru.

  2. Komunitas menjadi ruang aman untuk berbuat baik tanpa takut dianggap “berlebihan”.

  3. Tren urban seperti plogging, clean-up event, atau membayar dengan sampah membuat aksi ramah lingkungan terasa lebih modern.

Rasa bersalah tidak lagi dipandang sebagai kelemahan, tetapi sebagai sinyal bahwa kita peduli. Ketika ditindaklanjuti, ia menjadi sumber motivasi untuk perubahan ke perilaku pro-lingkungan.

Dan bagi banyak anak muda, itu dimulai dari hal sederhana: peduli pada sampah yang mereka hasilkan sendiri.

Menjadi Bertanggung Jawab Tanpa Menyiksa Diri

Green guilt memang tidak nyaman, tetapi kita bisa mengelolanya dengan cara yang sehat. Kita tidak harus menjadi aktivis penuh waktu atau pakar daur ulang untuk menjadi bagian dari solusi. Kita cukup melakukan beberapa langkah sederhana ini:

  1. Mengumpulkan dan memilah sampah sendiri.

  2. Memanfaatkan layanan penukaran atau penjemputan sampah.

  3. Mengurangi konsumsi plastik sekali pakai.

  4. Sesekali ikut kegiatan gotong royong membersihkan wilayah lingkungan kita.

  5. Membagikan pengalaman perilaku peduli lingkungan ke orang sekitar dan sosial media agar orang lain ikut terinspirasi.

Tindakan kecil, tetapi konsisten, jauh lebih berarti daripada rasa bersalah yang dipendam tanpa arah.

Penutup

Green guilt bukan musuh. Ia hanya suara kecil yang mengingatkan kita bahwa setiap tindakan punya konsekuensi. Yang membuatnya bermakna adalah apa yang kita lakukan setelahnya.

Ketika kita memilih bertanggung jawab atas sampah yang kita hasilkan—entah dengan menjualnya, menukarnya, atau ikut bersih-bersih lingkungan—kita sedang memberi pesan kepada diri sendiri bahwa masa lalu bisa diperbaiki. Bahwa menjadi peduli itu tidak harus sempurna.

Dan bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari hal paling sederhana: tidak lari dari sampah kita sendiri.