Kolaborasi Sekolah - Densus 88 Bekali Orang Tua Remaja Hadapi Tantangan Digital

Maria Ardianingtyas, S.H., LL.M, Advokat dan Pemerhati Pelindungan Anak di Ruang Digital
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Maria Ardianingtyas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masa remaja merupakan periode krusial yang penuh dengan fluktuasi emosi. Di era digital, tantangan tersebut semakin berat dengan derasnya arus informasi yang tidak jarang membawa pengaruh eksternal negatif pada remaja.
Menanggapi fenomena ini, Sekolah Highscope Indonesia TB Simatupang (Sekolah) mengambil langkah proaktif dengan menggelar diskusi Coffee Morning bagi orang tua murid jenjang SMP dan SMA pada Jumat (13/2/2026). Acara yang berlangsung di Grey Box Theater ini menghadirkan kolaborasi unik antara Tim Psikolog Sekolah dan Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri (Densus 88).
Diskusi bertajuk "Mendampingi Remaja Mengelola Emosi dan Pengaruh dari Lingkungan di Era Modern" ini menekankan bahwa pencegahan harus dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.
Sinergi Psikologi dan Keamanan Nasional
Kehadiran Densus 88 dalam acara diskusi parenting ini menjadi hal yang sangat menarik. Kolaborasi ini bertujuan memberikan perspektif komprehensif kepada orang tua. Dari sisi psikologis, yang dibawakan oleh Tim Psikolog Sekolah membahas bagaimana mendukung remaja mengelola emosi dan pengaruh dari luar di masa kini. Sementara dari sisi keamanan, Tim Densus 88 memaparkan paparan bertajuk “Parenting Ideologi: Cegah Radikalisasi & Kekerasan Anak di Era Digital”. Dalam paparannya, Tim Densus 88 menjelaskan tentang pentingnya kewaspadaan para orang tua murid terhadap infiltrasi paham radikal atau pengaruh negatif yang kerap menyasar generasi muda remaja melalui platform digital. Adapun paparan tersebut dilengkapi juga dengan penjelasan mengenai strategi pencegahan radikalisasi remaja, salah satunya yaitu penguatan peran keluarga dan sekolah dan pengawasan aktivitas remaja di media sosial.
Orang Tua Sebagai 'Filter' Utama
Di tengah paparan media sosial yang tanpa batas, orang tua murid didorong untuk tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga pendamping yang mampu membangun daya kritis remaja. Remaja usia SMP dan SMA yang secara biologis memiliki emosi belum stabil dan masih mencari identitas diri dapat menjadi target rentan bagi berbagai pengaruh luar, khususnya di ruang digital, yang dapat merugikan masa depan mereka. Orang tua murid memegang peranan penting dalam kehidupan remaja dengan menyediakan lingkungan yang memberikan rasa aman secara emosional. Penelitian yang disampaikan Tim Psikolog Sekolah menunjukkan bahwa hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan remaja dapat membantu regulasi emosi remaja dan mencegah masalah perilaku yang mungkin timbul.
Melalui sinergi antara sekolah dan rumah, diharapkan orang tua mampu menjadi "filter" pertama bagi anak-anak dalam menyaring informasi maupun memilih lingkungan pergaulan di ruang digital.
(Penulis adalah orang tua murid dari siswa kelas 8 SMP Highscope TB Simatupang yang berkesempatan menghadiri acara ini).
