Mikroplastik di Pelabuhan Serangan: Ancaman Kecil di Balik Riuh Laut Bali

saya adalah mahasiswa Fakultas Pertanian Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa Pogram studi Manajemen Sumberdaya Perairan,
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Maria Bernadina Bhau Keu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pelabuhan Serangan di Bali tak pernah benar-benar sunyi. Perahu nelayan datang dan pergi, tali tambat saling berkelindan, mesin kapal berdengung, dan wisatawan berlalu-lalang menikmati wajah laut yang tampak tenang. Namun di balik hiruk-pikuk aktivitas pesisir itu, laut menyimpan kisah lain, kisah tentang partikel-partikel kecil yang nyaris tak terlihat, tetapi membawa ancaman nyata "mikroplastik".
Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Ia lahir dari pecahan plastik besar yang tergerus waktu dan ombak, atau sejak awal memang diciptakan dalam ukuran mikro. Terlalu kecil untuk ditangkap mata, tetapi cukup berbahaya untuk masuk ke tubuh makhluk laut dan perlahan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Jejak Tak Terlihat di Permukaan
Penelitian lapangan di perairan permukaan Pelabuhan Serangan pada tanggal 16 juli 2025, mengungkap bahwa laut di kawasan ini telah terkontaminasi mikroplastik. Meski air tampak jernih, hasil uji pengamatan laboratorium membuktikan bahwa partikel plastik telah menyatu dengan tubuh laut.
Menariknya, seluruh mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat (fiber) partikel panjang dan tipis menyerupai benang halus. Serat-serat ini bukan datang tanpa sebab. Ia diduga berasal dari jaring dan tali nelayan yang aus, serat pakaian sintetis yang terlepas saat pencucian, limbah domestik, hingga peralatan kapal dan aktivitas pelabuhan.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memang menghadapi persoalan besar dalam pengelolaan sampah plastik. Dari daratan, plastik terbawa hujan dan sungai menuju laut. Di kawasan pelabuhan seperti Serangan, tekanan itu bertambah dari aktivitas perikanan, transportasi laut, dan pariwisata yang terus bergerak tanpa henti.
Angka yang Bercerita
Ukuran mikroplastik yang ditemukan bervariasi dari partikel sangat kecil hingga mendekati batas maksimum mikroplastik. Meski jumlahnya tidak tergolong tinggi, justru partikel berukuran kecil inilah yang paling mengkhawatirkan. Semakin kecil ukurannya, semakin mudah ia tertelan oleh organisme laut.
Perhitungan menunjukkan bahwa kelimpahan mikroplastik di perairan Pelabuhan Serangan mencapai 104 partikel per meter kubik air. Angka ini menjadi penanda bahwa laut di kawasan ini tidak lagi sepenuhnya bersih, meski ancamannya tersembunyi.
Ketika Plastik Menjadi Racun
Mikroplastik bukan sekadar serpihan tak berguna. Permukaannya dapat menjadi “kendaraan” bagi zat berbahaya seperti logam berat, timbal, merkuri, kadmium serta senyawa kimia beracun lainnya. Saat tertelan organisme laut, zat-zat ini dapat dilepaskan ke dalam jaringan tubuh, meningkatkan risiko keracunan dan gangguan fisiologis.
Lebih jauh lagi, mikroplastik bergerak mengikuti rantai makanan. Ia masuk ke tubuh plankton, berpindah ke ikan kecil, lalu mencapai ikan konsumsi manusia. Proses ini perlahan membangun ancaman terhadap keamanan pangan laut dan kesehatan manusia di masa depan.
Pelabuhan Kecil, Risiko Nyata
Jika dibandingkan dengan pelabuhan besar seperti Benoa, jumlah mikroplastik di Pelabuhan Serangan memang relatif lebih rendah. Namun dominasi partikel berukuran kecil menunjukkan satu hal penting bahkan pelabuhan skala kecil pun tidak kebal terhadap pencemaran mikroplastik.
Laut tidak mengenal batas administratif. Aktivitas manusia, sekecil apa pun, meninggalkan jejak. Dari sudut pandang ekotoksikologi, mikroplastik adalah polutan aktif ia mampu menimbulkan dampak biologis, meski hadir dalam ukuran yang nyaris tak kasat mata.
Ancaman bagi Kehidupan Laut
Mikroplastik mudah tertelan oleh fitoplankton, zooplankton, larva ikan, moluska, hingga ikan kecil. Di dalam tubuh, partikel ini dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan, menurunkan nafsu makan, menghambat pertumbuhan, bahkan mengganggu reproduksi. Dampak-dampak kecil ini, jika terakumulasi, berpotensi menggoyahkan keseimbangan ekosistem laut secara keseluruhan.
Menjaga Laut dari Ancaman Sunyi
Kehadiran mikroplastik di Pelabuhan Serangan mengingatkan kita bahwa pencemaran laut tidak selalu tampak sebagai tumpukan sampah di pantai. Ada ancaman sunyi yang mengalir bersama air, masuk ke tubuh organisme, dan perlahan merambat hingga ke meja makan manusia.
Pengelolaan limbah plastik yang lebih baik, pengawasan aktivitas pelabuhan, serta edukasi masyarakat pesisir dan pelaku pariwisata menjadi langkah penting untuk menjaga laut tetap bernapas lega.
Mikroplastik mungkin kecil ukurannya, tetapi dampaknya besar. Menjaga laut dari plastik berarti menjaga kehidupan hari ini, dan untuk generasi yang akan datang.
Maria Bernadina Bhau Keu, Mahasiswa Manajemen Sumber daya Periaran UNWAR
