Anak di Ruang Gelap Itu Bernama Indonesia Timur

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Merry Margarema Nursolicha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"The child is feeble-minded. Perhaps it was born defective, or perhaps it has become imbecile through fear, malnutrition, and neglect."
— Ursula K. Le Guin, The Ones Who Walk Away from Omelas
Pernahkah kalian membaca cerpen yang ditulis oleh Ursula K. Le Guin? Suatu bentuk keindahan surgawi, semua orang begitu bahagia dan memiliki hidup yang sempurna dalam sebuah kota. Itulah gambaran kesempurnaan kehidupan dalam kota fiksi bernama 'Omelas'. Namun dibalik semua kebahagiaan dan kesempurnaan itu, ada seorang anak yang dikurung dalam ruangan yang gelap, kotor, dan sempit. Warga Omelas tau akan hal itu, mereka tau ada seorang anak yang menderita. Mereka memilih diam. Warga Omelas sangat paham, bahwa kebahagiaan mereka di kota itu bergantung pada penderitaan anak yang dikurung di ruang bawah tanah dan terlupakan tersebut.
Sekarang mari kita refleksikan pada Negara tercinta kita Indonesia, sering kali yang kita lihat adalah gedung pencakar langit di Jakarta, jalan tol di Jawa, atau pusat perbelanjaan yang begitu megah di tengah-tengah kota. Namun, tidakkah kita melihat di wilayah Indonesia bagian timur, anak-anak harus berjalan kaki melewati jalanan yang masih berupa tanah, bebatuan, atau bahkan banyak dari mereka yang harus menyeberangi sungai untuk menuju ke sekolah tanpa jaminan keselamatan.
Data dari Badan Pusat Statistik Indonesia (2024) menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua Pegunungan adalah yang terendah di Indonesia. Di sisi lain, DKI Jakarta mencatat angka IPM tertinggi, dari kualitas pendidikan, akses kesehatan, dan standar hidup. Menunjukkan bahwa Indonesia Timur sangatlah tertinggal jauh.
Pembangunan memang tetap berjalan, tapi belum merata. Sebagian dari kita hidup dalam terang, namun sebagian yang lain harus melangkah dalam gelap. Sama halnya dengan seorang anak yang menderita di Omelas, Indonesia Timur seakan 'dikorbankan' demi kemajuan pusat.
Saat kembali ke dalam cerita Omelas, kita tau bahwa yang membuat cerita tersebut begitu mengguncang bukanlah penderitaan seorang anak di bawah tanah itu. Namun, pada warga Omelas yang memilih diam dan tetap hidup nyaman diatas penderitaan seorang anak yang mereka ketahui keberadaannya.
Sekarang, mari kita lihat diri kita. Bukankah kita sama dengan warga Omelas? Kita mengetahui bahwa banyak anak-anak Papua yang harus belajar di bawah atap yang hampir roboh, atau akses kesehatan yang begitu minim dan jauh. Tidakkah kita menangis dengan kenyataan yang tersuguh di depan mata kita? Kita membaca berita tentang mereka, kita melihat video perjuangan dan penderitaan mereka, mungkin kita ikut bersedih dan menangis. Tapi dengan cepatnya kita akan lupa dan melanjutkan kehidupan kita sebagimana biasa.
Dalam cerita Le Guin, kita menemukan bahwa ada seglintir orang yang memilih untuk meninggalkan Omelas. Mereka merasa tak tahan hidup dalam kenyamanan yang dibangun atas penderitaan sesama. Mereka memilih pergi ke suatu tempat yang tidak mereka ketahui.
Refleksi bagi kita adalah mungkin kita tak perlu "pergi" dari Indonesia. Tapi kita bisa melangkah dengan menyuarakan ketimpangan yang terjadi, dan membantu pendidikan anak-anak pelosok. Dengan tidak hanya tutup mata atas pembangunan yang tidak adil dan merata.
Karena anak itu ada, ia bernafas. Ia tinggal di negara yang sama, yang bernama Indonesia Timur.
