kumparan
KONTEN PENGGUNA
10 Maret 2019 22:33

Ratu Kalinyamat: Perempuan Pejuang Nusantara dari Jepara

large-ratu-kalinyamat-c53bc71c1ecd902f396291170314eafd (2).jpg
ilustrasi Ratu Kalinyamat. Sumber foto: istimewa
Bertepatan dengan hari Perempuan Internasional tanggal 8 Maret lalu, saya ingin mencoba mengulas tokoh perempuan yang berjaya di masa kegemilangan Nusantara berabad lalu sebelum kemerdekaan Indonesia.
ADVERTISEMENT
Karena melihat ke belakang adalah sesuatu yang diperlukan untuk maju dan merencanakan langkah ke depan, maka itulah yang ingin saya lakukan saat ini dengan menceritakan kembali tokoh pejuang perempuan yang hebat dan gagah perkasa memimpin bangsanya, menorehkan perubahan bagi kaumnya, bahkan berperang melawan penjajah yang pada masanya dianggap lebih maju dari kerajaan di Nusantara.
Kita awali dengan deretan beberapa perempuan yang menjadi tokoh penting dalam perjalanan pra kemerdekaan (sejak abad ke-6 hingga 19): Tribhuwana Wijayatunggadewi dari Kerajaan Majapahit, Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga, Sri Isyana Tunggawijaya dari Kerajaan Medang, Ratu Kalinyamat dari Jepara, Sultanah Syah Alam Barisyah dari Kerajaan Perlak, Sultanah Nahrasiyah dari Kerajaan Samudra Pasai, Laksamana Malahayati dari Aceh, Sultanah Safiatuddin dari Aceh, Nyi Ageng Serang dari Banten, Martha Christina Tiahahu dari Maluku, Cut Nyak Dien dari Aceh, Siti Aisyah We Tenriolle dari Tanete/Bugis, Raden Ajeng Kartini dari Rembang, Dewi Sartika dari Bandung, Roehana Koeddoes dari Sumatra Barat, Rahmah El-Yunusiyah dari Sumatra Barat, Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) dari Banyuwangi, H.R. Rasuna Said dari Sumatra Barat, dan masih banyak tokoh perempuan lainnya yang lain.
ADVERTISEMENT
Saya tidak akan menceritakan semua tokoh di atas secara detail, dengan tujuan agar pembaca terdorong untuk mencari tahu sendiri. Pada intinya, ratu-ratu perempuan pada abad 6 hingga masa penjajahan Belanda dan Jepang, mencatatkan kepemimpinan yang gemilang, eksepsional, dan dikenang oleh bangsanya maupun bangsa lain. Ada juga tokoh yang bukan ratu/tidak memimpin kerajaan namun gagah perkasa memimpin peperangan melawan penjajah.
Selain itu, banyak tokoh pejuang perempuan yang bergerak di bidang pendidikan bagi kaum perempuan yang pada masa sebelum kemerdekaan masih belum mendapatkan hak untuk mengenyam pendidikan. Tercatat dalam sejarah, semua tokoh perempuan tersebut menjadi bukti bahwa perempuan juga dapat memimpin, membina, menginspirasi, dan membangun masyarakat seperti halnya laki-laki.
Saya ingin mengajak pembaca fokus pada seorang tokoh bernama Ratu Kalinyamat atau Retna Kencana yang terkenal bahkan dituliskan kejayaannya oleh bangsa Portugis dengan julukan/gelar dalam Bahasa Portugis Rainha de Japara, Senhora Poderosa e Rica, de Kranige Dame (Ratu Jepara, seorang perempuan yang kaya raya dan berkuasa, seorang perempuan yang gagah berani).
ADVERTISEMENT
Julukan tersebut diberikan dan ceritanya dituliskan karena Ratu Kalinyamat pada masa kepemimpinannya di Jepara pada abad ke-16 (1549 – 1579) beberapa kali memimpin perang melawan penjajah, tidak hanya di Nusantara, tetapi juga di Malaka, Malaya (bersama Kesultanan Johor) dengan menyiapkan kapal perang dan armadanya sendiri.
Kedigdayaannya dikenang tidak hanya oleh bangsanya dan bangsa penjajahnya, tetapi juga oleh kerajaan-kerajaan lain yang meminta bantuannya. Dalam masa kepemimpinannya, Ratu Kalinyamat dapat dikatakan Ratu yang melampaui jamannya karena berhasil membawa Jepara menjadi lebih aman dan terbebas dari ancaman bangsa manapun.
Jepara kala itu merupakan kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut yang kuat. Ratu Kalinyamat selaku Bupati mengembangkan Jepara dengan menguatkan sektor perdagangan dan angkatan laut. Di masa pemerintahannya, Jepara menjadi poros perdagangan maritim antara Bali, Maluku, Banjarmasin, dan Demak. Selain itu, hubungan pertahanan terjalin dengan Johor, Aceh, Demak, dan Maluku. Sang Ratu juga memiliki pengaruh yang kuat di bidang politik dan militer. Ia beberapa kali diminta untuk membantu kerajaan lain untuk melawan Portugis.
ADVERTISEMENT
Pertama pada tahun 1550 ketika Kesultanan Johor mengirimkan surat permintaan bantuan untuk bergabung bersama Persekutuan Melayu melawan Portugis di Malaka. Ketika itu sang Ratu memerintahkan panglimanya untuk mengirimkan 40 kapal perang dan 4.000 tentara untuk bergabung dalam perang melawan Portugis. Berikutnya pada tahun 1565 Ratu turut mengirimkan pasukan untuk membantu Kerajaan Tanah Hitu di Maluku yang diserbu Portugis.
Selanjutnya Ratu Kalinyamat sekali lagi turut melawan Portugis di Malaka pada tahun 1572, kali ini atas permintaan Sultan Aceh Ali Riayat Syah. Armada Jepara kala itu terdiri dari 300 kapal layar, termasuk 80 kapal berukuran sangat besar, dengan total jumlah 15.000 prajurit.
Menurut sumber sejarah kerajaan yang dituliskan dalam Babad Tanah Jawi, Ratu Kalinyamat adalah putri tertua dari Sultan Trenggana dari Demak. Sang Sultan menyiapkan anaknya dalam beragam bentuk keutamaan dalam menjadi putri raja, ahli keagamaan, kanuragan, dan pemerintahan.
ADVERTISEMENT
Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangeran Hadirin (Pangeran Thoyib dan Kerajaan Melayu Aceh) dan keduanya pernah dijadikan utusan Sultan Demak untuk beraliansi dengan Banten untuk berekspansi ke Jawa Timur melalui kota pelabuhan Jepara. Pangeran Hadirin tewas oleh anak buah Arya Penangsang (salah satu pihak yang memperebutkan tahta Kerajaan Demak sepeninggal Sultan Trenggana ayah Ratu Kalinyamat).
ratu kalinyamat festival 2013.jpg
Ratu Kalinyamat diwujudkan dalam Festival Budaya Jepara tahun 2013. Sumber foto: http://tovexs.blogspot.com/2013/04/jepara-cultural-festival-2013-jcf.html
Secara kebangsaan, sedikit kisah tentang Ratu Kalinyamat ini dapat memberikan harapan dan keyakinan bahwa Indonesia dapat meraih kembali kejayaan maritim seperti masa Ratu Kalinyamat dahulu. Pernyataan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai Global Maritime Fulcrum (Poros Maritim Dunia) bukanlah tidak mungkin bila kita melihat bagaimana kedigdayaan Jepara pada masa lalu.
Ratu Kalinyamat telah menjadikan Jepara sebagai pusat industri galangan kapal, baik kapal dagang maupun kapal perang, dan memegang peran penting dalam hubungan diplomasi maritim dengan kerajaan lain di Nusantara hingga Malaya.
ADVERTISEMENT
Pada tataran personal, Ratu Kalinyamat digambarkan sebagai sosok yang cerdas, tegas, dan cantik. Sosok tersebut terlihat dalam profesionalisme kepemimpinan bangsanya meskipun dalam menjalani semua itu ia telah ditinggal suaminya yang tewas sebelum ia menjadi ratu. Ratu Kalinyamat menunjukkan bahwa perempuan yang diberikan kesempatan untuk berkembang dan meningkatkan diri, maka ia juga dapat memiliki kemampuan, kebijaksanaan, dan kehandalan memimpin setara dengan raja/pemimpin laki-laki.
Ketokohan perempuan nusantara dapat dijadikan landasan kemajuan bangsa Indonesia dan kaum perempuan pada khususnya, yang menjadikan kita bangsa merdeka seperti sekarang ini.
Atas peran dan jasanya kiranya sangat pantas jika Ratu Kalinyamat dipilih sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Hal ini bukan hanya untuk mengenang kejayaan tokoh Nusantara di abad ke-16, tetapi juga agar generasi muda, dapat meneladani sikap serta kepemimpinan beliau. Dan khususnya bagi kaum perempuan, penokohan Ratu Kalinyamat meniupkan semangat kesetaraan, yakni kesempatan membangun diri menjadi pemimpin yang handal, berani dan gagah perkasa.
ADVERTISEMENT
Sumber literasi:
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Ratu_Kalinyamat
  • https://serbasejarah.wordpress.com/2013/08/27/perempuan-pejuang-sejarah-para-perempuan-pejuang-di-nusantara/
  • Pattyradja, Bara. “Aku Adalah Peluru, Mahabbah Connie Rahakundini Bakrie dalam Jejak Peradaban Maritim”. Bogor: CRBook 2019.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan