Dipuji? Tapi Kok Sakit? Inilah Kenyataan di Media Sosial

Undergraduate University Padjadjaran, Communication Studies
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Maria Felisya Simarmata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dipuji dengan kata kata seperti, "Wah, kamu keliatan cantik banget hari ini," entah kenapa rasanya nggak enak, padahal secara teknis itu pujian? Atau mungkin kamu sendiri pernah nulis sesuatu yang kamu pikir positif, tetapi ternyata orang yang menerimanya diam saja dengan ekspresi yang ambigu? Selamat, kamu baru saja berkenalan dengan backhanded compliment, salah satu bentuk komunikasi paling licik yang justru berkembang pesat di era media sosial.

Sederhananya, backhanded compliment adalah kalimat yang bentuknya pujian, tapi isinya menyimpan kritik, perbandingan, atau rasa superioritas yang terselubung. Contohnya bertebaran di mana-mana: "Ih, badan ku seperti kamu, tapi aku ga percaya diri," atau "Definisi cantik ngga harus putih," atau yang klasik, "Kamu cantikan di foto ya." Terdengar manis? Mungkin. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dada orang yang menerimanya, dan perasaan itu valid.
Yang bikin fenomena ini berbahaya adalah betapa normalnya ia terasa. Kita sudah begitu terbiasa membaca dan bahkan menulis komentar semacam ini sampai tidak lagi menyadari dampaknya. Seseorang yang menerima puluhan backhanded compliment mungkin tidak langsung merasa terluka, tapi efeknya menumpuk perlahan. Kepercayaan diri terkikis sedikit demi sedikit, dan yang lebih parah, si penerima mulai mempertanyakan apakah perasaan tidak nyamannya itu valid atau tidak. Di sinilah letak bahayanya, yaitu ketika luka terasa tapi tidak bisa dijelaskan, ia jauh lebih sulit untuk disembuhkan.
Pelaku backhanded compliment sendiri tidak selalu sadar bahwa mereka sedang melakukannya. Sebagian memang disengaja sebagai bentuk sindiran terselubung, tapi sebagian lagi benar-benar merasa sedang memuji. Budaya membandingkan yang sudah mengakar dalam interaksi sosial kita, baik di dunia nyata maupun digital, membuat kalimat-kalimat seperti ini keluar begitu saja tanpa filter. Dan justru karena itulah ia sulit diberantas. Kita tidak bisa menegur sesuatu yang pelakunya sendiri tidak merasa bersalah.
Fenomena ini semakin sulit dilawan karena strukturnya yang ambigu. Penerimanya terjebak dalam situasi yang serba salah, diam dan menelan ketidaknyamanan, atau bereaksi dan langsung dicap baper dan tidak tahu diri sudah dipuji. Di sinilah teori spiral of silence Elisabeth Noelle-Neumann menjadi relevan. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung memilih diam ketika merasa opininya tidak akan diterima oleh mayoritas. Dalam konteks backhanded compliment, korban memilih diam bukan karena setuju, tapi karena ruang bantah mereka sudah dirampas sejak awal. Bagaimana cara membela diri dari sebuah pujian? Siapa yang akan percaya bahwa kamu merasa dilukai oleh kata-kata yang secara permukaan terdengar baik? Pelaku tahu persis celah itu.
Di media sosial, kondisi ini bahkan lebih berat. Ketika sebuah komentar backhanded compliment mendapat banyak like dan balasan yang menganggapnya lucu atau wajar, korban semakin merasa sendirian. Ia tidak hanya berhadapan dengan satu orang, tapi dengan persepsi kolektif yang seolah memvalidasi si pelaku. Akibatnya, yang memilih diam bukan hanya korban langsung, tapi juga orang-orang lain yang sebenarnya ikut merasa tidak nyaman tetapi tidak berani bersuara karena takut dianggap lebay.
Lebih dari itu, backhanded compliment bekerja seperti alat pembingkai yang sangat halus. Dalam teori framing yang dikembangkan Entman (1993), cara sebuah pesan disusun menentukan bagaimana penerimanya memahami realitas, termasuk kenyataan tentang diri mereka sendiri. Ketika seorang kreator konten dipuji dengan kalimat, "Kontenmu bagus banget untuk yang baru mulai," ia secara tidak sadar menerima bingkai bahwa dirinya masih di level bawah, meskipun karyanya sebenarnya layak mendapat apresiasi tanpa syarat apa pun. Bingkai itu tertanam, dan lama-kelamaan membentuk cara ia memandang kemampuan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, ini bukan sekadar soal kalimat yang kurang bijak. Ini soal budaya digital kita yang terlalu sering mengemas kekerasan dalam bungkus yang terlihat sopan dan bahkan menghibur. Kita tertawa pada komentar-komentar ambigu itu, merepostnya sebagai konten receh, dan melanjutkan hari tanpa menyadari bahwa di balik layar ada seseorang yang sedang bertanya-tanya apakah dirinya memang hanya "lumayan."
Sudah saatnya kita lebih jujur dengan diri sendiri. Apakah komentar yang kita tulis benar-benar bertujuan mengapresiasi, atau sebenarnya hanya cara kita merasa lebih tinggi tanpa harus mengakuinya secara terang-terangan? Karena pujian yang tulus tidak butuh tolak ukur, tidak butuh pengecualian, dan tidak meninggalkan rasa mengganjal di pikiran orang yang menerimanya. Kekerasan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang lewat notifikasi, berbalut emoji hati, dan kalimat yang secara teknis adalah sebuah pujian.
