Konten dari Pengguna

Kiprah ASN Menyulap Sampah Jadi Berkah

m

marifakansa

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari marifakansa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengelolaan sampah masih menjadi persoalan besar di Kota Tegal, Jawa Tengah. Hal inilah yang menggerakkan saya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Tegal untuk turun tangan. Diantara rutinitas kehidupan sehari-hari sebagai ASN, ada satu kegiatan yang sangat saya senangi melakukan penghijauan dengan menanam dan merawat tanaman di manapun. Saya juga belajar menerapkan kehidupan yang ramah lingkungan dengan melakukan pemilahan dan pengolahan sampah di rumah.

Kegiatan penghijauan dan pengolahan sampah ini saya lakukan dengan harapan lingkungan menjadi semakin hijau, aman dan nyaman untuk ditinggali.

Terlebih data Kota Tegal menunjukkan timbulan sampah terus meningkat dari 92,25 ton per hari pada 2025 dan diproyeksi mencapai 176,69 ton per hari pada 2029.

Harapan yang sepertinya susah terwujud jika tidak dilakukan serentak bergerak, terstruktur dan masif oleh masyarakat dan pemerintah sebagai elaborator dan fasilitator.

Pengelolaan sampah mendapat angin segar setelah Wali Kota Tegal Dedy Yon Supiyono meluncurkan gerakan bertajuk “Gropyokan Mberesi lan Nangani Sampah” pada 30 April 2026.

Gropyokan artinya bekerja bersama mengerjakan satu kegiatan. Jadi maksud dari gerakan ini adalah bekerja bersama untuk menyelesaikan dan mengatasi permasalahan persampahan. Tujuannya untuk mengatasi permasalahan darurat sampah di Kota Tegal sekaligus mensukseskan program Indonesia Aman, Sehat, Resik dan Indah (ASRI) dari Presiden Prabowo Subianto.

Data menunjukkan sampah di Kota Tegal didominasi sisa makanan, yang mencapai 42,99% dari total komposisi sampah. Berikutnya, sampah plastik sebesar 16% dan kertas/karton 0,64%, sementara jenis sampah lainnya mencapai 40,37%.

Dari sisi sumber, rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 61,52%. Sampah dari sektor komersial menyumbang 17,97%, sementara pasar sebesar 2,89% dan sumber lainnya 17,62%.

Artinya, pengelolaan sampah Kota Tegal paling besar harus menyasar rumah tangga, terutama sampah sisa makanan dan plastik.

Untuk mempercepat kesuksesan Gropyokan Mberesi lan Nangani Sampah, semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diharuskan menjadi Bapak Asuh bagi 27 kelurahan yang ada di wilayah Kota Tegal. Mereka didampingi sekolah negeri seperti SMP dan SMA.

Bapperida bersama dengan SMA Negeri 2 Kota Tegal menjadi Bapak Asuh kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat Kota Tegal, sebuah wilayah yang cukup berat tantangannya. Selain wilayahnya yang sering terkena rob air laut, kelurahan Muarareja cukup tertinggal dari kelurahan lain dalam hal pengelolaan sampah. Apalagi sebelum 2024, Tempat Pembuangah Akhir (TPA) Kota Tegal berada di wilayah kelurahan Muarareja.

Sebelum bergerak di wilayah binaan, semua OPD dan pegawainya diharuskan mempraktekan pengolahan sampah terlebih dahulu di rumah dan kantor.

OPD juga menunjuk tiga staf sebagai Agen Perubahan. Di Bapperida Kota Tegal, saya ditunjuk menjadi salah satu agen perubahan bersama dua rekan lainnya. Kami bertiga diberi pelatihan mengenai pengolahan sampah dari mulai memilah, mengompos, membuat dan memanfaatkan molase dan eco enzyme. Setelah itu kami harus mensosialisasikan dan mengedukasi pengolahan sampah baik dengan sesama ASN di Bapperida maupun di Kelurahan Muarareja sebagai wilayah binaan.

Bapperida Kota Tegal melaunching gerakan bertajuk “MUARAREJA BERKAH” pada 21 Mei 2026. Gerakan ini artinya Kelurahan Muaraeja bareng Bapperida dan SMADA Kelola Sampah di Pendopo Kelurahan Muarareja. Gerakan “MUARAREJA BERKAH” didorong dengan inovasi 5G yaitu, Gampil, Gampang, Gabung, Guyun dan Gas Pak Eko, artinya sebagai berikut:

- Gampil : Gerakan ambil dan pilah sampah sesuai jenisnya;

- Gampang : Gerakan merubah sampah jadi uang;

- Gabung : Gerakan gak ada sisa makanan dibuang;

- Guyub : Gerakan budaya cinta lingkungan hidup; dan

- Gas Pak Eko : Gerakan menggunakan sampah organik sebagai pakan ternak, kompos dan eco enzyme.

Dalam kurun waktu bulan Mei sampai dengan bulan Juli, saya dan Tim Muarareja Berkah (Bapperida, SMA 2, Kelurahan Muarareja dan pendamping dari Dinas Lingkungan Hidup) melakukan sosialisasi dan edukasi program Gropyokan Mberesi lan Nangani Sampah dan “5G Muarareja Berkah” di pertemuan RT, RW, kelompok pengajian dan perkumpulan warga lainnya.

Kami melakukan sosialisasi pengolahan sampah organik menggunakan komposter sederhana yang dibuat sendiri oleh Tim Muarareja Berkah untuk mengurangi sebanyak mungkin sampah organik ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sosialisasi dilakukan pada pagi, siang bahkan kadang hingga malam

.

Pimpinan dan pegawai Bapperida bahkan iuran bersama untuk kesuksesan Muarareja Berkah.

Untuk sampah anorganik, kami menghimbau dan memberi edukasi kepada warga untuk lebih giat dan rajin mengumpulkan sampah organik untuk dijual/disumbangkann ke bank sampah atau pemulung. Setelah sosialisasi dan edukasi, Tim Muarareja Berkah melakukan monitoring dan evaluasi ke rumah-rumah warga untuk memastikan agar kegiatan 5G Muararje Berkah benar-benar dijalankan oleh warga Kelurahan Muarareja.

Semua perjuangan ini akhirnya mendapatkan hasil yang menggembirakan Tim Muarareja Berkah. Saat evaluasi oleh Wali Kota Tegal pada 16 Juii 2026, Bapperida mendapatkan penghargaan sebagai Juara 1 kategori kantor terASRI program Gropyokan Mberesi lan Nangani Sampah. Tak hanya itu, wilayah Muarareja juga menjadi Juara 2 Lomba Lontrong ASRI yang diadakan oleh Pemerintah Kota Tegal pada 31 Agustus 2026.

Sampah mungkin tak pernah habis. Namun, harapan untuk mengelolanya dengan lebih baik juga tidak boleh habis. Dari Muarareja, gerakan kecil itu kini menjadi bukti bahwa ketika pemerintah dan warga bergerak bersama, sampah pun bisa berubah menjadi berkah.