Konten dari Pengguna

Statistika Kemanusiaan: Mereka yang terhitung, tetapi tidak diperhitungkan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mario Rosario Wisnu Aji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kesalahan data Desil. Generated with ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kesalahan data Desil. Generated with ChatGPT

Sebelum matahari benar-benar naik dan jalanan mulai ramai, Pak Arman sudah lebih dulu berhadapan dengan hitungan sederhana: berapa uang yang tersisa, berapa kebutuhan yang harus dibayar, dan berapa banyak hari yang masih harus dilalui sebelum penghasilan berikutnya datang. Di atas bangku kayu tua di depan rumahnya, ia menghitung lembaran rupiah hasil menjual gorengan kemarin. Tidak banyak. Cukup untuk menjaga dapur tetap mengepul, tetapi tidak cukup untuk membuatnya merasa aman. Hidupnya berjalan seperti roda gerobaknya: terus berputar, tetapi tidak pernah benar-benar berpindah jauh.

Bertahun-tahun ia menjalani pola yang sama. Rumahnya tetap sederhana. Gerobaknya tetap menjadi sumber penghidupan utama. Harga kebutuhan terus bergerak naik, sementara pendapatannya berjalan tertatih-tatih mengejar ketertinggalan. Ketika anaknya sakit, ia mencari pinjaman. Ketika harga minyak goreng naik, ia mengecilkan ukuran gorengan. Ketika kebutuhan datang bersamaan, ia belajar satu keterampilan yang tidak pernah diajarkan di sekolah: memilih kesulitan mana yang harus dihadapi terlebih dahulu.

Lalu suatu hari, sebuah kabar datang melalui sebuah sistem: Pak Arman tidak lagi tercatat sebagai kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan. Di dalam sistem, namanya berpindah ke desil yang lebih tinggi. Bagi sistem, Pak Arman mengalami perubahan. Namun bagi kehidupannya, tidak ada yang berubah. Atap rumahnya masih bocor, gerobaknya masih sama, dan isi dompetnya masih sering membuatnya berhitung panjang sebelum membeli sesuatu. Hanya satu yang berubah: posisinya dalam sebuah tabel.

Pak Arman mendengar bahwa data itu dapat disanggah. Tetapi untuk menyanggah sebuah angka, ia harus meluangkan waktu yang bahkan tidak ia punya. Baginya, mengurus administrasi adalah kemewahan yang sulit dijangkau ketika kebutuhan hari ini belum selesai. Ia bukan tidak peduli. Ia hanya terlalu sibuk bertahan hidup. Kisah Pak Arman adalah potret kecil dari persoalan besar: ketika kehidupan manusia mulai dipadatkan menjadi angka, dan angka mulai dianggap lebih nyata daripada manusia itu sendiri.

Celah Statistik

Belakangan muncul persoalan mengenai klasifikasi masyarakat berdasarkan desil kesejahteraan yang berasal dari data sosial ekonomi. Sistem ini bertujuan untuk memetakan kondisi masyarakat agar bantuan pemerintah dapat diberikan secara lebih tepat sasaran. Namun dalam praktiknya, muncul berbagai masalah ketika data tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Ada masyarakat yang masih berada dalam kondisi sulit justru masuk ke dalam kelompok desil yang dianggap lebih mampu. Akibatnya, mereka kehilangan akses terhadap bantuan yang seharusnya dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup.

Persoalan menjadi semakin rumit karena kesalahan data tersebut harus disanggah oleh masyarakat sendiri agar dapat diperbaiki. Ketika masyarakat tidak melakukan sanggahan, data tersebut dapat dianggap benar atau setidaknya digunakan sebagai klaim bahwa pihak bersangkutan tidak keberatan. Padahal, tidak semua masyarakat memiliki waktu, pengetahuan, atau akses informasi yang cukup untuk memahami mekanisme tersebut.

Banyak masyarakat Indonesia yang harus memprioritaskan pekerjaan sehari-hari. Bagi sebagian orang, mencari nafkah jauh lebih mendesak daripada membuka sistem pendataan, memeriksa status klasifikasi, lalu mengajukan keberatan administratif. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena tuntutan hidup membuat mereka tidak memiliki ruang untuk mengurus kesalahan yang terjadi dalam sistem.

Situasi ini menjadi berbahaya apabila kesalahan data tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa kondisi sosial telah membaik. Bisa saja angka menunjukkan jumlah masyarakat miskin berkurang, bukan karena kehidupan mereka benar-benar meningkat, tetapi karena sebagian dari mereka tidak lagi terlihat dalam data akibat kesalahan klasifikasi.

Di sinilah kita perlu berhati-hati dalam melihat angka. Kadang yang paling berbahaya bukan salah menghitung, tapi merasa semua yang bisa dihitung adalah yang paling penting. Statistik memang memiliki peran besar dalam kehidupan modern. Ia membantu pemerintah memahami kondisi masyarakat, membantu peneliti menemukan pola, dan membantu pembuat kebijakan menentukan langkah yang tepat. Namun statistik hanyalah alat, bukan realitas itu sendiri. Statistik mengajarkan kita untuk memahami populasi, bukan melupakan individu. Masalah muncul ketika manusia mulai dipaksa mengikuti angka, bukan angka yang digunakan untuk memahami manusia. Kita terlalu mudah merasa puas ketika indikator terlihat membaik, sementara pengalaman nyata masyarakat di lapangan belum tentu mengalami perubahan yang sama.

GDP bisa tumbuh, indeks bisa naik, dan kebijakan bisa disebut berhasil, sementara ada manusia yang tetap tertinggal di belakang angka-angka. Sebuah angka rata-rata tidak pernah mampu menceritakan seluruh kisah. Di balik penurunan angka kemiskinan, masih mungkin ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Di balik peningkatan indeks kesejahteraan, masih mungkin ada kelompok yang tidak merasakan perubahan apa pun.

Outlier Bernyawa

Dalam statistik, kita mengenal istilah outlier, yaitu data yang berbeda jauh dari pola umum. Dalam analisis tertentu, keberadaan outlier sering dianggap sebagai gangguan yang perlu diperiksa atau bahkan dihilangkan agar hasil penelitian lebih stabil. Namun dalam kehidupan manusia, seseorang yang berada di luar pola bukanlah gangguan yang boleh dihapus. Sebab satu nyawa “outlier” tetap berarti seluruh dunia bagi seseorang.

Seorang pekerja yang kehilangan pekerjaan ketika angka pengangguran nasional turun tetap menghadapi kenyataan yang berat. Seorang keluarga miskin yang kehilangan bantuan akibat kesalahan pendataan tetap mengalami kesulitan, meskipun secara statistik mereka dianggap tidak lagi berada dalam kelompok miskin. Inilah batas dari angka. Data dapat membantu manusia melihat pola, tetapi data tidak memiliki kemampuan untuk merasakan penderitaan yang dialami manusia. Data memang membantu kita mengambil keputusan. Tapi data tidak pernah ikut merasakan kehilangan. Data tidak merasakan bagaimana rasanya seorang ibu harus mengurangi porsi makan agar anaknya bisa makan lebih banyak. Data tidak memahami kecemasan seseorang ketika bantuan yang selama ini menopang hidupnya tiba-tiba hilang. Data tidak mengetahui perjuangan seseorang yang tidak sempat memperbaiki kesalahan administrasi karena harus bekerja setiap hari.

Oleh karena itu, angka harus selalu dikawal oleh empati. Kebijakan yang baik bukan hanya kebijakan yang menghasilkan angka positif, tetapi kebijakan yang memastikan bahwa manusia di balik angka tersebut benar-benar mengalami perubahan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang berapa banyak angka yang naik atau turun. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang masih tertinggal ketika angka-angka itu dirayakan? Karena angka dapat naik tanpa suara, grafik dapat bergerak tanpa rasa, dan tabel dapat terlihat sempurna tanpa mengetahui siapa yang tersisih di dalamnya. Sebab tragedi terbesar sebuah sistem bukan ketika ia gagal menghitung manusia. Tragedi terbesar adalah ketika ia berhasil menghitung mereka, tetapi berhenti memahami kemanusiaannya.