Pencarian populer
USER STORY
19 Maret 2019 16:55 WIB
..
..

Memperjuangkan Pendidikan Berkelanjutan bagi Anak TKI di Malaysia

Kondisi CLC di perkebunan kelapa sawit di Sarawak (Dok: Volunteerism Teaching Indonesian Children/VTIC)

Jika minggu lalu saya menuliskan aspek kronologis pendirian Community Learning Center (CLC) atau Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) bagi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, khususnya di Negara Bagian Sarawak, maka minggu ini saya akan membahas pentingnya mendirikan dan menambah CLC bagi anak-anak TKI di Malaysia.

Saya juga akan membahas apakah CLC yang telah ada dapat menjawab kebutuhan pendidikan dasar anak TKI.

Hingga saat ini, belum ada data akurat mengenai berapa jumlah anak TKI di Sarawak, namun diperkirakan ada sekitar 20.000 anak TKI di ladang-ladang kelapa sawit di Sarawak, Malaysia. Sedangkan hingga saat ini baru terdapat 54 CLC yang dapat menampung 2.010 anak, dan belum semua berstatus sebagai CLC terdaftar di Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak.

Upacara Bendera di CLC (Dok: Volunteerism Teaching Indonesian Children/VTIC)

Dapat dikatakan bahwa jumlah CLC yang ada belum memadai untuk menampung perkiraan 20.000 anak TKI di Sarawak. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, CLC yang diakui dan diperbolehkan oleh Pemerintah Negara Bagian Sarawak hanya untuk pendidikan dasar atau tingkat Sekolah Dasar (SD). Lantas, bagaimana kelanjutan pendidikan anak-anak TKI tersebut?

Pendirian dan penambahan CLC menjadi begitu penting karena jumlah yang ada belum mencukupi dan hanya sampai tingkat SD. Tapi apakah hanya itu permasalahannya? Dan apakah CLC yang sudah ada dapat dikatakan berkelanjutan?

Jawabannya adalah tidak. Permasalahan pendidikan anak TKI tidak akan selesai hanya dengan mendirikan CLC, dan jika CLC hanya diberikan sampai tingkat pendidikan dasar, maka CLC belum dapat dikatakan sebagai solusi yang berkelanjutan.

Pertanyaan atau permasalahan yang lebih mendasar sebenarnya terletak pada status dan identitas anak-anak TKI di ladang. Sebagaimana dijelaskan pada tulisan sebelumnya, menurut undang-undang Malaysia, pekerja asing tidak diperbolehkan membawa keluarga atau berkeluarga (termasuk memiliki anak) selama bekerja di Malaysia.

Ini adalah salah satu penyebab anak-anak TKI pada umumnya kesulitan mendapatkan dokumen. Kelahiran anak-anak ini, baik dari orang tua yang berdokumen maupun tidak, tetap akan membuat sulit pengurusan dokumen dan izin tinggal atau visa. Hal ini diperburuk dengan kenyataan bahwa kebanyakan pernikahan orang tua atau para TKI di ladang tidak masuk dalam pencatatan sipil.

Kondisi tersebut kemudian menghasilkan masalah yang lebih parah, yaitu munculnya anak-anak yang stateless (tidak berkewarganegaraan) akibat ketiadaan paspor dan izin tinggal orang tuanya serta pernikahan yang tidak tercatat. Kemudian timbulah masalah besar lainnya yaitu anak yang tidak berdokumen atau stateless ini lantas menyulitkan mereka untuk mengakses pendidikan karena mereka tidak dapat mendaftar sekolah.

Anak-anak TKI yang tidak bersekolah kemudian akan menciptakan masalah berikutnya, yakni fenomena pekerja anak di bawah umur (child labour) dan pernikahan anak di bawah umur. Kalau diibaratkan, kita dapat melihatnya sebagai lingkaran setan yang tidak ada putusnya.

Lingkaran Setan Masalah Anak TKI di Sarawak

Selain itu, ada satu hal penting yang juga perlu mendapatkan perhatian dalam mengatasi masalah pendidikan bagi anak TKI, yakni paradigma para orang tua. Di kebun, masih banyak orang tua yang memiliki pola pikir bahwa anak-anak mereka adalah aset dan dengan demikian dapat menambah penghasilan bagi keluarga jika mereka juga bekerja di perkebunan.

Ini adalah alasan mengapa lulusan CLC tidak benar-benar memiliki pilihan untuk melanjutkan studi mereka. Orang tua mereka masih berpikir, untuk apa membayar biaya pendidikan lanjutan jika anak-anak mereka dapat dipekerjakan di perkebunan sehingga mereka mendapatkan penghasilan tambahan untuk keluarga.

Dari penjabaran di atas, kita dapat melihat bahwa keberadaan CLC sangat dibutuhkan dan keberlanjutan pendidikan lulusan CLC juga merupakan hal yang penting. Mengharapkan Pemerintah Malaysia untuk membolehkan pendidikan lanjut hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau bahkan Sekolah Menengah Atas (SMA) jelas merupakan pilihan yang sulit dicapai karena proses negosiasinya akan sangat panjang.

Selain itu, berapa banyak dana yang harus digelontorkan untuk mendirikan SMP dan SMA di Sarawak? Tentu hitungannya menjadi terlalu besar dan perlu pengkajian apakah solusi ini akan berkelanjutan.

Sekolah Garis Batas sebagai Solusi Pendidikan Berkelanjutan bagi Anak TKI di Sarawak

Lantas apa yang dapat menjadi solusi bagi terpenuhinya pendidikan berkelanjutan untuk anak-anak TKI? Pengalaman saya menangani masalah anak TKI di Sarawak dan sebagai lulusan sekolah berasrama menjadi dasar saya untuk menyampaikan usulan didirikannya Sekolah Garis Batas (SGB) sebagai solusi pendidikan berkelanjutan bagi anak TKI di Sarawak, Malaysia.

Pendirian SGB bukan berarti membangun gedung sekolah baru di sepanjang perbatasan darat antara Sarawak dan Kalimantan Barat serta Kalimantan Utara.

Konsep SGB bukan untuk membangun lebih banyak sekolah di perbatasan, tetapi membangun asrama di sekitar sekolah yang telah ada di daerah perbatasan sehingga bisa menjadi sekolah asrama di mana orang tua dapat menitipkan anak-anak mereka. SGB diperlukan untuk menampung lulusan CLC dari Sarawak yang akan melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA.

Dengan menyekolahkan lulusan CLC di SGB, maka para orang tua telah mempersiapkan anak-anak untuk mengenali dan beradaptasi dengan budaya Indonesia yang mungkin tidak mereka ketahui di perkebunan.

Dengan cara ini anak-anak dapat dipulangkan kembali ke Indonesia dan mereka dapat memiliki lebih banyak pengetahuan tentang Indonesia. Anak-anak akan mandiri dan pengalaman di asrama dapat membuat mereka memiliki lebih banyak pilihan dan kemungkinan untuk melanjutkan studi atau bekerja di Indonesia.

Belajar bersama di CLC Bukit Paninjau (Dok: KJRI Kuching)

SGB yang terletak di sekitar perbatasan antara Sarawak dan Kalimantan Barat serta Kalimantan Utara ini juga akan memudahkan para orang tua (TKI) untuk datang dan menjenguk anak mereka yang sedang menempuh pendidikan lanjutan. Iklim alam, kondisi geografis, dan budaya yang tidak berbeda jauh dengan kondisi serta budaya di Sarawak juga akan memudahkan anak-anak dalam beradaptasi.

Pada intinya dengan pendidikan yang lebih dari sekolah dasar, anak-anak TKI akan memiliki masa depan yang lebih baik karena mereka akan terekspos pada pilihan dan kemampuan yang lebih baik dari orang tua mereka.

Pendidikan hingga SMA atau bahkan universitas akan membuka wawasan mereka dan menjadi bekal daya saing untuk mencari pekerjaan di dalam negeri. Selain itu, jika mereka pun ingin bekerja di luar negeri maka mereka tidak harus bekerja sebagai buruh dengan penghasilan rendah akibat rendahnya pendidikan mereka.

Semoga tulisan ini dapat menjadi catatan dan masukan untuk perencanaan pendidikan yang berkelanjutan bagi anak-anak TKI lulusan CLC di Sarawak, Malaysia.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: